Tuesday, 14 July 2009

Tya dan Menulis (1)

Tya dan Menulis?? Apa hubungannya??

Tentu ada dong, hubungannya sudah berlangsung sejak seorang Tya masih anak kecil. Masih di bangku sekolah dasar, tepatnya. Tya kecil memang sudah menggemari menulis. Mungkin ini disebabkan oleh faktor genetik juga, Daddy-nya Tya itu dosen komunikasi di FISIP UI, jadi saban hari Tya kecil sudah dicekoki dengan beragam bacaan. Dari membaca itulah Tya kecil jadi suka nulis-nulis. Mulai dari menulis diari yang norak abis sampai bikin puisi.

Pengarang favorit Tya kecil (sampai sekarang juga sih...) adalah Enid Blyton. Tya kecil ingat sekali waktu Daddy-nya membelikan 6 jilid novel Enid Blyton yang judulnya "Malory Towers". Wah, itu buku nggak ada yang ngalahin deh! Bisa dibaca sepanjang masa! Selain itu, masih banyak buku-buku lainnya, juga komik. Eh, tapi komiknya nggak sembarang komik lho. Komiknya tuh Tintin, Lucky Luke, dan berentet judul lainnya. Ah, Daddy-nya Tya emang baik banget deh!

Beranjak remaja, Tya remaja nggak ikut-ikutan baca majalah cewek seperti teman-temannya yang lain. Kata Tya remaja "Gak asik, isinya iklan melulu, mending baca Bobo." Bobo? Tya remaja suka baca Bobo? Betul banget! Tya remaja tidak terpengaruh sama teman-temannya. Bacaan setianya adalah Bobo (hingga sekarang pun bundelan Bobo itu masih tersimpan rapi di gudang). Makanya, Tya remaja pada waktu itu nggak gaul banget deh! dandanannya nggak fashionable. Gak up-to-date. Hihihi.... Tapi biar begitu, Tya remaja tidak menyesal lho. Tumbuh besar bersama Bobo benar-benar membuat hidup Tya remaja damai sentosa. Membaca cerpen-cerpen yang dimuat di Majalah Bobo benar-benar merupakan kebutuhan.

Dari remaja, Tya sudah mulai menulis puisi. Beberapa puisinya dipuji sama guru bahasa Indonesia. Tapi hanya sebatas itu saja. Sedihnya, buku yang berisi kumpulan puisi Tya remaja hilang. Entah kemana, apakah diambil orang atau tak sengaja terbuang. Sampai detik ini, Tya dewasa masih suka menyesali buku puisi yang hilang itu.

Beranjak dewasa, Tya makin gencar menulis. Apalagi waktu di SMA, guru bahasa Indonesianya sangat mendukung. Jadilah Tya produktif menulis puisi. Tiada hari tanpa membaca buku. Sementara teman-temannya asyik membaca novel-novel remaja dan manga, Tya waktu SMA lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan, membaca roman-roman melayu dan sastra pujangga lama. Semua dilalap habis. Itulah bekal seorang Tya dalam menulis ke depannya.

Memasuki dunia kuliah, Tya sempat vakum dalam menulis 3 tahun lebih hingga ia bergabung dengan komunitas penulis di dunia maya. Dari komunitas inilah, Tya mendapatkan sahabat-sahabat penulis yang terus mendukung dan menyemangatinya untuk terus menulis. Dan jadilah seorang Tya produktif kembali dalam menulis, khususnya puisi.

bersambung....


Share this Post Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This Share on Google Plus Share on Tumblr

No comments:

Post a Comment

Hai! Terima kasih banyak sudah membaca postingan ini. Jangan sungkan menuliskan komentar di bawah ini ya. Komentar, masukan, dan kritik kalian sangat berarti untuk aku. Oya, please jangan masukkan link hidup di komen ya. Semua komentar dengan link hidup akan langsung di-delete.

Have a nice day!


© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.