Saturday, 21 November 2009

I'm a mom soon-to-be!

Wah, ternyata sudah lama juga ya tidak meng-update blog-ku ini. Maklumlah, bulan kemarin lagi sibuk-sibuknya persiapan pernikahan. Alhamdulillah pernikahannya berjalan lancar, baik akad nikah maupun acara resepsinya. Ternyata aneh juga tiba-tiba berubah status dari single menjadi seorang istri.... hehehe

anyway, aku dan suami memang sudah berencana tidak akan menunda kehamilan. Justru kita berdua semangat banget pingin punya momongan. Karena alasan itulah kita buat program intensif. Hihihihi.... nah, sebulan berlalu sudah dari sejak pernikahan kita dan aku mulai menghitung-hitung tanggal menstruasiku. Semakin mencurigakan ketika ingat tanggal aku menstruasi bulan lalu adalah tanggal 15 Oktober dan hingga sekarang aku belum haid juga.

awalnya sih cuek aja, cuma gejala yang aku rasakan pusing dan kembung hampir tiap hari! sampai-sampai bikin aku malas beraktivitas. Karena sudah tidak tertahankan lagi, aku minum tolak angin. Eeeh, dimarahin sama ibu mertua dan juga sama ipar-ipar. Mereka bilang bisa jadi itu tanda kalau aku hamil. Walaaaah! masa sih secepat itu?

Daripada penasaran tiap hari, dalam perjalanan ke kantor aku menyempatkan diri membeli testpack kehamilan di Century Arion Mall. Mbak penjaganya kooperatif banget deh, dia jelasin semua info tentang testpack-nya berikut cara pemakaiannya. Meskipun si mbak udah bilang paling bagus ngetes kehamilan menggunakan urine pertama di pagi hari, tetap saja aku bandel. Sesampainya di kantor, langsung aja aku gunakan testpack-nya. Hasilnya??? POSITIF! Duh, senangnya minta ampun, seharian senyum-senyum terus sambil megangin perut. Saking excited-nya, hasil testpack itu nggak aku buang. Jorok banget ya?

Malamnya, sebelum pulang dari kantor, aku iseng-iseng ngelirik testpack aku. LHOOOOO??? kok hasilnya berubah jadi negatif??? langsung panik deh, sambil mikir, ini beneran akurat apa nggak sih? kalau tenyata memang negatif, sedih banget rasanya. Akhirny aku mengambil keputusan. Aku akan beli testpack lagi untuk dipakai besok pagi, mungkin hasilnya berubah karena aku tidak pakai urine pertama di pagi hari. Untuk testpack yang kedua, aku beli yang merek "Sensitif". Kayanya merek ini merek yang cukup terkenal dan sering lihat iklannya. Apalagi dengan tulisan "99% akurat" semakin membuatku yakin membeli produk ini. Sepanjang perjalanan pulang, aku berdoa terus berharap agar hasilnya positif.

Esok paginya....

Bangun tidur, sebelum wudhu untuk shalat subuh, aku melakukan tes kehamilan yang kedua. Deg-degan menunggu hasilnya, daaaan....... muncul dua garis! tandanya POSITIF! Rasanya pingin jingkrak-jingkrak di kamar mandi saking senangnya. Dengan wajah bahagia, aku wudhu dan masuk ke kamar bersiap-siap untuk shalat subuh berjamaah dengan suami. Begitu masuk, aku langsung bisikin ke telinganya dan bilang "I'm pregnant!" aku tidak akan lupa ekspresi wajahnya ketika aku mengabarkan berita itu. Dia sama bahagianya dengan aku...

Gosh, I'm a mother soon-to-be!!!!

Sunday, 4 October 2009

Manfaat Tempe bagi Payudara


Manfaat tempe/ kedelai itu dapat merawat payudara?


BUKTI ilmiah bahwa kedelai bermanfaat bagi pencegahan penyakit kanker tampaknya terus berkembang. Kacang yang kaya akan kandungan protein ini diyakini memilik potensi besar melawan pertumbuhan kanker payudara, terutama jika dikonsumsinya sejak masa pubertas.

Para peneliti dari Georgetown Medical Center dalam laporan riset yang dimuat British Journal of Cancer menekankan bahwa para wanita ABG sebaiknya rajin mengonsumsi makanan terbuat dari kedelai jika ingin terhindar dari risiko kanker payudara. Dalam kedelai, menurut peneliti terkandung sejenis zat kimia penting bernama genistein yang diklaim efektif melawan kanker.

Walau begitu, tantangan besar masih dihadapi para peneliti dalam pemanfaatan zat genistein dalam kedelai ini. Mereka harus memastikan bagaimana kedelai ini dapat digunakan dengan tepat untuk menyediakan perlindungan bagi para wanita remaja dari penyakit yang ganas ini.


¨Penentuan waktu tampaknya penting dalam penggunaan makanan bioaktif ini dan jika kita bisa mengungkapkan mengapa zat ini dapat melindungi, maka kita bisa menyediakan pencegahan kanker payudaa dalam cakupan yang lebih luas,´ ungkap peneliti Leena Hilaviki-Clarke PhD, profesor onkologi dari Lombardi Comprehensive Cancer Center di Georgetown.

Walaupun ada berbagai teori sementara yang menjelaskan hubungan kedelai dengan pencegahan kenker. ¨Namun saat ini belum ada penjelasan yang meyakinkan tentang mengapa efek penurunan risiko kanker ini lebih kuat selama masa kanak-kanak dan awal pubertas,¨ tambahnya.

Sejauh ini, baru ada tiga riset yang meneliti manfaat kedelai pada masa pubertas serta pengaruhnya pada perkembangan kanker payudara tahap lanjut. Dua di antara penelitian ini difokuskan pada wanita Asia yang mengonsumsi kedelai dalam menu kesehariannya.

Riset-riset ini mengindikasikan bahwa kedelai menawarkan efek perlindungan yang sangat kuat - yakni sekitar 50 persen penurunan risiko kanker payudara - ketika dikonsumsi selama masa kanak-kanak dan awal remaja.

Menurut Hilakivi-clarke, bukti terkuat justru terungkap lewat berbagai riset pada tikus. Dari riset binatang ini, data mengenai paparan genistein pada masa pra pubertas sangat konsisten dalam menunjukkan penurunan risko kanker. Paparan genistein dalam perkembangan janin atau pun pada masa dewasa justru tidak menunjukkan dampak proteksi yang sama.

Pengujian lebih jauh pada tikus menunjukkan bahwa penggunaan genistein pada masa pubertas dapat menekan kadar TEB (terminal end buds) atau struktur yang menyebabkan pertumbuhan jaringan epitel mamari, dimana sel-selnya melapisi saluran susu, dan di dalam sel-sel epitelial inilah kanker payudara berkembang.

OK, anda sudah mulai paham kan makan tempe jauh lebih bermanfaat bagi anda! murah & sehat!

Yuk makan tempe! :)

Monday, 14 September 2009

Review - Body Scrub Bali Home Spa

Aku memang tidak bisa berhenti mencoba berbagai produk yang notabene mengklaim bisa mempercantik penggunanya (hehehe...). Bukannya karena aku merasa tidak cantik (aku cantik kok! narsis mode = ON) tapi lebih karena aku penasaran, apa iya produk itu benar-benar bisa mempercantik konsumennya.

Berhubung aktivitasku yang padat dan menyebabkan aku berkeringat (uuughh, badan jadi lengket, nggak enak deh), aku jadi sering mencoba produk-produk lulur atau body scrub. Begitu banyaknya produk lulur/body scrub, baik produksi luar maupun lokal, membuat aku penasaran untuk membandingkan satu sama lain. Akhirnya aku mencoba satu produk lokal dari Bali, namanya...
BODY SCRUB - BALI HOME SPA

From natural clay and Ylang-ylang extract. A refreshing and invigorating treatment formulated especially for your skin.
Tahu dari mana?
dari om Google (baik banget ya si om yang satu ini...^.^)

Beli di mana?
Beli online, dikirim langsung dari Bali. Sempat lihat juga ada yang jual di beberapa toko kosmetik tapi mereka tidak menjual varian yang aku mau beli.

Harganya?
IDR 13.5k

Target konsumen
Cewek, cowok, ibu, bapak, kakak, adik, pokoknya semua orang bisa pakai lulur ini.

Varian yang dibeli
Body Scrub Cellulite. Katanya sih bisa mengurangi selulit yang ada di tubuh, but I'm not sure...

Komposisi
100% natural! (cuma itu yang tertera di labelnya....)

Klaim produk
Bisa buat ngurangin selulit! OMG!


Cara pemakaian
kayanya kalau urusan lulur melulur nggak perlu dijelasin lagi pasti semuanya udah pada tahu ya? Tapi, kali aja ada yang belum pernah luluran sebelumnya, caranya gampang aja... Dalam keadaan kering, lulurnya langsung diolesin ke badan, tunggu sampai 10 menit lalu gosok perlahan sampai semua kotorannya (daki, red.) rontok. Setelah itu bilas dengan air hangat (itu petunjuk dari labelnya, kalau aku sih bilasnya pakai air biasa aja udah cukup kok).


Kesan setelah pemakaian
Hmm, jujur aku kecewa sama produk ini. Terutama sekali dalam hal merontokkan daki. Jauh banget dengan lulur Bali Sekar Jagat yang ngetop itu. Teksturnya sedikit lebih padat dibandingkan Lulur Sekar Jagat (sempat berpikir, kalau lebih padat pasti lebih oke), tapi ternyata setelah 10 menit dan digosok, yaaah... dakinya tidak rontok segampang dengan lulur Sekar Jagat. Karena bete, akhirnya aku cuma ngegosok bagian tangan, leher, dan punggung aja (itu pun juga udah cape banget! menguras tenaga sekali, tidak seperti lulur lainnya), bagian tubuh yang lain aku tinggalin dan langsung aku bilas.
Kekecewaan lain muncul setelah aku bilas, biasanya setelah pakai lulur, kulit akan terasa lembut, kenyal, dan moist... tapi dengan lulur ini yang ada badanku berasa lengket (apa karena bilasnya kurang bersih ya??), mungkin karena teksturnya yang cukup padat itu tapi nggak terlalu ngerontokin daki... capek deeh.... >.<

Selain itu, dari segi wanginya juga kurang oke. Maksudnya wanginya tidak bertahan lama, beda dengan lulur Sekar Jagat atau lulur lainnya. Kebetulan varian yang aku beli ini wanginya Ylang-ylang (alias kenanga), enak sih baunya, tapi ya itu dia, nggak tahan lama...
Karena sayang udah membeli produk ini dengan susah payah (dipaketin langsung dari Bali, bo!), aku masih berpikir positif tentang lulur ini dan mencoba menggunakannya lagi. Namun, setelah menggunakan produk ini 3x, akhirnya aku memutuskan penilaianku untuk produk ini...

My Review






Product: 3/5
Quality: 2.5/5
Packaging: 3/5
Price: 3/5
Overall: 2.8/5
Kelebihan:
  • Hmm, apa ya kelebihannya? mungkin aromanya aja kali ya yang cukup eksotik menurut aku...
Kekurangan:
  • Harganya, kalau dibandingkan sama lulur bali merek lain, lulur ini terhitung mahal!
  • Merek ini nggak sepopuler merek lulur bali lainnya, jadi cukup sulit mencari dan membelinya.
  • Setelah pemakaian, badan bukannya jadi enak tapi sebaliknya.
  • Gosok badannya mesti dengan segala daya dan upaya biar rontok semua dakinya (tiring enough).
Beli lagi atau nggak ya?
So pasti nggak akan beli lagi produk ini. Secara lebih banyak kekurangannya daripada kelebihannya, sayang dong uangnya...

Penilaian keseluruhan:
Yap, aku membeli produk ini semata karena penasaran dengan klaim produknya yang bilang bisa buat mengurangi selulit (yah, ketahuan deh kalau aku berselulit... huhuhu T.T). Tapi, setelah dipikir-pikir, mungkin nggak sih dengan harga segitu bisa ngurangin selulit? kayanya nggak mungkin banget deh. Jadi, definetely I won't buy this product anymore....

Hunting for our signatures' perfumes (Carolina Herrera 212 for Women & Cartier eau de Cartier)

Sejak berkenalan dengan mas-ku, aku jadi addicted to perfumes. Segala wangi parfum aku coba dengan harapan bisa menemukan 'my signature perfume', yaitu wangi yang benar-benar khas 'aku banget'. Akhirnya aku bisa menemukannya, parfum itu adalah Carolina Herrera 212 for Women.

Pertemuanku dengan parfum ini memang tidak sengaja. Temanku kebetulan sedang pergi ke Singapore dan aku merengek minta oleh-oleh parfum, dan parfum yang dibelikan oleh dia adalah si Carolina Herrera itu.... duh, begitu aku coba baunya, enak banget! fresh, segar, dan feminim gitu. Aku langsung jatuh hati sama parfum ini dan langsung menyatakan bahwa parfum ini adalah 'my signature perfume'.


Sayangnya, parfum ini susah banget nyarinya. Meskipun sudah berusaha diawet-awet, tetap saja parfum kesayanganku ini cepat habisnya (cuma bertahan 2-3 bulan). Namanya juga parfum kesayangan, jadi tiap hari dipakai padahal aku masih punya stok parfum yang lain. Dengan mas-ku tercinta, aku hunting parfum ini ke tempat jualan parfum refill langganan kita, tapi ternyata mereka tidak punya stok parfum ini.


Hal yang sama terjadi juga dengan mas-ku tercinta. Signature perfume-nya dia adalah Cartier Eau de Cartier yang merupakan oleh-oleh dari temannya yang berlayar ke luar negeri. Dari dulu dia udah cari parfum ini kemana-mana tapi nggak pernah ketemu. Nyari parfum refill Cartier ini pun susahnya setali tiga uang sama parfum Carolina Herrera-ku.

Saking kepinginnya dapatin signature perfume kita, aku dan dia sering browsing di internet dan di situs jual beli online hanya untuk mencari parfum ini. Hasilnya, nol besar. Namun pencarian itu akhirnya membuahkan hasil juga. Aku berhasil menemukan seller yang menjual parfum kesayangan kita berdua ini. Dan dia (seller, red.) berani menjamin kalau wanginya sama persis seperti yang original. Horee!!! langsung saja aku dan mas-ku pesan parfum kesayangan kita itu... untuk amannya, kita pesan dalam botol ukuran kecil dulu (takut kalau nanti wanginya beda sama yang asli, kan sayang uangnya... T.T).

Tapi tetap kita berdua harus bersabar karena parfumnya baru akan sampai di tangan kita hari Rabu. Tak apa lah, demi 'our signature perfume'. Hehehehe....

Sunday, 6 September 2009

Review - Body Butter Bali Home Spa



Pertama kali dengar "body butter", aku langsung terbayang blue band, margarin yang ngetop di Indonesia. Ternyata, "body butter" ini bukanlah butter yang biasa dipakai untuk masak atau bikin kue, melainkan butter yang dioleskan ke tubuh. Nah lho?

Sebenarnya ini bukan barang baru, The Body Shop sudah sejak lama mengeluarkan produk ini dengan beragam varian aroma. Apa emang aku-nya aja yang nggak gaul ya?? Setelah celingak-celinguk dan googling di internet, akhirnya aku memutuskan untuk membeli body butter secara online.

Pilihanku jatuh pada Body Butter keluaran Bali Home Spa. Aku rekues sama sellernya untuk aroma yang seksi, yang bisa buat cowok jadi keliyengan (bukan karena pusing lhoo, tapi karena efek wanginya yang bikin mereka jatuh hati... hahaha). Seller-nya bilang yang paling seksi bau-nya yang White Musk (hmm, jadi teringat sama White Musk-nya The Body Shop).
2 hari setelah pemesanan, paket berisi Body Butter ini sampai di rumahku dengan selamat...dan ini dia...


Bali Home Spa Body Butter

Dengan kandungan Vitamin E dan almond oil, membuat body butter lebih kaya moizturizer (pelembab) dibanding lotion biasa. Kandungannya yang natural membuat butter ini cepat menyesap ke kulit tubuh dan dengan segera melembabkan kulit yang kering.

Tahu dari mana?
Lihat di toko-toko, mulai dari booth kosmetik di mall sampai toko kosmetik di pasar, terus jadi penasaran deh!

Beli di mana?
Akhirnya aku memutuskan untuk beli secara online, jadi barang dikirim langsung dari Bali. Soalnya sempat mau beli di toko kosmetik di ITC, tapi kok kemasannya sudah tidak bersegel dan kayanya udah stok lama...

Harganya?
Murah meriah! cukup IDR 20k ($2) aja! Jauh banget kalau dibandingkan dengan harga body butter TBS atau merek lainnya. Namanya juga produk lokal...

Varian yang dibeli?
Body Butter White Musk (berdasarkan rekomendasi seller yang bilang baunya oke banget)

Komposisi
Aquadestillata, glyceryl monostearate, isoprophyl ministat, stearic acid, glycerine, triethanolamine, propyl paraben, methyl paraben, vit. E, almond oil, white musk essential oil

Klaim produk
  • melembabkan kulit kering lebih baik dibandingkan lotion biasa
  • tidak lengket di kulit
  • cepat meresap
  • baik digunakan bagi yang memiliki kulit kering atau beraktivitas di ruangan AC.
Cara pemakaian
Setelah mandi dan kapan saja kulit merasa kering.

Kesan setelah pemakaian
Pertama buka paket, sempat kecewa juga lihat ukurannya yang kecil (beda banget sama TBS). Tapi setelah dipikir-pikir, ya pasti beda lah secara dari harga aja udah jauh banget! Namun kekecewaan itu langsung hilang setelah aku mencoba produk ini untuk pertama kalinya.

Baunya enak banget! lembut dan menggoda (nggak bohong tuh seller-nya! seksi abis!) terus begitu dioleskan ke kulit dia langsung meresap (nggak seperti lotion yang selama ini aku pakai). Apalagi di kamar-ku yang ber-AC, body butter ini langsung menjadi andalan aku untuk berperang melawan kulit kering.

My Review
Product: 4/5
Quality: 3.5/5
Packaging: 3/5
Price: 5/5
Overall: 3.5/5


Kelebihan:
  • Sudah pasti harganya yang murah!
  • Aromanya yang oke banget! jadi penasaran sama varian yang lain... ^^
  • Kulit kering langsung lembab begitu pakai butter ini dan yang penting TIDAK LENGKET!
Kekurangan:
  • Belinya susah, kalau cari di toko kosmetik kuatir barang stok lama dan sudah sering dibuka2 untuk dicoba, nggak ada segelnya.
  • Mau tidak mau mesti beli langsung dari Bali via online, yang berarti cukup merepotkan.

Info tambahan:
selain varian White Musk, tersedia juga varian lainnya yaitu:

Beli lagi atau nggak ya?
Meskipun sedikit repot untuk membeli body butter ini, tapi kurasa worthed kok... jadi setelah body butter ini habis, aku akan beli lagi yang lain untuk mencoba varian wangi yang berbeda.

Penilaian keseluruhan:
Hmm, not bad, apalagi kalau melihat dari harganya. Worth-trying kok... so far aku suka dengan produk ini. ^.^

Capek dengan segala kurus menguruskan badan!

CAPEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEK........

The D-day tinggal 1,5 bulan lagi dan berat badanku masih aja mentok di 55 kg. Padahal targetku adalah 50kg, bahkan berharap bisa turun sampai 45 kg.

Lama-lama, I'm sick of all these diet things... So, starting from today... I bloody hell don't care about it any more!

Kalau orang bilang aku gendut... Get off you b***h!

Kalau orang bilang pahaku besar... talk to the hand!

Kalau orang bilang tanganku gede... f*** you!


Jadi, kalau ada yang tidak suka dengan penampilanku, gak usah lihat-lihat. Just leave me alone with my body...

Wednesday, 26 August 2009

Memasyarakatkan Sastra (dan Mensastrakan Masyarakat?)


Oleh: Atisatya Arifin

COBA TAFAKUR SEJENAK, apa yang membayang di benak kita, jika kita mengeja atau membaca kata sastra? Bagi sebagian orang, sastra adalah sesuatu yang aneh. Sesuatu yang menjemukan dan membosankan. Uniknya, tidak banyak di antara kata yang hobi membaca karya sastra, apalagi menulis sastra. Misalnya saja, lembar budaya di media suratkabar yang sering berisi puisi, cerita pendek, esai, dan opini. Paling yang dilirik orang adalah puisinya. Itupun karena sepintas terlihat ringan, singkat, dan padat. Membaca novel sastra, apalagi. Wow, tidak semua orang mampu melakukannya.

Saya sendiri sempat terperangah ketika ditodong sebuah pertanyaan oleh seorang teman ngobrol di dunia maya. Pertanyaannya, sebenarnya, sederhana saja. “Apa yang kamu ketahui tentang sastra?” Sewaktu SMA, saya mengambil jurusan Biologi. Otomatis, bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia bukanlah pelajaran favorit saya. Maka, tidak heran jika saya tergagap ketika ditodong dengan pertanyaan sepelik itu.

Bagaimana dengan kamu?

Rasa ingin tahu itu terus berkecamuk di benak saya. Akhirnya, saya tidak kuasa keinginan mencari tahu apa dan seperti apa wujud sastra yang sebenarnya. Ketika membuka halaman Wikipedia Indonesia, saya menemukan pengetahuan baru. Ternyata, sastra itu kata serapan, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”. Hanya saja, sastra dalam bahasa Indonesia lebih merujuk pada pada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Rasa dahaga itu tidak terpuaskan begitu saja. Perpustakaan pribadi pun segera menjadi korban, diacak-acak demi menuruti kata hati. Akhirnya, bersua jua pencarian itu. Sastra, dalam kacamata HB. Jassin, adalah karya tulis yang, jika dibandingkan dengan karya tulis yang lain, memiliki beberapa ciri seperti keorisinalan, kerartistikan, serta keindahan dalam isi dan ungkapannya. Sastra yang baik adalah sastra yang senantiasa mengandung nilai. Nilai itu dikemas dalam wujud struktur karya sastra. Sastra yang baik harus mengandung tiga aspek dalam setiap karyanya, yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Kalau ada karya sastra yang mengorbankan salah satu dari aspek ini, maka sastra itu dikatakan kurang baik.

Lalu, bagaimanakah kondisi sastra Indonesia sekarang?

Di mata para pelajar, baik sekolah menengah pertama maupun atas, sastra adalah suatu hal yang menjadi momok. Pelajaran yang sebisa mungkin dihindari. Lucunya, banyak sekali siswa yang tiba-tiba bisa menulis puisi karena sedang jatuh cinta, bahkan bisa menulis surat cinta yang nyastra banget dan romantis habis. Namun, terlepas dari hal itu, sastra tetap sebuah fenomena yang menarik untuk diselusuri.

Pertanyaan mendasar yang perlu kita kemukakan adalah mengapa pembelajaran sastra tidak bisa membumi? Mengapa sastra tidak bisa populer di mata pelajar? Inilah yang perlu kita telaah bersama. Bagaimanapun, bahasa menunjukkan bangsa. Dan, bahasa yang bijak, sejatinya berasal dari tuturan kalimat yang runut, rentet, dan enak dibaca. Anehnya, semua kriteria itu bisa kita temukan pada sastra. Masalahnya, selama ini, pengajaran sastra di dalam kelas hanyalah sekadar formalitas kurikulum. Bukan sebuah perilaku sadar yang bisa mendorong siswa untuk lebih mencintai sastra, dengan belajar bagaimana mengapresiasi sastra, khususnya sastra Indonesia.

Siapa yang tidak kenal Naruto, ninja remaja dengan wujud setengah rubah yang ingin menjadi ninja terkuat di desanya, yang komiknya dibaca hampir semua lapisan masyarakat, mulai dari siswa sekolah dasar hingga dosen perguruan tinggi ternama. Mirisnya, siapa yang kenal dengan Mariamin, tokoh dalam novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar? Atau puisi Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail? Kalaupun iya, mungkin hanya segelintir saja yang mengenalnya. Ini menunjukkan rendahnya apresiasi sastra bangsa Indonesia. Padahal, apabila seseorang telah mampu mengapresiasi sastra, ia akan ikut larut dalam kehidupan yang dialami pengarangnya, yang tertuang dalam karya ciptanya. Si pembaca akan berempati terhadap isi karya sastra tersebut, terbawa dalam suasana dan gerak hati dalam karya itu hingga pada akhirnya akan timbul rasa nikmat pada si pembaca.

Sebagian besar pelajar menganggap sastra adalah pelajaran yang membosankan, yang tidak harus dipelajari secara khusus di sekolah. Bandingkan dengan negara-negara lain, jika siswa SMU di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku selama tiga tahun, di Jepang dan Swiss 15 buku, siswa SMU di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra, siswa SMU di Indonesia-setelah era AMS Hindia Belanda-adalah nol buku. Padahal, pada era Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda, selama belajar di sana siswa diwajibkan membaca 15-25 judul buku sastra.

Lalu, apa yang menyebabkan apresiasi sastra di Indonesia kian merosot?

Kurikulum pendidikan saat ini (KTSP) sudah lebih bersahabat dengan sastra dibandingkan kurikulum terdahulu. Sebagai contoh, dalam pembelajaran sastra di SMP, kini sudah ada keterampilan (1) mendengarkan sastra, (2) berbicara sastra, (3) membaca sastra, dan (4) menulis sastra.

Namun, tetap saja siswa buta terhadap sastra. Ada apa gerangan? Meski kurikulum telah mendukung dan tidak lagi menganaktirikan sastra dalam pendidikan di Indonesia, ternyata para pendidik belum mampu mengimplementasikan sastra sebagaimana mestinya. Sejatinya, pengajaran sastra tentu berbeda jauh dengan pengajaran bahasa . Lantas, langkah apa yang harus diambil agar kondisi sastra Indonesia tidak makin terpuruk?

Pertama, guru sastra harus bisa memberikan wawasan yang luas mengenai sastra, khususnya sastra Indonesia. Guru diharap bisa menjadi teladan bagi siswanya untuk lebih mencintai
sasta. Bagaimana mungkin siswa bisa mengapresiasi dan mencintai sastra apabila gurunya sendiri tidak menyukai sastra?

Kedua, memperbanyak kegiatan sastra seperti lomba penulisan puisi dan cerpen, pentas pembacaan puisi dan drama, juga menyediakan media publikasi khusus sastra. Hal ini dilakukan agar pembelajaran sastra tidak hanya sebatas teori-teori di atas kertas, melainkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan.

Bagaimanapun, jika seorang guru bahasa yang pun merangkap guru sastra, bisa memahami dan mengapresiasi sastra dengan baik, akan menumbuhkan cinta dalam dirinya, yang diharapkan bisa memancar ketika sedang mengantar pembelajaran sastra. Semoga.

Di luar institusi pendidikan, banyak lembaga swadaya masyarakat yang peduli dengan kemajuan dan pertumbuhan sastra. Sebut misalnya tumbuhnya banyak komunitas sastra, termasuk Kelompok Jakarta (KEJAR) Sastra. Komunitas dari beragam latar belakang usia, pendidikan, agama, dan status sosial ini memegang prinsip: menulis, membaca, dan mengapresiasi. Semua anggota komunitas memiliki kewajiban tidak tertulis untuk menghasilkan karya sastra, entah berbentuk puisi, cerpen, esai, bahkan novel. Karya sastra itu kemudian diposting di sebuah website Kemudian.com, lalu dibaca dan diapresiasi oleh anggota komunitas lainnya.

Sederhana memang, namun upaya ini adalah terobosan alternatif yang bi sa menjadi solusi di tengah semakin marjinalnya sastra bagi kalangan generasi muda. Lihat saja, 24 orang atau 36,92% dari 65 anggota komunitas KEJAR SASTRA adalah siswa SMP/SMA, sementara 21 orang atau 32,30% adalah mahasiswa. Sisanya, 20 orang atau 30,76% adalah pekerja/penganggur produktif dari berbagai latar profesi.

Memang, apa yang dilakukan oleh KEJAR SASTRA untuk memasyarakatkan sastra, belumlah ideal sesuai harapan bersama. Setidaknya, geliat baru untuk mencapai perubahan baru bisa mengemuka. Dan, seperti tutur orang bijak, langkah satu mil selalu dimulai dari langkah pertama.

Opini ini dimuat pada Harian Media Indonesia, 14 September 2008. Versi elektronik opini ini bisa dilihat pada Opini: Pelajar Jepang baca 15 buku, Indonesia nihil!

Tuesday, 25 August 2009

Puasa dan Melilea untuk tubuh yang sehat!


Bulan Ramadhan merupakan bulan suci yang dinantikan oleh segenap umat muslim di seluruh belahan bumi. Tentu saja beribadah di bulan ini memiliki pahala yang berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan lainnya. Demi menyambut bulan penuh berkah ini, banyak orang yang bersungguh-sungguh mempersiapkan diri dalam menghadapi bulan ini. Mulai dari latihan puasa di bulan sebelumnya (Rajab dan Sya'ban) hingga minum suplemen dan vitamin.

Aku pribadi, memiliki cara khusus dalam menjalankan puasa yang sehat di bulan Ramadhan tahun ini. Berhubung bulan Oktober nanti aku akan menikah, maka bulan Ramadhan ini, selain dijadikan ajang untuk mengejar pahala, juga untuk menurunkan berat badan. Cara yang aku lakukan adalah dengan mengkonsumsi Melilea Greenfield Organik. Dengan mengkonsumsi Melilea, aku tidak hanya mampu menjalankan puasa dengan lancar tetapi juga sekaligus mendapatkan tubuh yang sehat.

Salah satu cara yang aku lakukan dalam mengkonsumsi Melilea selama bulan Ramadhan ini adalah sebagai berikut:

Berbuka puasa:
  • minum segelas teh hangat atau hidangan berbuka lainnya
  • minum Melilea Greenfield Organik dan 30 menit kemudian minum air putih
  • makan buah-buahan dan minum air putih
Setelah shalat magrib:
  • makan beberapa potong kue/hidangan berbuka lainnya
  • makan buah-buahan dan minum air putih
Setelah shalat tarawih:
  • Melilea Greenfield Organik (bisa dicampur dengan jus buah atau dengan jeruk nipis)
  • 30 menit kemudian minum air putih
  • makan buah-buahan
  • boleh makan nasi dengan lauk pauknya (1/2 porsi)
  • minum air putih
Waktu sahur:
  • Melilea Greenfield Organik (bisa dicampur dengan jus buah atau jeruk nipis)
  • 30 menit kemudian minum air putih
  • boleh makan nasi dengan lauk pauknya (1/2 porsi)
  • minum air putih
Tips berpuasa dengan Melilea:
  • Minum MELILEA Greenfield Organic minimal 3x mulai jam berbuka sampai waktu imsak
  • Minum air putih minimal 2 liter mulai jam berbuka sampai waktu imsak
  • Buatkan Soya lebih kental [3 sendok untuk 1 gelas takaran] agar stamina Anda lebih fit di siang hari
  • Jangan makan berlebihan pada minggu pertama puasa
  • Untuk menghindari rasa ingin buang air kecil saat shalat Tarawih, minum air putih secukupnya sehabis waktu berbuka puasa dan perbanyaklah setelah shalat Tarawih sampai waktu imsak
  • Metode di atas juga bisa dilakukan sewaktu menjalani puasa lainnya

Aku sendiri menjalankan cara konsumsi Melilea seperti yang di atas dan alhamdulillah hingga hari kelima ini kondisi tubuhku baik-baik saja dan tetap segar dan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Bagaimana dengan anda? insyaAllah berpuasa dengan mengkonsumsi Melilea Greenfield Organik ini menjadikan tidak hanya jiwa yang bersih tetapi juga tubuh yang bersih.

Selamat mencoba!

Sunday, 23 August 2009

Review - High Quality Perfume @ ParfuMart

Aku masih ingat pertemuan pertamaku dengan calon suamiku. Satu hal yang membuat aku tergila-gila padanya adalah wangi tubuhnya yang khas dan bisa bikin aku melayang (lebay mode ON). Melihat dari penampilannya (gosh, dia itu selalu rapih, tidak pernah sekalipun aku lihat dia acak-acakan), makanya aku berpikir kalau dia pasti menggunakan parfum asli atau original.

Setelah kenal cukup lama dan cukup dekat, dia membeberkan rahasianya kalau dia tidak menggunakan parfum original melainkan parfum refill. HAH??? Jelas aku tidak percaya, karena setiap kali jalan bareng dia, wangi tubuhnya awet sekali, dan rasanya tidak mungkin kalau parfum yang dia pakai itu parfum refill (mana ada parfum refill yang baunya awet gitu seperti parfum original?)

Akhirnya kudesak dia untuk memberi tahu aku di mana dia beli parfum refill itu dan ternyata rahasia wangi tubuhnya yang bisa buat aku melayang adalah:


Parfumart adalah Toko Parfum Re-Fill atau Isi Ulang. Disini kita bisa menemukan ratusan aroma wewangian parfum internasional & aromaterapi. Disini kita juga bisa meminta custom perfume, yaitu parfum unik (personal perfumes) yang diracik dengan aroma pilihan anda sendiri yang disesuaikan dengan personality, mood, keperluan kita, dsb dengan cara mix atau mencampur aroma-aroma yang kita minati. Dengan karyawan-karyawan yang sudah berpengalaman sebagai konsultan pribadi, kita dapat tampil beda dengan “personal perfume”. Dan juga didukung dengan standarisasi alkohol, stabilizer & fixative menambah kualitas parfum ciptaan sendiri ini tidak kalah dengan parfum-parfum original yang harganya selangit. Jika kita kurang tertarik atau tidak pede dengan parfum ciptaan sendiri, tidak perlu kuatir. Di Parfumart kita juga bisa mendapatkan aroma-aroma parfum internasional yang up-to-date dengan harga sangat terjangkau.

Tahu dari mana?
Tahu dari yayang tercinta yang juga sudah berbaik hati bolak balik nganterin ke tokonya ^.^

Beli di mana?
ParfuMart cuma ada 3 cabangnya. Satu di Bandung (pusat), dan dua lainnya ada di Tebet dan Depok.
  • Parfumart Bandung : Jl Paledang No 54 / 022-4215485
  • Parfumart Jakarta : Jl Tebet Dalem Raya No 94 F / 021-83793813
  • Parfumart Depok : Jl Margonda Raya No 345 D / 021-77204207
Harganya?
Relatif, tergantung kualitas bibit, banyaknya (ml), dan botol yang digunakan. Harga paling murah dari IDR 10k. Rata-rata aku beli parfum di ParfuMart, dengan botol kapasitas 30ml, harganya sekitar IDR 35k.

Varian yang dibeli?
Sejak pertama kenal toko ini sampai sekarang, aku sudah beli lebih dari 5 varian parfum.
  1. Channel - Chance (pilihan si yayang, baunya very mature)
  2. Thierry Mugler - Angel (bau yang sangat eksotik, sangat "aku" banget)
  3. Chacharel - Amor Amor (wanginya yang manis dan lembut cocok buat sehari-hari)
  4. Clinique - Happy Day for Men (meskipun buat cowok, tapi baunya yang seger bisa bikin semangat)
  5. Carolina Herrera - 212 (bibitnya udah nggak ada di Tebet tapi di Depok masih ada, huff... one of my signature perfume)
Klaim produk?
ParfuMart bukanlah seperti parfum-parfum refill lain yang cuma sekadar mencampurkan alkohol dengan bibit parfum. Bibit parfum yang dipilih benar-benar kualitas nomor satu, dengan bau yang 90% sama persis dengan parfum aslinya. Selain itu dengan adanya standarisasi alkohol, fixative, dan stabilizer membuat parfum racikan ParfuMart tahan lama (bisa sampai 6-8jam lebih, tergantung komposisi bibit dan alkohol).

Cara pemakaian?
Yang unik dari parfum refill ParfuMart ini adalah ketika kita membeli parfum, karyawannya akan meminta kita untuk memasukkan parfum ke dalam kulkas minimal 1 jam sebelum bisa digunakan. What for? katanya sih biar campuran alkohol dan bibit menjadi stabil disebabkan oleh suhu dingin dari kulkas itu (masuk akal kok, soalnya aku sempat tanya sama temanku yang kuliah di jurusan kimia dan katanya memang benar, fungsinya supaya molekul-molekulnya saling mengikat dan tidak mudah terlepas). Setelah 1 jam (atau lebih), baru deh parfumnya bisa digunakan sesuka hati.

Kesan setelah pemakaian?
Dari sejak pertama ke toko ParfuMart, aku sudah suka dengan pelayanannya. Karyawannya pada sabar meladeni pembeli. Aku sering bilang sama karyawannya, "mas, saya pingin parfum yang baunya soft, seger, tapi khas, bla bla bla bla...", dan dengan senyuman si karyawan akan memberikan rekomendasi parfum-parfum apa saja yang sesuai dengan kriteria yang sudah aku sebutkan tadi. Hampir semua pelanggan ParfuMart melakukan itu juga....

Selain itu, karyawan tidak pernah lupa mengingatkan bagaimana cara memakai parfum yang benar, misalnya, jarak semprot parfum dengan baju (supaya parfum tidak meninggalkan noda kuning di baju), di bagian tubuh mana parfum sebaiknya disemprotkan, dan cara penyimpanan parfum yang baik supaya kualitasnya tetap terjaga. Intinya, beli parfum di ParfuMart bener-bener menambah pengetahuan tentang parfum.

Dan, akhirnya, untuk kualitas parfumnya sendiri... tidak diragukan lagi, wanginya benar-benar awet dan sama persis dengan yang asli. Sesuai lah dengan harga yang dibayarkan. Dan dengan harga yang terjangkau, aku bisa punya lebih dari 3 parfum untuk setiap aktivitas. hehehe.

dan akhirnya.....

My Review:
Product: 5/5
Quality: 5/5
Packaging: 4/5
Price: 5/5
Overall: 4.5/5

Kelebihan:
  • Harga yang sangat terjangkau untuk kualitas nomor satu
  • Wangi parfum dijamin tahan lama (min. 6 jam)
  • Wangi parfum 90% sama persis dengan parfum original-nya
  • Pelayanan yang memuaskan (karyawannya pada sabar, baik dan full senyum)
  • Tersedia parfum dengan berbagai pilihan (sampai bingung deh milihnya)
Kekurangan:
  • Cabangnya cuma 2 (di Tebet sama Depok). Kalau ke Bandung kan lebih nggak mungkin lagi.
  • Botol kemasannya kurang variatif. Tapi kalau kita punya botol sendiri bisa juga minta isiin sama dia.
Info tambahan:
ParfuMart cabang Tebet buka setiap hari (Senin-Minggu), tapi kalau yang di Depok cuma buka dari Senin-Sabtu (Minggu tutup).

Beli lagi apa nggak ya?
Definetely YES! malah balik ke ParfuMart itu sudah menjadi kegiatan rutin tiap bulan, karena setiap ada parfum-ku yang habis, harus cepat-cepat di-refill lagi... ^.^

Penilaian keseluruhan:
Four thumbs up! semua jempol dipake, yang berarti EXCELLENT PRODUCT and RECOMMENDED PRODUCT!

Friday, 21 August 2009

Review - Lulur Pengantin Ayudya

Lagi-lagi review produk perawatan tubuh! Maklum lah, namanya juga mau nikah sebentar lagi. Tapi dengan begini kan aku jadi punya alasan untuk mencoba produk-produk perawatan tubuh. Hehehe.

Sebelumnya aku sudah me-review Yoko Milk Salt, scrubbing yang oke banget untuk menghaluskan kulit, de el el. Yang belum baca reviewku, silahkan mampir ke sini: Review - Yoko Milk Salt.

Kali ini, produk yang akan aku review masih nyerempet-nyerempet sedikit dengan produk sebelumnya, yaitu lulur!

Siapa yang nggak kenal lulur? dari jaman ibu kita masih A-be-ge, yang namanya lulur udah dikenal, bahkan dari sejak jaman keraton. Dulu luluran identik sama putri-putri raja dan keraton, alias eksklusif banget deh, ramuannya aja sampai dirahasiakan. Tapi sekarang jaman udah moderen, semua orang boleh luluran! dan karena itu juga produk lulur merajalela di pasaran.

Hmm, saking banyaknya produk lulur, kadang kita jadi bingung sendiri mau pakai yang mana. Produk A mengklaim bisa memutihkan, B bisa menghaluskan, C bisa meremajakan, dan masih banyak lagi. Belum lagi dengan pilihan aroma yang bikin kita makin bingung untuk memilih, mulai dari aroma bebungaan hingga buah-buahan lengkap tersedia (kalau aroma bunga bangkai sama buah busuk ada nggak ya??? >.<).

Oke, langsung aja deh, ke produknya. Nama produknya adalah.... (jreng jreng jreng...)

"LULUR PENGANTIN AYUDYA"

Lulur Pengantin Ayudya sanga baik untuk memutihkan, mencerahkan kulit, menghaluskan, melembabkan, menghilangkan warna hitam di bawah ketiak, selangkangan paha dan noda-noda hitam di kulit., serta mengharumkan kulit. Lulur ini diproduksi oleh PT. Ayu Naturally Cemerlang, sebuah perusahaan lokal yang mengkhususkan diri pada produk kecantikan.


Tahu dari mana?
Lihat banyak seller kaskus yang jual produk ini, terus penasaran deh!

Beli di mana?
Beli di toko kosmetik dekat rumah, lagi iseng jalan-jalan cuci mata, tiba-tiba ngeliat lulur ini, ya udah deh dibeli.

Harganya?
IDR 25k (1000 gr)

Varian yang dibeli?
Aromatherapy Herbal Spa

Komposisi:
Susu pemutih, Vit E, Vit C, Herbal oil, Olive oil, scrub dari bahan alami sehingga tidak menyebabkan iritasi


Klaim produk?
  • mengurangi biang keringat
  • memberikan efek peremajaan kulit
  • mengandung temulawak dan kunyit putih
  • baik untuk perawatan kulit kusam dan tanda bekas gigitan nyamuk dan jerawat di punggung
Cara Pemakaian?
Sewaktu mandi dalam keadaan kering, lulur digosokkan ke seluruh tubuh (lengan, leher, badan, dan kaki) sampai mengering dan butiran lulur berjatuhan bersama kotoran yang menempel pada tubuh. Setelah itu dibilas sampai bersih dan tidak perlu lagi menggunakan sabun. Bisa juga dipakai untuk lulur urut.

Kesan setelah pemakaian?
Aku memang sengaja beli yang varian "Aromatherapy Herbal Spa" karena aku bosan dengan lulur-lulur yang pernah aku coba, yang rata-rata fungsinya untuk memutihkan kulit. Aku tertarik memilih varian ini karena tertulis di pack-nya bahwa lulur ini baik untuk perawatan kulit kusam (secara aku sadar banget nggak mungkin jadi putih, so nggak putih nggak apa-apa asal yang penting nggak kucel dan kusam aja).

Pertama buka package, baunya bener-bener kaya bau lulur tradisional, alias jamu banget! (yuk!), tapi demi menghilangkan kulit kusam tak apa lah. Sorenya lulur ini langsung di-test. Ternyata scrub-nya nggak nendang, dengan kata lain scrub-nya tidak terlalu terasa (jauh bila dibandingkan lulur sekar jagat atau lulur plasenta). Walhasil, luluran-nya jadi kurang maksimal. Tapi kalau berdasarkan dari penjelasan lulur, scrub memang sangat halus karena dibuat dari bahan alami hingga tidak menyebabkan iritasi. Tapi tetap saja, buat aku yang berkulit badak, jadi berasa seperti tidak luluran.

Akhirnya, untuk mengakali supaya scub-nya berasa, lulur ini aku campur dengan Yoko Milk Salt. Hasilnya? oke punya! cuma sayang wangi Yoko Milk Salt-nya jadi tidak tercium karena kebanting dengan bau lulur ayudya. Selain itu, meskipun sudah dicampur, kotoran (daki, red.) tidak bisa rontok semudah menggunakan lulur sekar jagat ataupun plasenta.


My Review:
Product: 3/5
Quality: 3/5
Packaging: 3/5
Price: 4/5
Overall:3/5

Kelebihan:
  • Harganya murah, dengan IDR 25k bisa dapet lulur 1 kg!
  • Lulurnya nggak habis-habis! (udah hampir 1,5 bulan dan baru habis setengah pack)
  • Kulit jadi halus setelah pakai lulur ini dan hangat (mungkin karena ada kandungan temulawak dan kunyit putihnya)
Kekurangan:
  • scrub-nya nggak berasa, jadi kotoran (daki, red.) tidak rontok semudah dan secepat menggunakan lulur lain
  • kalau mau scrubnya berasa, harus dicampur dengan Yoko Milk Salt dulu, tapi jadi sayang Yoko-nya..
  • Untuk varian Aromatherapy Herbal Spa ini baunya enggak banget (mungkin karena memang kandungannya benar-benar herbal ya?)
Info tambahan:
Lulur Pengantin Ayudya ini memiliki banyak varian dengan fungsinya masing-masing (green tea, mandi susu, aromatherapy spa jasmine, aromatherapy herbal spa, bengkoang, mutiara, coffe lavender, avocado+vit E oil, chocolate+extract ginger).

Beli lagi atau nggak ya?
Sepertinya sih aku akan beli lagi, cuma tidak akan beli yang "aromatherapy herbal spa" (kapok dengan bau-nya!). Rencananya kalau yang di rumah sudah habis aku mau coba yang varian avocado+vit E oil (cocok untuk mereka yang berkulit kering atau sering di ruangan ber-ac) atau chocolate+extract ginger (antioksidan-nya tinggi jadi bisa mencegah penuaan dini).

Penilaian keseluruhan:
Untuk sementara ini aku kasih nilai "biasa-biasa aja", tapi mungkin pendapatku akan berubah kalau aku sudah mencoba yang varian lain... ^.^ LOL

Review - Yoko Milk Salt


Belakangan ini aku memang jadi genit. Mungkin karena dua bulan lagi aku akan menikah (gosh... T.T). Segala daya dan upaya dilakukan supaya bisa terlihat sempurna di hari bersejarah itu. Ditambah dia (my fiancee) yang (menurut aku) ganteng dan always looks perfect. Jelas aku nggak mau kalah saing (maksudnya mau terlihat
cantik dan perfect juga), makanya aku jadi rajin merawat tubuh.

Salah satu perawatan tubuh yang belakangan ini rutin aku lakukan adalah scrubbing. Scrubbing sangat penting untuk melancarkan peredaran darah dan juga untuk menghilangkan sel-sel kulit mati yang buat kilit kita jadi kusam dan tidak bersinar. Nah, setelah browsing kesana kemari, ketemu deh dengan satu produk yang bikin aku jatuh cinta.

Nama produknya "YOKO MILK SALT"


produk Thailand yang udah terkenal di mancanegara ini benar-benar efektif untuk menghilangkan sel-sel kulit mati, mencerahkan dan menghaluskan kulit. Kandungan vitamin E, vitamin B3, kolagen dan susu murni yang ada dalam milk salt ini memberikan nutrisi untuk kulit supaya kulit tetap segar dan fresh.

biar lebih jelas, nih aku kasih tahu fungsi dari tiap bahan-bahan yang ada dalam produk ini:

  1. Vitamin B3 : membantu mengelupas kulit mati dan membantu regenerasi sel kulit, membuat warna kulit merata (tidak belang/gelap di bagian tertentu)
  2. Kolagen: memperbaiki tekstur kulit, mengencangkan kulit, menghilangkan dan mencegah keriput.
  3. Vitamin E : merupakan antioksidan yang baik untuk kulit, membantu melindungi sel-sel kulit dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas, dan memperlambat penuaan dini.
  4. Susu murni: menghaluskan kulit, menutrisi kulit
Cara pakainya juga gampang. Pertama-tama kulit kita harus dalam keadaan basah/lembab, lalu Yoko Milk Salt ini bisa langsung digosokkan ke seluruh permukaan kulit tubuh. Bagusnya sih digosok dari kaki ke atas (menuju jantung), terus dari pergelangan tangan ke bahu, pas gosok bagian perut gosoknya searah jarum jam (mengikuti alur pencernaan, jadi pencernaan jadi lancar). Kalau menggosoknya seperti itu, manfaatnya lebih besar lagi, karena tidak cuma sekadar scrubbing tetapi juga melancarkan peredaran darah kita. Setelah digosok, biarkan selama 3-5 menit, baru dibilas. Tidak perlu pakai sabun lagi, langsung handukan. Dan dijamin kulit langsung soft banget dan wanginya benar-benar menggoda!

Pertama kenal produk ini, aku cuma tahu ada satu varian (Yoko Milk Salt bungkus warna hitam). Ternyata seminggu yang lalu, sis Susan (seller Yoko langgananku) bilang kalau ada 2 varian baru dari Yoko Milk Salt, yaitu Yoko Yoghurt Spa Milk Salt dan Yoko Lavender Spa Milk Salt. Langsung aja deh order karena penasaran pingin tahu bedanya.

Ternyata, setelah di-ujicoba (hehehe), Yoko Yoghurt Spa Milk Salt dan Yoko Lavender Spa Milk Salt itu sama-sama enaknya! Tapi kalau aku disuruh memilih, aku lebih suka Yoko Yoghurt Spa Milk Salt karena bau strawberry yoghurt-nya yang yummy abis!

Intinya, scrubbing dengan Yoko Milk Salt nggak rugi deh! Kulit halus, mulus, segar, dan fresh!


Review Produk
  • Product = 4/5
  • Quality = 4/5
  • Packaging = 3/5
  • Price = 3/5
  • Overall = 4/5
Pro :
Cara pakai produk yang praktis, aroma yang segar dan tahan lama, dan harga yang tidak terlalu mahal menjadi kelebihan dari produk ini. Apalagi dengan pemakaian rutin, hasil yang didapat benar-benar maksimal!

Kontra:
Sayangnya produk ini tidak dijual di swalayan-swalayan seperti Carrefour, Hypermart, Giant, Century, Guardian, dll. Sehingga sulit untuk memperoleh produk ini. Produk ini bisa dibeli via online atau di toko-toko kosmetik (seperti di Pasar Tebet, ITC Depok, dll).

Beli lagi atau tidak ya?
Jelas! aku akan beli lagi! meskipun memang untuk membelinya harus via online atau ke toko tertentu, tetapi untuk mendapatkan kulit yang mulus dan kinclong... worthed laah... :)

Sepertinya segini dulu review produk-nya, nanti ditambah lagi deh! Semoga bermanfaat yaa...

Monday, 10 August 2009

My Diet Plan with Melilea


As I told you before, I'm struggling very hard to lose my weight. Rather than using untrustable diet pills or doing some crazy diet plan, I choose Melilea as my diet plan.

The first time I knew Melilea was in 2007. I heard from one of my friend that Melilea can reduce your weight in a heathly way. At that time, I thought it was worth-trying to try this product and finally I bought it. I bought it from online store. The price was around 550 thousand rupiahs for the big bottle and 160 thousand rupiahs for the small one.

Most of people don't like drinking this product because the smell is so bad that you can throw up instanly. The first time I drank Melilea, I felt the same way too.... but I tried not to think about it and just think the result after I drank it. In a month, I drank the big bottle of Melilea and thanks God! I lost about 6 kilos! I was so happy!!! I felt much lighter and healthier. It was too bad that I didn't continue drinking Melilea to mantain my weight.

Now, after I have my own salary, I start using Melilea again. especially with the fact that I'm getting married in the next two months. My target is to lose around 5-6 kilos, so My weight is about 48-50 kilos (now I'm 55 kgs). Well, it's a long way to go and of course it will full of sacrify. I don't mind. i really don't mind at all.......

so, now all we can do is just wait and see....



Friday, 7 August 2009

Persiapan Pernikahan (2)

Belakangan ini aku dan mas Didit sedang getol-getolnya mencari isian untuk srah-srahan peningset yang akan dibawa pada saat acara midodareni.

Sebelumnya kita sudah me-list apa saja yang kira-kira akan dijadikan seserahan... Biasanya sih seserahan itu isinya alat shalat, perlengkapan mandi (handuk dll), kosmetik, sepatu, tas, pakaian dalam (ini yang aku paling bete, emangnya perlu ya?), pakaian, dan makanan (kalau ini sih nggak mesti cepat-cepat dibeli).

Dari sekian banyak itu, alhamdulillah sebagian sudah terbeli, seperti tas dan mukena. Kalau untuk kosmetik kata mamah sih Bude-nya mas mau nyumbang. Alhamdulillah, berarti aku dan mas bisa menghemat pengeluaran dan bisa dialihkan untuk kebutuhan yang lain. Sisanya, seperti perlengkapan mandi dan sepatu belum sempat dibeli. Mungkin besok kalau ada waktu kita akan cari. Kira-kira beli di mana ya? kalau bisa sih yang ada diskonnya sekalian. Hihihi....

Hari ini, rencananya kita berdua akan hunting sepatu dan handuk. Budgetnya?? hmm, berapa ya? yang pasti tidak lebih dari 500 ribu. Mas berencana untuk mencari kedua barang itu di Mall Ambasador. Kebetulan aku juga belum pernah ke sana, jadi sekalian deh, biar tahu....


Tuesday, 4 August 2009

Persiapan Pernikahan (1)

Pagi ini iseng browsing di internet tentang persiapan pernikahan. Awalnya aku ingin mencari wedding scrapbook, biar nanti ada kenang-kenangannya tidak cuma album foto aja. Eh, ternyata malah menemukan artikel yang membahas tentang mempersiapkan pernikahan.

Singkat saja, setelah aku membaca artikel itu, aku langsung pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak pusing? di artikel itu tertulis bahwa persiapan pernikahan itu sebaiknya dilakukan dari setahun sebelumnya. Waks! jangankan setahun, 3 bulan aja aku tidak sampai! langsung deh aku panik memikirkan banyaknya hal-hal yang belum dipersiapkan.

Di bawah ini adalah hal-hal yang sudah aku persiapkan:

  1. Baju seragam keluarga, baik untuk keluarga aku dan keluarga mas. Banyak terima kasih untuk Bulik Nina yang sudah membantu dalam memilihkan baju kebaya seragam untuk keluarga.
  2. Catering dan rias pengantin. Meskipun baru bayar 50% tapi sudah sedikit tenang lah, untungnya jasa rias pengantinnya dekat dengan rumah jadi enak konsultasinya.
  3. Gedung. Akhirnya gedung yang akan dipakai adalah gedung Bima Sakti di daerah Pancoran, Jakarta. Minggu kemarin, mom dan mas Didit sudah mengurus gedung dan melunasi biayanya. Huff, lega deh.
  4. Souvenir. Nah, kalau ini memang sudah jauh hari dipesan, sengaja biar tidak mumet dan kalau tiba-tiba butuh tambahan souvenir tidak mendadak. Souvenir yang dipilih biasa saja. Aku dan mas Didit sepakat bahwa kita tidak mau menghambur-hamburkan uang untuk pernikahan yang 'wah'. Yang penting kan niatnya, iya nggak?
  5. Cincin nikah. Setelah hunting ke beberapa tempat, akhirnya kita berdua memutuskan untuk memesan cincin nikah di Blok M. Berhubung mas Didit tidak pernah pakai perhiasan sebelumnya, jadi dia sedikit merasa canggung untuk menggunakan cincin itu. Makanya aku sengaja membiarkan dia yang memilih model cincin-nya. Dan setelah bolak balik muter-muter cari model yang pas, akhirnya mas dapat model yang disuka-nya. Alhamdulillah aku juga suka dengan modelnya. Sekarang, cincin itu tersimpan rapih di kamar-ku, menunggu untuk dipakai bulan oktober nanti.
Hmm, kayanya baru itu aja deh yang sudah siap, sisanya masih di awang-awang!

dan sekarang aku cuma bisa bilang... OH MY GOD!!!!!


Foto Pre Wedding

Hari minggu kemarin, aku dan mas Didit melakukan sesi foto prewedding yang pertama. Thanks to Pakle Yus, sang pakle tercinta yang bersedia menjadi fotografer untuk kita berdua.

Rencana awal pemotretan akan dilakukan di Puspitek, Serpong hari Minggu pagi-pagi sekali. Sebelumnya pakle sudah mengirim sms agar kita bersiap-siap sejak pukul 6 (waks! pagi sekali!). Karena rumahku jauh dari lokasi, aku memutuskan untuk menginap di rumah mas Didit dari hari Sabtu. Sayangnya pada hari itu mas Didit masuk kerja. Untungnya di rumahnya ada mamah sama papah jadi aku tidak bosan.

Aku dan mas didit memutuskan untuk menggunakan kostum casual, dengan harapan agar foto yang dihasilkan berkesan santai dan lively. Setelah debat sana-sini, browsing tema-tema foto prewed di internet, akhirnya kita sepakat untuk menggunakan kemeja warna putih, jeans, dan sepatu kets. Dan setelah bongkar-bongkar lemari, alhamdulillah ternyata aku punya kemeja putih. Maklum, aku ini tidak terlalu suka pakai pakaian putih karena takut cepat kotor.

Namun, apapun bisa terjadi meskipun persiapan sudah dilakukan sematang mungkin. Hari minggu pagi, aku dan mas Didit sudah siap-siap, rapi jali naik motor ke rumah Pakle (rumah pakle sama rumah mas Didit nggak jauh). Dasar lagi sial, di tengah perjalanan ban belakang motor bocor! Kacau deh! Akhirnya jalan kaki sampai ke tukang tambal ban terdekat. Alhamdulillah ketika ban bocor itu kita sudah tidak jauh dari rumah pakle. Hehehehe....

Sesampainya di rumah pakle, ternyata pakle mau ada pengajian, akhirnya di-cancel lah sesi foto prewed pagi itu. Pakle minta kita berdua untuk datang lagi sore-sore dan kalau bisa bawa kostum yang banyak. Pusing juga, secara aku cuma bawa baju seadanya, karena aku kan lagi menginap. Akhirnya bongkar lemarinya mamah cari-cari baju yang kira-kira cocok untuk dipakai berdua. Tapi ada hikmahnya juga kok, ternyata mas Didit itu orangnya care banget sama penampilan, sebelum berangkat, sempat-sempatnya dia cobain semua baju dan jas yang mau dia pakai untuk foto nanti. Hihihii...

Sorenya, dengan membawa buntalan tas penuh dengan kostum, aku dan mas Didit ngebut ke rumah pakle, masih dengan motor tentunya. Begitu sampai, aku langsung dandan dan mas juga siap-siap dengan obat gantengnya (istilah mas untuk sisir dan minyak rambutnya). Kita berdua pakai kemeja putih, tapi ternyata setelah di tes foto, pakaian putih itu tidak terlalu bagus. Kata pakle, detailnya jadi nggak kelihatan. Jelek. Duh, sedih banget, mana nggak bawa banyak kostum pula....

Tapi, sesi foto terus berlanjut. Bulek Nina (istrinya pakle) berbaik hati meminjamkan kain pashmina dan rok warna pink. Akhirnya dicoba juga deh rok dan pashmina itu. Eeeh, ternyata setelah dicoba difoto, hasilnya jadi keren banget! Apalagi mas Didit pakai jas, jadi makin oke!

Selama ini aku tidak pernah punya masalah dengan kamera, tetapi kemarin itu ketika aku melakukan foto prewed dan diminta untuk saling tatap dengan mas Didit, suer! aku langsung salah tingkah! kenapa ya? lucunya si mas malah santai aja. Hehehe..... ah, mungkin karena aku nggak biasa saling lihat-lihatan sama si mas makanya jadi grogi.

Dan ini sebagian hasil jepretan pakle yang bagus banget menurut aku:



Gimana? oke nggak??

Setelah sesi foto prewed pertama ini, aku, mas Didit dan pakle memutuskan untuk melakukan sesi berikutnya di Puspitek hari sabtu depan, pagi-pagi sekali karena kita ingin mengejar kabut dan 'ray of light' matahari pagi. Tentunya belajar dari pengalaman foto prewed pertama ini, aku dan mas Didit harus benar-benar 'siap tempur' mempersiapkan kostumnya biar nggak bingung lagi.

Jadi tidak sabar menunggu hari sabtu......


© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.