Monday, 27 July 2009

To Be Fat Like Me - The War with The Weight

Do you know what is it feel to be fat like me?

I've struggled for more than 2 years to cut my weights back. Well, it was a very bad memory. I still remembered all the day i'd gone through. I made plan on every meal I ate. I did so many workouts. I'd tried so many exercises. Just name it, from gym, hired a personal trainer, aerobics, treadmills, swimming, bicycling, even capoeira. Thanks to God, I did lost some weights. I was 69 kgs when I started my diet. After 2 years, I successfully lost about 10 kgs.

Because I was too busy, I didn't do as many workouts as before. However, I still could lose another 3 kgs. So now, I'm 56 kgs. Even though lots of people said that I'm slimmer enough, I'm not satisfy enough. I want to loose another 5-6 kgs. I don't even mind if I can loose until 10 kgs!

I'm getting married in the next three months, so it's important to me to be in good shape. Especially when your husband gonna-be is a very handsome one. He's tall, really in good shape. No wonder every woman will fall in love wih him, or at least adore him from behind. Sometimes I feel so ugly when I go out with him. I feel that people think like these about us:

"why the man choose that girl? he could find prettier woman than her!"

"I'm prettier than her, he's much better to be my boyfriend"

See? those thoughts always cross my mind all the time. Moreover, I feel so bad when he pinch my upper arms, my waist, and my hips. It's very intimidating, though I know that he didn't mean to make me feel that way. That's why sometimes I lose my appetite while eating. I can't get rid those thoughts from my head.

And today... We went to a wedding party. When I was still at home, put on some make-up, got dressed. I felt pretty enough for him. That's what I thought. Unfortunately, it didn't stand long. When we arrived at the party, suddenly I felt as if I was the fattest and the ugliest woman there. I was surrounded by beautiful women, and it was obvious that they are slimmer than me. I lost my appetite instantly. I didn't feel like eating anything there. Although the food were very tempting. I really didn't enjoy the party. How could I?! I was intimidated by the people there... Really made me down...

Then, when I came home, all I could think about was my body. I'm not slim enough. I'm not pretty enough. For him... I just want to give my best to him, to my husband gonna-be. Is it wrong? Now, I can't stop crying thinking about it.

So, I promise to myself tomorrow I'll start my diet again. From the begining. I'll do anything to get rid of these fats and weights. I know it will be a hard time for me, but people have to survive, right? we have to struggle to get what we want.

Now, I announce that I'm having a war with my weight....just wish me luck and I can be the winner...


Thursday, 16 July 2009

Aroma for Therapy

Sebagai pelajar yang setiap hari disibukkan oleh homeworks, tugas-tugas, dan ujian pastinya kamu pernah merasa jenuh, stress, lesu, dan tidak bersemangat? Atau orang kantoran dan mahasiswa? Kayanya semua orang pernah merasakannya. Terus, bagaimana kamu mengatasinya? Pastinya kamu punya banyak cara mulai dari tidur, makan, jalan-jalan, atau lainnya. Tapi kamu tahu nggak sih? Ternyata ada hubungan yang tidak terpisahkan antara kesehatan emosional dengan kesehatan fisik. Berdasarkan penelitian, stress emosional dalam jangka waktu yang lama dan ekstrem, kesedihan, kelelahan, dan bahkan tekakan yang disebabkan kejadian bahagia dapat menimbulkan efek dramatik pada tubuh kita, guys. Berbagai efek fisik ini dapat berefek pada gangguan pencernaan, gangguan tidur, dan fungsi imunitas tubuh dapat menurun. Wah, gawat juga yah!

Terus apa dong hubungan antara aroma dengan emosi kita? Aroma berupa minyak esensial dapat mempengaruhi tingkat emosi kita melalui sistem olfaktori (penciuman), yang membuat suatu penyembuhan holistik yang unik. Prosesnya adalah pertama, aroma masuk ke dalam hidung kita, selanjutnya aroma tersebut dianalisis oleh sistem retikular di batang otak (brain stem). Nah, di dalam sistem tubuh kita ini, emosi dan memori saling berhubungan satu sama lain. Aroma-aroma tertentu dapat menstimulus hipotalamus, yaitu bagian otak yang mengatur sistem endokrin dan berbagai fungsi tubuh lainnya. Hipotalamus ini nantinya akan mengaktifkan kelenjar pituitari yang memproduksi hormon yang mempengaruhi fisik dan emosional kita secara bersamaan.

Aromaterapi dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, ada yang berupa lilin, dupa dan minyak esensial. Nah, kira-kira apa saja yah aromaterapi yang bisa digunakan? Dibawah ini beberapa aroma esensial yang bisa digunakan berikut kegunaannya.

Dari sekian banyak aroma tersebut, kamu bisa pilih aroma yang paling sesuai untuk kondisi kamu. Untuk mendapatkan efek yang maksimal, kamu bisa mencampurkan dua atau lebih aroma dengan perbandingan tertentu. Dibawah ini ada satu resep aromaterapi yang ampuh dan biasa saya gunakan:

Aromaterapi untuk meningkatkan konsentrasi dan memori

Resep ini bisa membantu kita meningkatkan daya ingat dan konsentrasi pada saat belajar, khususnya menjelang ujian. Perpaduan aromanya yang khas membuat kita bersemangat dan nggak ngantuk saat belajar. Jadi patut dicoba nih!

Ramuan 1:

  • 3 tetes Rosemary
  • 2 tetes Lemon

Ramuan 2:

  • 2 tetes peppermint
  • 3 tetes lemon

Penggunaan minyak aromaterapi ini bisa dengan meneteskannya pada saputangan dan kemudian dihirup langsung (seperti pakai inhaler gitu), dan bisa juga dengan menggunakan burner. Kelebihan menggunakan saputangan adalah dapat dibawa kemana-mana, bisa dipakai di dalam kelas, di dalam mobil, dan dimanapun kamu mau, sedangkan burner hanya bisa digunakan di dalam ruangan seperti kelas atau kamar tidur kamu (nggak mungkin kan kamu bawa-bawa burner kemana-mana?), sehingga tidak begitu praktis. Namun demikian, efek yang dihasilkan apabila menggunakan burner biasanya lebih baik dibandingkan menggunakan saputangan. Pilihan ada di tangan kamu…

Kalau kamu tertarik untuk mencoba, aromaterapi ini dapat diperoleh dengan mudah koq! Dan harganya bervariasi, mulai dari 5 ribuan hingga puluhan ribu. Dibawah ini beberapa tempat dimana kamu bisa membeli aromaterapi:

  • Ace Hardware di cabang manapun
  • TB Gramedia (biasanya di dekat bagian stationary)
  • Apotik Guardian dan Century (tapi harganya lumayan mahal)
  • Mal-mal besar di kota kamu

1.

Selamat mencoba!

Hape = Hati resah

Siapa bilang punya hape itu identik dengan keren dan gaul?

nyatanya tidak juga...


justru dengan punya alat komunikasi seperti hape malah membuat hati jadi resah. Lho? kok bisa? jelas aja bisa. Contoh konkretnya begini...

Malam ini aku lagi sendirian, di kamar, nggak ada temannya, lagi sakit pula, kepinginnya sih ngobrol sama siapa gitu kek. Ngobrol sama mom dan dad nggak mungkin (ya eyalaah, jam segini kan jam-nya orang tidur, bukan ngobrol). Jadi, secara otomatis tangan segera menekan nomor teleponnya (siapa lagi yang bisa kuandalkan selain dia??). Nada telepon masuk terdengar berulang kali, tapi belum ada tanda telepon akan diangkat. Kucoba sekali lagi, masih sama saja. Terus saja kucoba hingga nyaris lebih dari 4 kali (harusnya sudah dapat hadiah piring tuh!). Lama-lama nada telepon masuk itu seperti menerorku. Walhasil, hati jadi resah dan gelisah.

so, salah siapa? salahkah dia yang tidak mengangkat teleponnya? tidak juga. mungkin saja dia lagi sibuk atau di kamar mandi. Lalu, salah siapa dong? jelas salah si alat komunikasinya.

Yakin, pasti banyak orang yang baca tulisan ini tidak akan setuju dengan pendapatku. Aku sendiri berada dalam posisi dilematis. entah mau memihak yang mana. Makanya aku menulis ini, sekadar ingin brainstorming aja tentang si alat komunikasi yang bernama hape.

seingatku, jaman dulu banget nih, tidak ada hape orang baik-baik aja. Komunikasi bisa dijalankan lewat telepon rumah, atau telepon koin (paling repotnya cuma nyari recehan sama ngantrinya), dan bagi yang mau kelihatan rada keren dan gaya bisa menggunakan pager. Everything was okay. Nah, sejak muncul hape, dan booming sejak milenium baru, hape bukan lagi sebagai alat komunikasi yang elite dan high class. Hape di jaman sekarang udah seperti kacang goreng! Tak heran semua kalangan, baik dari bawah sampai yang tertinggi pasti punya hape. Bagi yang tidak punya, siap-siap saja di-cap nggak gaul dan nggak up-to-date. Kalau sudah begitu, dia (yang tidak punya hape) dijamin nggak bakalan punya teman (habisnya, gimana mau bergaul kalau nggak punya hape??). Kacau kan?

udah ah, capek.... ntar disambung lagi yaa....

Wednesday, 15 July 2009

Koneksi internet yang Lelet

Bukannya mau gaya-gayaan atau sombong, tapi memang benar internet itu sudah merupakan kebutuhan buat aku. Hampir tiap hari mengakses internet, entah itu untuk mencari bahan mengajar atau sekadar membaca artikel-artikel. Tidak lupa juga membuka situs-situs social network seperti FaceBook, Kaskus, dan Yahoo Messenger.

Dan hari ini adalah hari yang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak? Akses internet sangat lambat, entah apa yang salah. Hari ini aku tidak mengunduh apapun dari internet. Bahkan sekadar menjelajah situs-situs saja sangat lambat! Heran, tidak biasanya seperti ini.

Mungkin sebagian orang akan bilang, ah itu karena kamu pakai koneksi internet yang paling rendah. Jelas itu tidak mungkin. aku menggunakan jasa Speedy dari Telkom untuk koneksi internetku dan aku menggunakan koneksi internet unlimited dengan kecepatan unduh tertinggi. Kalau dibilang karena koneksi internetku dibagi untuk beberapa komputer (sebentar, kuhitung dulu ada berapa komputer di rumah: 2 PC dan 3 laptop, lumayan banyak juga), rasanya juga tidak, sekali lagi aku kan menggunakan koneksi internet yang paling cepat.

Yang jelas, internet sangat penting bagiku, mungkin pentingnya bisa disamakan dengan makan tiga kali sehari. Bila koneksi internet melambat seperti yang terjadi hari ini, jelas itu akan mempengaruhi mood-ku. Bawaannya jadi kepingin marah terus (marahnya bisa lebih dahsyat kalau dikombinasikan dengan kondisi tubuh yang tidak fit dan lapar).

So, Speedy, please fix my D**n G*d internet connection!

Tuesday, 14 July 2009

Teenagers in the Classroom (1)

Noisy and laughing every time, that’s my teenager class!

There are 13 students in my class. They’re about 12-14 years old and in their first and second year in junior high school. When my principal gave me this class, I was afraid I couldn’t handle them but she encouraged me that I could. Then, after I met them, I fell in love with them! Even sometimes they make me crazy!

I find there are some problems teaching teenagers. Since they’re in their puberty, you’ll face some refusals, especially when you pair or group them with other students. For example, a girl student will refuse to be in pair with the boy and vice versa. As a teacher, you’ll also get protests from the student when you ask them to do some tasks or explain something but they disagree with it. Actually, all of these can be a serious problem if you don’t know how to handle them.

So, how to cope with these problem, miss?

Well, there’re some tips on how to handle these problems.


Be their friend, but….

It sounds easy but actually not that easy. You have to find out what they like and don’t like. Try to listen to their songs, read their favourite books, follow the latest trend, and anything that related to their life like school, computer game, and so on. From there, you can start a good conversation with them and they will feel that you really give them attention. The result, you’ll get their heart and build a good teacher-student relationship. But be careful! Even though you’re their friend, it doesn’t mean that you can give them freedom to do whatever they want.

Discipline them!

Even you’re very close to your students, you can’t let them break the rules! There should be a clear boundary between you as a teacher and as a friend. Always remind them about the rules and the punishments you’ve made since the first meeting, e.g. punctuation, behaviour, clothes, etc. If they break the rules, give them punishment. Don’t spoil them! As a new teacher, sometimes you let them break the rules because you want to take their heart. Be careful teacher! This can be a start of a chaos in your class. Strict to your rules! Although you’re a new teacher, show them that you’re the leader.


To be continued...

Tya dan Menulis (1)

Tya dan Menulis?? Apa hubungannya??

Tentu ada dong, hubungannya sudah berlangsung sejak seorang Tya masih anak kecil. Masih di bangku sekolah dasar, tepatnya. Tya kecil memang sudah menggemari menulis. Mungkin ini disebabkan oleh faktor genetik juga, Daddy-nya Tya itu dosen komunikasi di FISIP UI, jadi saban hari Tya kecil sudah dicekoki dengan beragam bacaan. Dari membaca itulah Tya kecil jadi suka nulis-nulis. Mulai dari menulis diari yang norak abis sampai bikin puisi.

Pengarang favorit Tya kecil (sampai sekarang juga sih...) adalah Enid Blyton. Tya kecil ingat sekali waktu Daddy-nya membelikan 6 jilid novel Enid Blyton yang judulnya "Malory Towers". Wah, itu buku nggak ada yang ngalahin deh! Bisa dibaca sepanjang masa! Selain itu, masih banyak buku-buku lainnya, juga komik. Eh, tapi komiknya nggak sembarang komik lho. Komiknya tuh Tintin, Lucky Luke, dan berentet judul lainnya. Ah, Daddy-nya Tya emang baik banget deh!

Beranjak remaja, Tya remaja nggak ikut-ikutan baca majalah cewek seperti teman-temannya yang lain. Kata Tya remaja "Gak asik, isinya iklan melulu, mending baca Bobo." Bobo? Tya remaja suka baca Bobo? Betul banget! Tya remaja tidak terpengaruh sama teman-temannya. Bacaan setianya adalah Bobo (hingga sekarang pun bundelan Bobo itu masih tersimpan rapi di gudang). Makanya, Tya remaja pada waktu itu nggak gaul banget deh! dandanannya nggak fashionable. Gak up-to-date. Hihihi.... Tapi biar begitu, Tya remaja tidak menyesal lho. Tumbuh besar bersama Bobo benar-benar membuat hidup Tya remaja damai sentosa. Membaca cerpen-cerpen yang dimuat di Majalah Bobo benar-benar merupakan kebutuhan.

Dari remaja, Tya sudah mulai menulis puisi. Beberapa puisinya dipuji sama guru bahasa Indonesia. Tapi hanya sebatas itu saja. Sedihnya, buku yang berisi kumpulan puisi Tya remaja hilang. Entah kemana, apakah diambil orang atau tak sengaja terbuang. Sampai detik ini, Tya dewasa masih suka menyesali buku puisi yang hilang itu.

Beranjak dewasa, Tya makin gencar menulis. Apalagi waktu di SMA, guru bahasa Indonesianya sangat mendukung. Jadilah Tya produktif menulis puisi. Tiada hari tanpa membaca buku. Sementara teman-temannya asyik membaca novel-novel remaja dan manga, Tya waktu SMA lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan, membaca roman-roman melayu dan sastra pujangga lama. Semua dilalap habis. Itulah bekal seorang Tya dalam menulis ke depannya.

Memasuki dunia kuliah, Tya sempat vakum dalam menulis 3 tahun lebih hingga ia bergabung dengan komunitas penulis di dunia maya. Dari komunitas inilah, Tya mendapatkan sahabat-sahabat penulis yang terus mendukung dan menyemangatinya untuk terus menulis. Dan jadilah seorang Tya produktif kembali dalam menulis, khususnya puisi.

bersambung....


© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.