Wednesday, 26 August 2009

Memasyarakatkan Sastra (dan Mensastrakan Masyarakat?)


Oleh: Atisatya Arifin

COBA TAFAKUR SEJENAK, apa yang membayang di benak kita, jika kita mengeja atau membaca kata sastra? Bagi sebagian orang, sastra adalah sesuatu yang aneh. Sesuatu yang menjemukan dan membosankan. Uniknya, tidak banyak di antara kata yang hobi membaca karya sastra, apalagi menulis sastra. Misalnya saja, lembar budaya di media suratkabar yang sering berisi puisi, cerita pendek, esai, dan opini. Paling yang dilirik orang adalah puisinya. Itupun karena sepintas terlihat ringan, singkat, dan padat. Membaca novel sastra, apalagi. Wow, tidak semua orang mampu melakukannya.

Saya sendiri sempat terperangah ketika ditodong sebuah pertanyaan oleh seorang teman ngobrol di dunia maya. Pertanyaannya, sebenarnya, sederhana saja. “Apa yang kamu ketahui tentang sastra?” Sewaktu SMA, saya mengambil jurusan Biologi. Otomatis, bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia bukanlah pelajaran favorit saya. Maka, tidak heran jika saya tergagap ketika ditodong dengan pertanyaan sepelik itu.

Bagaimana dengan kamu?

Rasa ingin tahu itu terus berkecamuk di benak saya. Akhirnya, saya tidak kuasa keinginan mencari tahu apa dan seperti apa wujud sastra yang sebenarnya. Ketika membuka halaman Wikipedia Indonesia, saya menemukan pengetahuan baru. Ternyata, sastra itu kata serapan, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”. Hanya saja, sastra dalam bahasa Indonesia lebih merujuk pada pada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Rasa dahaga itu tidak terpuaskan begitu saja. Perpustakaan pribadi pun segera menjadi korban, diacak-acak demi menuruti kata hati. Akhirnya, bersua jua pencarian itu. Sastra, dalam kacamata HB. Jassin, adalah karya tulis yang, jika dibandingkan dengan karya tulis yang lain, memiliki beberapa ciri seperti keorisinalan, kerartistikan, serta keindahan dalam isi dan ungkapannya. Sastra yang baik adalah sastra yang senantiasa mengandung nilai. Nilai itu dikemas dalam wujud struktur karya sastra. Sastra yang baik harus mengandung tiga aspek dalam setiap karyanya, yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Kalau ada karya sastra yang mengorbankan salah satu dari aspek ini, maka sastra itu dikatakan kurang baik.

Lalu, bagaimanakah kondisi sastra Indonesia sekarang?

Di mata para pelajar, baik sekolah menengah pertama maupun atas, sastra adalah suatu hal yang menjadi momok. Pelajaran yang sebisa mungkin dihindari. Lucunya, banyak sekali siswa yang tiba-tiba bisa menulis puisi karena sedang jatuh cinta, bahkan bisa menulis surat cinta yang nyastra banget dan romantis habis. Namun, terlepas dari hal itu, sastra tetap sebuah fenomena yang menarik untuk diselusuri.

Pertanyaan mendasar yang perlu kita kemukakan adalah mengapa pembelajaran sastra tidak bisa membumi? Mengapa sastra tidak bisa populer di mata pelajar? Inilah yang perlu kita telaah bersama. Bagaimanapun, bahasa menunjukkan bangsa. Dan, bahasa yang bijak, sejatinya berasal dari tuturan kalimat yang runut, rentet, dan enak dibaca. Anehnya, semua kriteria itu bisa kita temukan pada sastra. Masalahnya, selama ini, pengajaran sastra di dalam kelas hanyalah sekadar formalitas kurikulum. Bukan sebuah perilaku sadar yang bisa mendorong siswa untuk lebih mencintai sastra, dengan belajar bagaimana mengapresiasi sastra, khususnya sastra Indonesia.

Siapa yang tidak kenal Naruto, ninja remaja dengan wujud setengah rubah yang ingin menjadi ninja terkuat di desanya, yang komiknya dibaca hampir semua lapisan masyarakat, mulai dari siswa sekolah dasar hingga dosen perguruan tinggi ternama. Mirisnya, siapa yang kenal dengan Mariamin, tokoh dalam novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar? Atau puisi Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail? Kalaupun iya, mungkin hanya segelintir saja yang mengenalnya. Ini menunjukkan rendahnya apresiasi sastra bangsa Indonesia. Padahal, apabila seseorang telah mampu mengapresiasi sastra, ia akan ikut larut dalam kehidupan yang dialami pengarangnya, yang tertuang dalam karya ciptanya. Si pembaca akan berempati terhadap isi karya sastra tersebut, terbawa dalam suasana dan gerak hati dalam karya itu hingga pada akhirnya akan timbul rasa nikmat pada si pembaca.

Sebagian besar pelajar menganggap sastra adalah pelajaran yang membosankan, yang tidak harus dipelajari secara khusus di sekolah. Bandingkan dengan negara-negara lain, jika siswa SMU di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku selama tiga tahun, di Jepang dan Swiss 15 buku, siswa SMU di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra, siswa SMU di Indonesia-setelah era AMS Hindia Belanda-adalah nol buku. Padahal, pada era Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda, selama belajar di sana siswa diwajibkan membaca 15-25 judul buku sastra.

Lalu, apa yang menyebabkan apresiasi sastra di Indonesia kian merosot?

Kurikulum pendidikan saat ini (KTSP) sudah lebih bersahabat dengan sastra dibandingkan kurikulum terdahulu. Sebagai contoh, dalam pembelajaran sastra di SMP, kini sudah ada keterampilan (1) mendengarkan sastra, (2) berbicara sastra, (3) membaca sastra, dan (4) menulis sastra.

Namun, tetap saja siswa buta terhadap sastra. Ada apa gerangan? Meski kurikulum telah mendukung dan tidak lagi menganaktirikan sastra dalam pendidikan di Indonesia, ternyata para pendidik belum mampu mengimplementasikan sastra sebagaimana mestinya. Sejatinya, pengajaran sastra tentu berbeda jauh dengan pengajaran bahasa . Lantas, langkah apa yang harus diambil agar kondisi sastra Indonesia tidak makin terpuruk?

Pertama, guru sastra harus bisa memberikan wawasan yang luas mengenai sastra, khususnya sastra Indonesia. Guru diharap bisa menjadi teladan bagi siswanya untuk lebih mencintai
sasta. Bagaimana mungkin siswa bisa mengapresiasi dan mencintai sastra apabila gurunya sendiri tidak menyukai sastra?

Kedua, memperbanyak kegiatan sastra seperti lomba penulisan puisi dan cerpen, pentas pembacaan puisi dan drama, juga menyediakan media publikasi khusus sastra. Hal ini dilakukan agar pembelajaran sastra tidak hanya sebatas teori-teori di atas kertas, melainkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan.

Bagaimanapun, jika seorang guru bahasa yang pun merangkap guru sastra, bisa memahami dan mengapresiasi sastra dengan baik, akan menumbuhkan cinta dalam dirinya, yang diharapkan bisa memancar ketika sedang mengantar pembelajaran sastra. Semoga.

Di luar institusi pendidikan, banyak lembaga swadaya masyarakat yang peduli dengan kemajuan dan pertumbuhan sastra. Sebut misalnya tumbuhnya banyak komunitas sastra, termasuk Kelompok Jakarta (KEJAR) Sastra. Komunitas dari beragam latar belakang usia, pendidikan, agama, dan status sosial ini memegang prinsip: menulis, membaca, dan mengapresiasi. Semua anggota komunitas memiliki kewajiban tidak tertulis untuk menghasilkan karya sastra, entah berbentuk puisi, cerpen, esai, bahkan novel. Karya sastra itu kemudian diposting di sebuah website Kemudian.com, lalu dibaca dan diapresiasi oleh anggota komunitas lainnya.

Sederhana memang, namun upaya ini adalah terobosan alternatif yang bi sa menjadi solusi di tengah semakin marjinalnya sastra bagi kalangan generasi muda. Lihat saja, 24 orang atau 36,92% dari 65 anggota komunitas KEJAR SASTRA adalah siswa SMP/SMA, sementara 21 orang atau 32,30% adalah mahasiswa. Sisanya, 20 orang atau 30,76% adalah pekerja/penganggur produktif dari berbagai latar profesi.

Memang, apa yang dilakukan oleh KEJAR SASTRA untuk memasyarakatkan sastra, belumlah ideal sesuai harapan bersama. Setidaknya, geliat baru untuk mencapai perubahan baru bisa mengemuka. Dan, seperti tutur orang bijak, langkah satu mil selalu dimulai dari langkah pertama.

Opini ini dimuat pada Harian Media Indonesia, 14 September 2008. Versi elektronik opini ini bisa dilihat pada Opini: Pelajar Jepang baca 15 buku, Indonesia nihil!

Tuesday, 25 August 2009

Puasa dan Melilea untuk tubuh yang sehat!


Bulan Ramadhan merupakan bulan suci yang dinantikan oleh segenap umat muslim di seluruh belahan bumi. Tentu saja beribadah di bulan ini memiliki pahala yang berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan lainnya. Demi menyambut bulan penuh berkah ini, banyak orang yang bersungguh-sungguh mempersiapkan diri dalam menghadapi bulan ini. Mulai dari latihan puasa di bulan sebelumnya (Rajab dan Sya'ban) hingga minum suplemen dan vitamin.

Aku pribadi, memiliki cara khusus dalam menjalankan puasa yang sehat di bulan Ramadhan tahun ini. Berhubung bulan Oktober nanti aku akan menikah, maka bulan Ramadhan ini, selain dijadikan ajang untuk mengejar pahala, juga untuk menurunkan berat badan. Cara yang aku lakukan adalah dengan mengkonsumsi Melilea Greenfield Organik. Dengan mengkonsumsi Melilea, aku tidak hanya mampu menjalankan puasa dengan lancar tetapi juga sekaligus mendapatkan tubuh yang sehat.

Salah satu cara yang aku lakukan dalam mengkonsumsi Melilea selama bulan Ramadhan ini adalah sebagai berikut:

Berbuka puasa:
  • minum segelas teh hangat atau hidangan berbuka lainnya
  • minum Melilea Greenfield Organik dan 30 menit kemudian minum air putih
  • makan buah-buahan dan minum air putih
Setelah shalat magrib:
  • makan beberapa potong kue/hidangan berbuka lainnya
  • makan buah-buahan dan minum air putih
Setelah shalat tarawih:
  • Melilea Greenfield Organik (bisa dicampur dengan jus buah atau dengan jeruk nipis)
  • 30 menit kemudian minum air putih
  • makan buah-buahan
  • boleh makan nasi dengan lauk pauknya (1/2 porsi)
  • minum air putih
Waktu sahur:
  • Melilea Greenfield Organik (bisa dicampur dengan jus buah atau jeruk nipis)
  • 30 menit kemudian minum air putih
  • boleh makan nasi dengan lauk pauknya (1/2 porsi)
  • minum air putih
Tips berpuasa dengan Melilea:
  • Minum MELILEA Greenfield Organic minimal 3x mulai jam berbuka sampai waktu imsak
  • Minum air putih minimal 2 liter mulai jam berbuka sampai waktu imsak
  • Buatkan Soya lebih kental [3 sendok untuk 1 gelas takaran] agar stamina Anda lebih fit di siang hari
  • Jangan makan berlebihan pada minggu pertama puasa
  • Untuk menghindari rasa ingin buang air kecil saat shalat Tarawih, minum air putih secukupnya sehabis waktu berbuka puasa dan perbanyaklah setelah shalat Tarawih sampai waktu imsak
  • Metode di atas juga bisa dilakukan sewaktu menjalani puasa lainnya

Aku sendiri menjalankan cara konsumsi Melilea seperti yang di atas dan alhamdulillah hingga hari kelima ini kondisi tubuhku baik-baik saja dan tetap segar dan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Bagaimana dengan anda? insyaAllah berpuasa dengan mengkonsumsi Melilea Greenfield Organik ini menjadikan tidak hanya jiwa yang bersih tetapi juga tubuh yang bersih.

Selamat mencoba!

Sunday, 23 August 2009

Review - High Quality Perfume @ ParfuMart

Aku masih ingat pertemuan pertamaku dengan calon suamiku. Satu hal yang membuat aku tergila-gila padanya adalah wangi tubuhnya yang khas dan bisa bikin aku melayang (lebay mode ON). Melihat dari penampilannya (gosh, dia itu selalu rapih, tidak pernah sekalipun aku lihat dia acak-acakan), makanya aku berpikir kalau dia pasti menggunakan parfum asli atau original.

Setelah kenal cukup lama dan cukup dekat, dia membeberkan rahasianya kalau dia tidak menggunakan parfum original melainkan parfum refill. HAH??? Jelas aku tidak percaya, karena setiap kali jalan bareng dia, wangi tubuhnya awet sekali, dan rasanya tidak mungkin kalau parfum yang dia pakai itu parfum refill (mana ada parfum refill yang baunya awet gitu seperti parfum original?)

Akhirnya kudesak dia untuk memberi tahu aku di mana dia beli parfum refill itu dan ternyata rahasia wangi tubuhnya yang bisa buat aku melayang adalah:


Parfumart adalah Toko Parfum Re-Fill atau Isi Ulang. Disini kita bisa menemukan ratusan aroma wewangian parfum internasional & aromaterapi. Disini kita juga bisa meminta custom perfume, yaitu parfum unik (personal perfumes) yang diracik dengan aroma pilihan anda sendiri yang disesuaikan dengan personality, mood, keperluan kita, dsb dengan cara mix atau mencampur aroma-aroma yang kita minati. Dengan karyawan-karyawan yang sudah berpengalaman sebagai konsultan pribadi, kita dapat tampil beda dengan “personal perfume”. Dan juga didukung dengan standarisasi alkohol, stabilizer & fixative menambah kualitas parfum ciptaan sendiri ini tidak kalah dengan parfum-parfum original yang harganya selangit. Jika kita kurang tertarik atau tidak pede dengan parfum ciptaan sendiri, tidak perlu kuatir. Di Parfumart kita juga bisa mendapatkan aroma-aroma parfum internasional yang up-to-date dengan harga sangat terjangkau.

Tahu dari mana?
Tahu dari yayang tercinta yang juga sudah berbaik hati bolak balik nganterin ke tokonya ^.^

Beli di mana?
ParfuMart cuma ada 3 cabangnya. Satu di Bandung (pusat), dan dua lainnya ada di Tebet dan Depok.
  • Parfumart Bandung : Jl Paledang No 54 / 022-4215485
  • Parfumart Jakarta : Jl Tebet Dalem Raya No 94 F / 021-83793813
  • Parfumart Depok : Jl Margonda Raya No 345 D / 021-77204207
Harganya?
Relatif, tergantung kualitas bibit, banyaknya (ml), dan botol yang digunakan. Harga paling murah dari IDR 10k. Rata-rata aku beli parfum di ParfuMart, dengan botol kapasitas 30ml, harganya sekitar IDR 35k.

Varian yang dibeli?
Sejak pertama kenal toko ini sampai sekarang, aku sudah beli lebih dari 5 varian parfum.
  1. Channel - Chance (pilihan si yayang, baunya very mature)
  2. Thierry Mugler - Angel (bau yang sangat eksotik, sangat "aku" banget)
  3. Chacharel - Amor Amor (wanginya yang manis dan lembut cocok buat sehari-hari)
  4. Clinique - Happy Day for Men (meskipun buat cowok, tapi baunya yang seger bisa bikin semangat)
  5. Carolina Herrera - 212 (bibitnya udah nggak ada di Tebet tapi di Depok masih ada, huff... one of my signature perfume)
Klaim produk?
ParfuMart bukanlah seperti parfum-parfum refill lain yang cuma sekadar mencampurkan alkohol dengan bibit parfum. Bibit parfum yang dipilih benar-benar kualitas nomor satu, dengan bau yang 90% sama persis dengan parfum aslinya. Selain itu dengan adanya standarisasi alkohol, fixative, dan stabilizer membuat parfum racikan ParfuMart tahan lama (bisa sampai 6-8jam lebih, tergantung komposisi bibit dan alkohol).

Cara pemakaian?
Yang unik dari parfum refill ParfuMart ini adalah ketika kita membeli parfum, karyawannya akan meminta kita untuk memasukkan parfum ke dalam kulkas minimal 1 jam sebelum bisa digunakan. What for? katanya sih biar campuran alkohol dan bibit menjadi stabil disebabkan oleh suhu dingin dari kulkas itu (masuk akal kok, soalnya aku sempat tanya sama temanku yang kuliah di jurusan kimia dan katanya memang benar, fungsinya supaya molekul-molekulnya saling mengikat dan tidak mudah terlepas). Setelah 1 jam (atau lebih), baru deh parfumnya bisa digunakan sesuka hati.

Kesan setelah pemakaian?
Dari sejak pertama ke toko ParfuMart, aku sudah suka dengan pelayanannya. Karyawannya pada sabar meladeni pembeli. Aku sering bilang sama karyawannya, "mas, saya pingin parfum yang baunya soft, seger, tapi khas, bla bla bla bla...", dan dengan senyuman si karyawan akan memberikan rekomendasi parfum-parfum apa saja yang sesuai dengan kriteria yang sudah aku sebutkan tadi. Hampir semua pelanggan ParfuMart melakukan itu juga....

Selain itu, karyawan tidak pernah lupa mengingatkan bagaimana cara memakai parfum yang benar, misalnya, jarak semprot parfum dengan baju (supaya parfum tidak meninggalkan noda kuning di baju), di bagian tubuh mana parfum sebaiknya disemprotkan, dan cara penyimpanan parfum yang baik supaya kualitasnya tetap terjaga. Intinya, beli parfum di ParfuMart bener-bener menambah pengetahuan tentang parfum.

Dan, akhirnya, untuk kualitas parfumnya sendiri... tidak diragukan lagi, wanginya benar-benar awet dan sama persis dengan yang asli. Sesuai lah dengan harga yang dibayarkan. Dan dengan harga yang terjangkau, aku bisa punya lebih dari 3 parfum untuk setiap aktivitas. hehehe.

dan akhirnya.....

My Review:
Product: 5/5
Quality: 5/5
Packaging: 4/5
Price: 5/5
Overall: 4.5/5

Kelebihan:
  • Harga yang sangat terjangkau untuk kualitas nomor satu
  • Wangi parfum dijamin tahan lama (min. 6 jam)
  • Wangi parfum 90% sama persis dengan parfum original-nya
  • Pelayanan yang memuaskan (karyawannya pada sabar, baik dan full senyum)
  • Tersedia parfum dengan berbagai pilihan (sampai bingung deh milihnya)
Kekurangan:
  • Cabangnya cuma 2 (di Tebet sama Depok). Kalau ke Bandung kan lebih nggak mungkin lagi.
  • Botol kemasannya kurang variatif. Tapi kalau kita punya botol sendiri bisa juga minta isiin sama dia.
Info tambahan:
ParfuMart cabang Tebet buka setiap hari (Senin-Minggu), tapi kalau yang di Depok cuma buka dari Senin-Sabtu (Minggu tutup).

Beli lagi apa nggak ya?
Definetely YES! malah balik ke ParfuMart itu sudah menjadi kegiatan rutin tiap bulan, karena setiap ada parfum-ku yang habis, harus cepat-cepat di-refill lagi... ^.^

Penilaian keseluruhan:
Four thumbs up! semua jempol dipake, yang berarti EXCELLENT PRODUCT and RECOMMENDED PRODUCT!

Friday, 21 August 2009

Review - Lulur Pengantin Ayudya

Lagi-lagi review produk perawatan tubuh! Maklum lah, namanya juga mau nikah sebentar lagi. Tapi dengan begini kan aku jadi punya alasan untuk mencoba produk-produk perawatan tubuh. Hehehe.

Sebelumnya aku sudah me-review Yoko Milk Salt, scrubbing yang oke banget untuk menghaluskan kulit, de el el. Yang belum baca reviewku, silahkan mampir ke sini: Review - Yoko Milk Salt.

Kali ini, produk yang akan aku review masih nyerempet-nyerempet sedikit dengan produk sebelumnya, yaitu lulur!

Siapa yang nggak kenal lulur? dari jaman ibu kita masih A-be-ge, yang namanya lulur udah dikenal, bahkan dari sejak jaman keraton. Dulu luluran identik sama putri-putri raja dan keraton, alias eksklusif banget deh, ramuannya aja sampai dirahasiakan. Tapi sekarang jaman udah moderen, semua orang boleh luluran! dan karena itu juga produk lulur merajalela di pasaran.

Hmm, saking banyaknya produk lulur, kadang kita jadi bingung sendiri mau pakai yang mana. Produk A mengklaim bisa memutihkan, B bisa menghaluskan, C bisa meremajakan, dan masih banyak lagi. Belum lagi dengan pilihan aroma yang bikin kita makin bingung untuk memilih, mulai dari aroma bebungaan hingga buah-buahan lengkap tersedia (kalau aroma bunga bangkai sama buah busuk ada nggak ya??? >.<).

Oke, langsung aja deh, ke produknya. Nama produknya adalah.... (jreng jreng jreng...)

"LULUR PENGANTIN AYUDYA"

Lulur Pengantin Ayudya sanga baik untuk memutihkan, mencerahkan kulit, menghaluskan, melembabkan, menghilangkan warna hitam di bawah ketiak, selangkangan paha dan noda-noda hitam di kulit., serta mengharumkan kulit. Lulur ini diproduksi oleh PT. Ayu Naturally Cemerlang, sebuah perusahaan lokal yang mengkhususkan diri pada produk kecantikan.


Tahu dari mana?
Lihat banyak seller kaskus yang jual produk ini, terus penasaran deh!

Beli di mana?
Beli di toko kosmetik dekat rumah, lagi iseng jalan-jalan cuci mata, tiba-tiba ngeliat lulur ini, ya udah deh dibeli.

Harganya?
IDR 25k (1000 gr)

Varian yang dibeli?
Aromatherapy Herbal Spa

Komposisi:
Susu pemutih, Vit E, Vit C, Herbal oil, Olive oil, scrub dari bahan alami sehingga tidak menyebabkan iritasi


Klaim produk?
  • mengurangi biang keringat
  • memberikan efek peremajaan kulit
  • mengandung temulawak dan kunyit putih
  • baik untuk perawatan kulit kusam dan tanda bekas gigitan nyamuk dan jerawat di punggung
Cara Pemakaian?
Sewaktu mandi dalam keadaan kering, lulur digosokkan ke seluruh tubuh (lengan, leher, badan, dan kaki) sampai mengering dan butiran lulur berjatuhan bersama kotoran yang menempel pada tubuh. Setelah itu dibilas sampai bersih dan tidak perlu lagi menggunakan sabun. Bisa juga dipakai untuk lulur urut.

Kesan setelah pemakaian?
Aku memang sengaja beli yang varian "Aromatherapy Herbal Spa" karena aku bosan dengan lulur-lulur yang pernah aku coba, yang rata-rata fungsinya untuk memutihkan kulit. Aku tertarik memilih varian ini karena tertulis di pack-nya bahwa lulur ini baik untuk perawatan kulit kusam (secara aku sadar banget nggak mungkin jadi putih, so nggak putih nggak apa-apa asal yang penting nggak kucel dan kusam aja).

Pertama buka package, baunya bener-bener kaya bau lulur tradisional, alias jamu banget! (yuk!), tapi demi menghilangkan kulit kusam tak apa lah. Sorenya lulur ini langsung di-test. Ternyata scrub-nya nggak nendang, dengan kata lain scrub-nya tidak terlalu terasa (jauh bila dibandingkan lulur sekar jagat atau lulur plasenta). Walhasil, luluran-nya jadi kurang maksimal. Tapi kalau berdasarkan dari penjelasan lulur, scrub memang sangat halus karena dibuat dari bahan alami hingga tidak menyebabkan iritasi. Tapi tetap saja, buat aku yang berkulit badak, jadi berasa seperti tidak luluran.

Akhirnya, untuk mengakali supaya scub-nya berasa, lulur ini aku campur dengan Yoko Milk Salt. Hasilnya? oke punya! cuma sayang wangi Yoko Milk Salt-nya jadi tidak tercium karena kebanting dengan bau lulur ayudya. Selain itu, meskipun sudah dicampur, kotoran (daki, red.) tidak bisa rontok semudah menggunakan lulur sekar jagat ataupun plasenta.


My Review:
Product: 3/5
Quality: 3/5
Packaging: 3/5
Price: 4/5
Overall:3/5

Kelebihan:
  • Harganya murah, dengan IDR 25k bisa dapet lulur 1 kg!
  • Lulurnya nggak habis-habis! (udah hampir 1,5 bulan dan baru habis setengah pack)
  • Kulit jadi halus setelah pakai lulur ini dan hangat (mungkin karena ada kandungan temulawak dan kunyit putihnya)
Kekurangan:
  • scrub-nya nggak berasa, jadi kotoran (daki, red.) tidak rontok semudah dan secepat menggunakan lulur lain
  • kalau mau scrubnya berasa, harus dicampur dengan Yoko Milk Salt dulu, tapi jadi sayang Yoko-nya..
  • Untuk varian Aromatherapy Herbal Spa ini baunya enggak banget (mungkin karena memang kandungannya benar-benar herbal ya?)
Info tambahan:
Lulur Pengantin Ayudya ini memiliki banyak varian dengan fungsinya masing-masing (green tea, mandi susu, aromatherapy spa jasmine, aromatherapy herbal spa, bengkoang, mutiara, coffe lavender, avocado+vit E oil, chocolate+extract ginger).

Beli lagi atau nggak ya?
Sepertinya sih aku akan beli lagi, cuma tidak akan beli yang "aromatherapy herbal spa" (kapok dengan bau-nya!). Rencananya kalau yang di rumah sudah habis aku mau coba yang varian avocado+vit E oil (cocok untuk mereka yang berkulit kering atau sering di ruangan ber-ac) atau chocolate+extract ginger (antioksidan-nya tinggi jadi bisa mencegah penuaan dini).

Penilaian keseluruhan:
Untuk sementara ini aku kasih nilai "biasa-biasa aja", tapi mungkin pendapatku akan berubah kalau aku sudah mencoba yang varian lain... ^.^ LOL

Review - Yoko Milk Salt


Belakangan ini aku memang jadi genit. Mungkin karena dua bulan lagi aku akan menikah (gosh... T.T). Segala daya dan upaya dilakukan supaya bisa terlihat sempurna di hari bersejarah itu. Ditambah dia (my fiancee) yang (menurut aku) ganteng dan always looks perfect. Jelas aku nggak mau kalah saing (maksudnya mau terlihat
cantik dan perfect juga), makanya aku jadi rajin merawat tubuh.

Salah satu perawatan tubuh yang belakangan ini rutin aku lakukan adalah scrubbing. Scrubbing sangat penting untuk melancarkan peredaran darah dan juga untuk menghilangkan sel-sel kulit mati yang buat kilit kita jadi kusam dan tidak bersinar. Nah, setelah browsing kesana kemari, ketemu deh dengan satu produk yang bikin aku jatuh cinta.

Nama produknya "YOKO MILK SALT"


produk Thailand yang udah terkenal di mancanegara ini benar-benar efektif untuk menghilangkan sel-sel kulit mati, mencerahkan dan menghaluskan kulit. Kandungan vitamin E, vitamin B3, kolagen dan susu murni yang ada dalam milk salt ini memberikan nutrisi untuk kulit supaya kulit tetap segar dan fresh.

biar lebih jelas, nih aku kasih tahu fungsi dari tiap bahan-bahan yang ada dalam produk ini:

  1. Vitamin B3 : membantu mengelupas kulit mati dan membantu regenerasi sel kulit, membuat warna kulit merata (tidak belang/gelap di bagian tertentu)
  2. Kolagen: memperbaiki tekstur kulit, mengencangkan kulit, menghilangkan dan mencegah keriput.
  3. Vitamin E : merupakan antioksidan yang baik untuk kulit, membantu melindungi sel-sel kulit dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas, dan memperlambat penuaan dini.
  4. Susu murni: menghaluskan kulit, menutrisi kulit
Cara pakainya juga gampang. Pertama-tama kulit kita harus dalam keadaan basah/lembab, lalu Yoko Milk Salt ini bisa langsung digosokkan ke seluruh permukaan kulit tubuh. Bagusnya sih digosok dari kaki ke atas (menuju jantung), terus dari pergelangan tangan ke bahu, pas gosok bagian perut gosoknya searah jarum jam (mengikuti alur pencernaan, jadi pencernaan jadi lancar). Kalau menggosoknya seperti itu, manfaatnya lebih besar lagi, karena tidak cuma sekadar scrubbing tetapi juga melancarkan peredaran darah kita. Setelah digosok, biarkan selama 3-5 menit, baru dibilas. Tidak perlu pakai sabun lagi, langsung handukan. Dan dijamin kulit langsung soft banget dan wanginya benar-benar menggoda!

Pertama kenal produk ini, aku cuma tahu ada satu varian (Yoko Milk Salt bungkus warna hitam). Ternyata seminggu yang lalu, sis Susan (seller Yoko langgananku) bilang kalau ada 2 varian baru dari Yoko Milk Salt, yaitu Yoko Yoghurt Spa Milk Salt dan Yoko Lavender Spa Milk Salt. Langsung aja deh order karena penasaran pingin tahu bedanya.

Ternyata, setelah di-ujicoba (hehehe), Yoko Yoghurt Spa Milk Salt dan Yoko Lavender Spa Milk Salt itu sama-sama enaknya! Tapi kalau aku disuruh memilih, aku lebih suka Yoko Yoghurt Spa Milk Salt karena bau strawberry yoghurt-nya yang yummy abis!

Intinya, scrubbing dengan Yoko Milk Salt nggak rugi deh! Kulit halus, mulus, segar, dan fresh!


Review Produk
  • Product = 4/5
  • Quality = 4/5
  • Packaging = 3/5
  • Price = 3/5
  • Overall = 4/5
Pro :
Cara pakai produk yang praktis, aroma yang segar dan tahan lama, dan harga yang tidak terlalu mahal menjadi kelebihan dari produk ini. Apalagi dengan pemakaian rutin, hasil yang didapat benar-benar maksimal!

Kontra:
Sayangnya produk ini tidak dijual di swalayan-swalayan seperti Carrefour, Hypermart, Giant, Century, Guardian, dll. Sehingga sulit untuk memperoleh produk ini. Produk ini bisa dibeli via online atau di toko-toko kosmetik (seperti di Pasar Tebet, ITC Depok, dll).

Beli lagi atau tidak ya?
Jelas! aku akan beli lagi! meskipun memang untuk membelinya harus via online atau ke toko tertentu, tetapi untuk mendapatkan kulit yang mulus dan kinclong... worthed laah... :)

Sepertinya segini dulu review produk-nya, nanti ditambah lagi deh! Semoga bermanfaat yaa...

Monday, 10 August 2009

My Diet Plan with Melilea


As I told you before, I'm struggling very hard to lose my weight. Rather than using untrustable diet pills or doing some crazy diet plan, I choose Melilea as my diet plan.

The first time I knew Melilea was in 2007. I heard from one of my friend that Melilea can reduce your weight in a heathly way. At that time, I thought it was worth-trying to try this product and finally I bought it. I bought it from online store. The price was around 550 thousand rupiahs for the big bottle and 160 thousand rupiahs for the small one.

Most of people don't like drinking this product because the smell is so bad that you can throw up instanly. The first time I drank Melilea, I felt the same way too.... but I tried not to think about it and just think the result after I drank it. In a month, I drank the big bottle of Melilea and thanks God! I lost about 6 kilos! I was so happy!!! I felt much lighter and healthier. It was too bad that I didn't continue drinking Melilea to mantain my weight.

Now, after I have my own salary, I start using Melilea again. especially with the fact that I'm getting married in the next two months. My target is to lose around 5-6 kilos, so My weight is about 48-50 kilos (now I'm 55 kgs). Well, it's a long way to go and of course it will full of sacrify. I don't mind. i really don't mind at all.......

so, now all we can do is just wait and see....



Friday, 7 August 2009

Persiapan Pernikahan (2)

Belakangan ini aku dan mas Didit sedang getol-getolnya mencari isian untuk srah-srahan peningset yang akan dibawa pada saat acara midodareni.

Sebelumnya kita sudah me-list apa saja yang kira-kira akan dijadikan seserahan... Biasanya sih seserahan itu isinya alat shalat, perlengkapan mandi (handuk dll), kosmetik, sepatu, tas, pakaian dalam (ini yang aku paling bete, emangnya perlu ya?), pakaian, dan makanan (kalau ini sih nggak mesti cepat-cepat dibeli).

Dari sekian banyak itu, alhamdulillah sebagian sudah terbeli, seperti tas dan mukena. Kalau untuk kosmetik kata mamah sih Bude-nya mas mau nyumbang. Alhamdulillah, berarti aku dan mas bisa menghemat pengeluaran dan bisa dialihkan untuk kebutuhan yang lain. Sisanya, seperti perlengkapan mandi dan sepatu belum sempat dibeli. Mungkin besok kalau ada waktu kita akan cari. Kira-kira beli di mana ya? kalau bisa sih yang ada diskonnya sekalian. Hihihi....

Hari ini, rencananya kita berdua akan hunting sepatu dan handuk. Budgetnya?? hmm, berapa ya? yang pasti tidak lebih dari 500 ribu. Mas berencana untuk mencari kedua barang itu di Mall Ambasador. Kebetulan aku juga belum pernah ke sana, jadi sekalian deh, biar tahu....


Tuesday, 4 August 2009

Persiapan Pernikahan (1)

Pagi ini iseng browsing di internet tentang persiapan pernikahan. Awalnya aku ingin mencari wedding scrapbook, biar nanti ada kenang-kenangannya tidak cuma album foto aja. Eh, ternyata malah menemukan artikel yang membahas tentang mempersiapkan pernikahan.

Singkat saja, setelah aku membaca artikel itu, aku langsung pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak pusing? di artikel itu tertulis bahwa persiapan pernikahan itu sebaiknya dilakukan dari setahun sebelumnya. Waks! jangankan setahun, 3 bulan aja aku tidak sampai! langsung deh aku panik memikirkan banyaknya hal-hal yang belum dipersiapkan.

Di bawah ini adalah hal-hal yang sudah aku persiapkan:

  1. Baju seragam keluarga, baik untuk keluarga aku dan keluarga mas. Banyak terima kasih untuk Bulik Nina yang sudah membantu dalam memilihkan baju kebaya seragam untuk keluarga.
  2. Catering dan rias pengantin. Meskipun baru bayar 50% tapi sudah sedikit tenang lah, untungnya jasa rias pengantinnya dekat dengan rumah jadi enak konsultasinya.
  3. Gedung. Akhirnya gedung yang akan dipakai adalah gedung Bima Sakti di daerah Pancoran, Jakarta. Minggu kemarin, mom dan mas Didit sudah mengurus gedung dan melunasi biayanya. Huff, lega deh.
  4. Souvenir. Nah, kalau ini memang sudah jauh hari dipesan, sengaja biar tidak mumet dan kalau tiba-tiba butuh tambahan souvenir tidak mendadak. Souvenir yang dipilih biasa saja. Aku dan mas Didit sepakat bahwa kita tidak mau menghambur-hamburkan uang untuk pernikahan yang 'wah'. Yang penting kan niatnya, iya nggak?
  5. Cincin nikah. Setelah hunting ke beberapa tempat, akhirnya kita berdua memutuskan untuk memesan cincin nikah di Blok M. Berhubung mas Didit tidak pernah pakai perhiasan sebelumnya, jadi dia sedikit merasa canggung untuk menggunakan cincin itu. Makanya aku sengaja membiarkan dia yang memilih model cincin-nya. Dan setelah bolak balik muter-muter cari model yang pas, akhirnya mas dapat model yang disuka-nya. Alhamdulillah aku juga suka dengan modelnya. Sekarang, cincin itu tersimpan rapih di kamar-ku, menunggu untuk dipakai bulan oktober nanti.
Hmm, kayanya baru itu aja deh yang sudah siap, sisanya masih di awang-awang!

dan sekarang aku cuma bisa bilang... OH MY GOD!!!!!


Foto Pre Wedding

Hari minggu kemarin, aku dan mas Didit melakukan sesi foto prewedding yang pertama. Thanks to Pakle Yus, sang pakle tercinta yang bersedia menjadi fotografer untuk kita berdua.

Rencana awal pemotretan akan dilakukan di Puspitek, Serpong hari Minggu pagi-pagi sekali. Sebelumnya pakle sudah mengirim sms agar kita bersiap-siap sejak pukul 6 (waks! pagi sekali!). Karena rumahku jauh dari lokasi, aku memutuskan untuk menginap di rumah mas Didit dari hari Sabtu. Sayangnya pada hari itu mas Didit masuk kerja. Untungnya di rumahnya ada mamah sama papah jadi aku tidak bosan.

Aku dan mas didit memutuskan untuk menggunakan kostum casual, dengan harapan agar foto yang dihasilkan berkesan santai dan lively. Setelah debat sana-sini, browsing tema-tema foto prewed di internet, akhirnya kita sepakat untuk menggunakan kemeja warna putih, jeans, dan sepatu kets. Dan setelah bongkar-bongkar lemari, alhamdulillah ternyata aku punya kemeja putih. Maklum, aku ini tidak terlalu suka pakai pakaian putih karena takut cepat kotor.

Namun, apapun bisa terjadi meskipun persiapan sudah dilakukan sematang mungkin. Hari minggu pagi, aku dan mas Didit sudah siap-siap, rapi jali naik motor ke rumah Pakle (rumah pakle sama rumah mas Didit nggak jauh). Dasar lagi sial, di tengah perjalanan ban belakang motor bocor! Kacau deh! Akhirnya jalan kaki sampai ke tukang tambal ban terdekat. Alhamdulillah ketika ban bocor itu kita sudah tidak jauh dari rumah pakle. Hehehehe....

Sesampainya di rumah pakle, ternyata pakle mau ada pengajian, akhirnya di-cancel lah sesi foto prewed pagi itu. Pakle minta kita berdua untuk datang lagi sore-sore dan kalau bisa bawa kostum yang banyak. Pusing juga, secara aku cuma bawa baju seadanya, karena aku kan lagi menginap. Akhirnya bongkar lemarinya mamah cari-cari baju yang kira-kira cocok untuk dipakai berdua. Tapi ada hikmahnya juga kok, ternyata mas Didit itu orangnya care banget sama penampilan, sebelum berangkat, sempat-sempatnya dia cobain semua baju dan jas yang mau dia pakai untuk foto nanti. Hihihii...

Sorenya, dengan membawa buntalan tas penuh dengan kostum, aku dan mas Didit ngebut ke rumah pakle, masih dengan motor tentunya. Begitu sampai, aku langsung dandan dan mas juga siap-siap dengan obat gantengnya (istilah mas untuk sisir dan minyak rambutnya). Kita berdua pakai kemeja putih, tapi ternyata setelah di tes foto, pakaian putih itu tidak terlalu bagus. Kata pakle, detailnya jadi nggak kelihatan. Jelek. Duh, sedih banget, mana nggak bawa banyak kostum pula....

Tapi, sesi foto terus berlanjut. Bulek Nina (istrinya pakle) berbaik hati meminjamkan kain pashmina dan rok warna pink. Akhirnya dicoba juga deh rok dan pashmina itu. Eeeh, ternyata setelah dicoba difoto, hasilnya jadi keren banget! Apalagi mas Didit pakai jas, jadi makin oke!

Selama ini aku tidak pernah punya masalah dengan kamera, tetapi kemarin itu ketika aku melakukan foto prewed dan diminta untuk saling tatap dengan mas Didit, suer! aku langsung salah tingkah! kenapa ya? lucunya si mas malah santai aja. Hehehe..... ah, mungkin karena aku nggak biasa saling lihat-lihatan sama si mas makanya jadi grogi.

Dan ini sebagian hasil jepretan pakle yang bagus banget menurut aku:



Gimana? oke nggak??

Setelah sesi foto prewed pertama ini, aku, mas Didit dan pakle memutuskan untuk melakukan sesi berikutnya di Puspitek hari sabtu depan, pagi-pagi sekali karena kita ingin mengejar kabut dan 'ray of light' matahari pagi. Tentunya belajar dari pengalaman foto prewed pertama ini, aku dan mas Didit harus benar-benar 'siap tempur' mempersiapkan kostumnya biar nggak bingung lagi.

Jadi tidak sabar menunggu hari sabtu......


© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.