Monday, 12 July 2010

Plasenta-ku berkapur!!!!!

Tidak terasa kehamilanku sudah menginjak minggu ke-38. Ini berarti tidak lama lagi aku akan segera melahirkan bayiku. Berbagai perasaan campur aduk, sedih, senang, was-was, takut, semuanya jadi satu. Namun satu hal yang pasti, aku akan segera bertatap muka dengan bayiku yang selama ini hanya bisa kubayangkan wajahnya (entah dia akan seganteng daddy-nya atau tidak....haha).

Sore tadi, aku memeriksakan kehamilanku di rumah bersalin dekat rumah. Seharusnya aku periksa di RS. Pondok Indah karena mulai dari kehamilan 5 bulan aku selalu periksa di sana. Tapi kali ini aku periksa di rumah bersalin (bukan rumah sakit lhoo...) Siti Chodijah. Alasannya, selain lokasinya yang dekat dengan rumah, juga biayanya yang jauuuuuuuuuuuuuuh di bawah biaya di RSPI.

Pemeriksaan kali ini dilakukan oleh dokter kandungan, mungkin karena umur kehamilanku sudah masuk 9 bulan, alias sudah tinggal tunggu tanggal mainnya aja. Awalnya, ketika ketemu dengan si dokter, aku asyik-asyik aja (dalam hati, kayanya setipe dengan dokterku di RSPI nih). Tapi, semuanya langsung buyar ketika si dokter melakukan usg. Hal pertama yang ditanyakan si dokter adalah aku mau melahirkan menggunakan jasa apa, jelas aku jawab dengan bidan. Mulai dari situ, hal-hal yang tidak enak terjadi...

Setelah aku bilang mau melahirkan dengan bidan, dia langsung nyerocos ngalor ngidul, bilang kalau nanti ada apa-apa ujung-ujungnya pasti membutuhkan jasanya dia. Aku masih berusaha positive thinking ketika dia ngomong begitu. Bahkan ketika dia dengan entengnya ngobrol sama si suster tentang ibu-ibu yang belum lama ini melahirkan dan ada masalah sehingga si dokter harus menanganinya secara mendadak. Kesan yang aku tangkap adalah si dokter ini kok kaya nggak ikhlas ya nolongin orang? toh, untuk pertolongannya itu dia dibayar....

Keadaan makin jadi tidak enak ketika dia (si dokter), sambil melakukan usg, bilang kalau plasentaku mengalami pengapuran. Si dokter bilang begini dengan nada datar.

"Ibu, ini air ketubannya udah keruh dan plasentanya berkapur."

Waduh! apa lagi nih? perasaan sabtu yang lalu waktu aku periksa dengan dokter di RSPI, si dokter RSPI bilang nggak ada masalah. Jelas saja aku kuatir, terus aku tanya nih si dokter masalah pengapuran itu.

"Maksudnya apa ya dok???"
"Iya, ini udah nggak bagus buat bayinya, asupannya makanan dan oksigennya berkurang." jawab si dokter enteng.

Sebagai ibu muda yang masih belum berpengalaman masalah melahirkan, tentu saja aku berusaha kritis. Aku tanya sama si dokter kenapa bisa terjadi pengapuran dan apa solusinya. Guess what?? jawaban si dokter nggak ngenakin banget!!!!

"Ya plasentanya mengandung kapur. Ini kalau di rumah sakit udah harus dilahirin bayinya." jawaban si dokter sama sekali bukan jawaban dari pertanyaan aku. Dia sama sekali nggak ngejelasin apa dan kenapa bisa terjadi pengapuran itu. $%****@!@!#@!# (ngegerundel mode = ON).

Jelas aja aku bete abis. Ini dokter jutek amat sih! Sampai akhir sesi konsultasi itu, aku masih berusaha mengorek informasi tentang masalah pengapuran plasenta ini, tapi jawaban si dokter bikin hati makin panas....

"Ya lihat aja nanti bidannya gimana nanganinnya. Paling kalau ada apa-apa ujung-ujungnya saya juga yang dipanggil suruh bantuin."

What the fish!!!! Dengan perasaan sebal aku keluar dari ruang periksa. Sepanjang perjalanan menuju rumah, berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalaku. Apa itu pengapuran plasenta? apa penyebabnya? berbahayakan buat si ibu dan bayinya? apa solusi terbaiknya? akhirnya, begitu sampai di rumah, aku langsung menjelajah dunia maya dibantu oleh om google untuk mencari tahu tentang pengapuran plasenta ini.

Ternyata, pengapuran plasenta normal terjadi pada kehamilan 38-40 minggu. Itu merupakan hal yang wajar karena menandakan bahwa bayi sudah siap untuk dilahirkan. Yang menjadi masalah adalah ketika pengapuran ini terjadi di trisemester kedua kehamilan, karena bisa membahayakan si bayi. Huff.... membaca informasi ini aku sedikit lega.

Sesudahnya, aku langsung telepon mom, laporan tentang hasil konsultasi dengan si dokter itu. Mom langsung bete dan mengatakan itu bisa-bisanya si dokter yang sengaja nakut-nakutin aku supaya proses melahirkan aku ditangani sama si dokter dan dicesar. Intinya, itu permainan uang si dokter. Cape deeh... Akhirnya aku dan mom memutuskan untuk memeriksakan kehamilanku pada dokter kandungan yang lain. Tujuannya untuk mencari pendapat kedua. Dari situ baru aku dan my hubby bisa mengambil keputusan.

Duh, semoga saja hasil pemeriksaan dokter kandungan yang lain berbeda dengan si dokter menyebalkan itu. Aku benar-benar ingin melahirkan anakku dengan normal, bukan cesar. Ini bukan masalah biaya melahirkan cesar yang mahal. Ini adalah prinsip.... rasanya aku tidak akan menjadi ibu yang seutuhnya kalau aku tidak melahirkan secara normal.... Semoga saja diagnosa si dokter jutek itu salah dan aku bisa melahirkan senormal-normalnya....

Amiiin.......



Share this Post Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This Share on Google Plus Share on Tumblr

No comments:

Post a Comment

Hai! Terima kasih banyak sudah membaca postingan ini. Jangan sungkan menuliskan komentar di bawah ini ya. Komentar, masukan, dan kritik kalian sangat berarti untuk aku. Oya, please jangan masukkan link hidup di komen ya. Semua komentar dengan link hidup akan langsung di-delete.

Have a nice day!


© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.