Sunday, 22 January 2012

My greatest weakness ---- BOOKS!

Ngomongin soal my greatest weakness (jadi keinget waktu ngebahas soal strength and weakness bareng murid privatku), aku jadi ikut kepikiran soal kelemahan terbesarku dalam hidup. Apa ya? ceriwis, nggak juga, malah banyak yang bilang itu malah membantu di pekerjaan aku. Doyan makan? hmm, so far aku nggak nganggep itu sebagai kelemahan, malah anugerah karena bisa menikmati berbagai jenis makanan. Hihihihi... Atau suka begadang? kayanya juga nggak deeh. Mengutip bang Haji Rhoma Irama, begadang itu boleh kalau ada tujuannya. Dan seingetnya aku sih. aku nggak pernah begadang tanpa tujuan, minimal banget browsing atau ngaskus (*semoga bisa cepet ISO, hayaaah)

Setelah bertapa 7 hari 7 malam, puasa mutih, dan bakar segala rupa kemenyan, akhirnya jawaban atas pertanyaan itu pun datang menghampiri. Sekilas mirip-mirip kaya kuntilanak lah... Ternyata jreng jreng jreng, kelemahan terbesarku adalah BUKU!

Yak sodara-sodara seiman setanah air..... BUKU!

Mau tidur mesti baca buku, mau makan mesti sambil baca buku, di bis baca buku, sambil nyemil baca buku juga, bahkan kadang sambil di kamar mandi pun baca buku!

Dan di tahun awal tahun 2012 ini saja aku sudah melahap nyaris 10 buku dalam waktu hanya 2 minggu. dua minggu itupun juga bukan karena bacanya lama, tapi karena memang bukunya belinya satu-satu, nggak borongan. Berikut ini adalah list buku yang sudah aku baca di bulan Januari 2012 ini:

Buku-buku yang sudah dilahap di bulan Januari 2012


  • Manusia Setengah Salmon - Raditya Dika (4/5)
  • Nyonya Jetset - Alberthine endah (3/5)
  • so real/surreal - Nugroho Nurarifin (2/5)
  • Mengawini Ibu - Khrisna Pabichara (5/5)
  • State of Fear - Michael Crichton (4/5)
  • Lord Edgware Dies - Agatha Christie (3/5)
  • Kisah Tragis Oe Hui Lan (putri orang terkaya di Indonesia) True Story - Agnes Danovar (4/5)
  • The Pilot's Wife - Anita shreve (4/5) Oprah's Book Club recommended







On progress (ebook format)
  • The Secret of The  Immortal Nicholas Flamel  (book 1) - Michael Scott (5/5)

Berdasarkan statistik yang nggak valid dan nggak sah, yang mengkalkulasi seberapa cepat aku menyelesaikan satu buku. Ternyata rata-rata satu buku bisa diselesaikan dalam 2 hari. Itu aja udah lama banget lhooooo.... biasanya, kalau memang lagi banyak waktu luang, satu buku bisa selesai dalam hitungan jam. Sebagai contoh, buku ringan semacam "Manusia Setengah Salmon"-nya Raditya Dika bisa selesai dalam 2 jam saja. Itu juga udah pake diselingi bobo siang, mandi, dan bengong.

Hoi Tya, suka membaca itu bagus kaleeee.... bukan kelemahan namanyaaa

Hohoho, emang sih suka membaca itu bagus. Buku adalah jendela dunia. Masalahnya, kenapa aku bilang kegemaranku membaca ini justru menjadi kelemahan ya karena aku nggak kuat iman kalau melihat buku. Sebagai contoh, lagi jalan-jalan di Gramedia, liat buku ajib pasti langsung terpanggil untuk beli, dan kadang kalau udah gitu, buku yang dibeli nggak cuma satu, tapi bisa sampai 4-5 buku. Walhasil, sesampainya di rumah nyesel deh.... Huhuhhuu, terpaksa berkorban nggak jajan atau beli baju karena duitnya udah kepake untuk beli buku.... Jadi, nggak salah kan kalau aku bilang buku adalah kelemahan terbesarku?

Makanya, kalau ada bursa buku murah, atau yang jual buku bekas, pasti aku beli, iyalah.... murah meriah gitu lhooo dan aku bisa beli buku banyak... Hehehe...So kawans, banyak-banyaklah membaca buku dan banyak-banyaklah mencari penghasilan tambahan untuk modal beli buku....

Saturday, 21 January 2012

Smart (I Hate Slow) ------> I Hate You!

internet bagi seorang Tya itu wajib, fardu ain, penting! internet itu bagai rumah kedua untuk aku. kenapa? karena aku cari duit dari internet, belajar lewat internet, cari ilmu pun lewat internet, sampe hal sepele kaya resep masakan pun konsultasi sama mbah Google yang tentunya perlu internet....

dulu sih waktu beloman nikah, pake internet Speedy di rumah. Maklum, barengan sama line telepon. Ketika hijrah ke rumah mertua di Pengumbe, Jakarta Barat, aku juga masih setia pake Speedy. Namun saat aku dan mas Adit pindah ke Mampang, kebetulan rumah yang kita kontrak itu adalah rumah mbah Ibu, dan sudah ada koneksi internetnya, pakai Fastnet - KabelVision. Rasanya, kalau dipikir-pikir, dari semua jasa internet yang paling top markotop ya cuma Fastnet itu. Bayangin, bayar tagihan cuma Rp 180.000 dan itu udah termasuk sama TV kabel-nya. Cihuy banget deh. Sayang, semua kemudahan itu harus ditinggalkan dengan berat hati saat akhirnya aku hijrah ke Depok.

rumah pertama yang kita tempatin di depok itu milik sahabatnya si Edy. Dan disitulah aku dan mas memutuskan untuk menggunakan jasa internet Smart. So far so good. Mungkin karena dekat sama BTS-nya atau mungkin karena masih promo. Entahlah....

Masalah mulai muncul ketika kita akhirnya pindah lagi, masih di Depok, ke komplek yang berbeda. Kebetulan satu komplek sama mommy. Dan sesuai namanya, Griya Lembah Depok, ini komplek emang turuuun ke bawah, alias bener-bener lembah. Sialnya, di sini sinyal jelek sangat! termasuk sinyal Smart yang mulai terengah-engah.... (tapi kalo im3 nggak masalah).

Awalnya masih bisa diakalin. Mas Adit dengan inisiatifnya membeli antena Yagiku untuk memperkuat sinyal. Mulanya sih oke.... tapi lama kelamaan sinyalnya mulai odong-odong. Hingga detik ini pun Smart bener-bener nggak bisa diandelin. Yang ada aku bawaannya esmosi jiwa terus, loading nggak kelar-kelar, ngirim email nggak nyampe-nyampe, browsing nggak jalan-jalan. Pokoknya bikin panas hati banget deh!

Yang paling ngeselin adalah jargonnya Smart yang terbaru .... I HATE SLOW. I HATE SLOW EMBAH LOE?! Coba deh kalo berani teknisinya dateng ke rumah, cek tuh koneksi internet. slow apa nggak. Kalo nggak slow aku berani bayar biayanya, semua ongkosnya. Tapi kalo nggak, pihak Smart harus bisa memperbaiki koneksinya sampe rebes kaya dulu lagi.... Mana aku selalu ambil paket unlimited yang paling gede pula! Nggak guna! Cuih!

Sekarang, cocoknya jargon smart tuh diganti jadi I HATE YOU,  atau nama Smart-nya sendiri diganti jadi STUPID. Kalo pake nama Smart keberatan nama tuh kata orang jawa..... Penyakitan.... Sadar diri dooong.... kacaaauuuu!

Oh Fastnet, andai masuk ke depok... aku akan jadi orang paling bahagia di dunia *lebay mode = ON


Saturday, 14 January 2012

Oriflame dan Keluargaku

Sejak bergabung dengan grup d'BCN Oriflame November 2011 lalu, aku jadi semakin dekat dengan sepupuku, Fia. Memang sih, meskipun dia itu nikah sama temen SD-ku (yang sumpah dulu culun banget - sebenernya kita semua juga culun dulu :)) yang juga tetanggaan, alias tinggal satu kompleks, tetep aja komunikasi kita nggak pernah seintens sekarang. Yap, semuanya berkat Oriflame.

Dulu tuuh, belum tentu tiap minggu kita ketemuan, belum tentu juga tiap minggu telepon-teleponan atau sekadar bertukar kabar lewat sms. Yah, komunikasi mulai intens sejak dia punya anak. Itupun juga belum tentu semingu sekali. Namun semuanya berubah ketika akhirnya aku join dengan d'BCN Oriflame. Yang namanya BBM-an sekarang sudah dipastikan setiap hari, mulai dari curcol soal keuangan yang menipis, koneksi inet yang odong-odong, sampai yang maha serius seperti nyusun target penjualan dan target level. Lucu juga ya.... semua berubah 180 derajat karena Oriflame. Dan yang seru lagi, ternyata kita itu klop lho, baik sebagai sodara maupun team kerja. Hihihihi....

Semakin ke sini, ternyata yang join nggak hanya aku dan Fia aja, aku juga ngomporin mbak Ellen (sepupu-ku di Belitung) soal bisnis ini. Alhamdulillah dia tertarik dan bergabung juga. Mau tahu alasan utamanya? karena mbakku kuatir produk kosmetik yang biasa dia pakai dan beli di Jakarta palsu. Pas banget ya, sangat menjawab kekuatiran mbakku itu. Kok bisa? Ya iya dong, produk Oriflame kan nggak mungkin dipalsukan..... amaaaaaaaaan......Lagi-lagi, karena memang aku dekat sama mbakku di Belitung ini, dengan dia bergabung, kita juga makin intens komunikasinya.

Daaaan, hari ini sodara-sodara, sespupuku yang cantik, Nisa, yang bulan depan lahiran anak keduanya (padahal dia lebih muda dari aku dan Fia), memutuskan untuk bergabung! Senangnyaaaaa...... aku yakin, komunikasi antara aku dan Nisa pasti akan lebih seru dan lebih sering dibandingkan sebelumnya. Semua itu berkat bisnis ini, Oriflame. 

Sumpah, tulisan ini dibuat bukan untuk propaganda Oriflame atau untuk menjaring prospekan. Hey, I'm a well-manner MLM'er! Aku cuma ingin mengungkapkan rasa bahagia yang aku rasakan. Rasa bahagia karena aku bisa lebih dekat dengan saudara-saudaraku (yang dulunya nggak deket, jarang tegur-teguran). Aku bisa mengenal pribadi mereka lebih jauh. Seneng aja rasanya. Kita semua masih muda-muda, dan aku kepingin nantinya, pas kita sudah tua, kita tetap bisa akrab, seperti orangtua-orangtua kita yang rajin ketemuan, yang sering telepon-teleponan. Dan sekarang, aku boleh yakin kalau nanti aku dan saudara-saudaraku pun akan seperti itu.....

Amiin.........

Friday, 13 January 2012

(Lagi-lagi) DIET!

Aku nggak punya bajuuuu!!!!

Itu adalah kalimat pamungkas tiap kali aku mau berangkat ke kantor, berangkat ngajar, atau hanya sekadar pergi jalan-jalan santai. Meskipun pada kenyataannya, lemari bajuku (dan suamiku) sudah sesak oleh baju, tapi tetap saja kalimat itu selalu terucap. Tidak pernah tidak.

Aku nggak punya bajuuuuu!!!! *teteeeep kalimat yang sama

sebenarnya, bukan karena aku tidak punya baju secara harfiah, karena seperti yang aku bilang, bajuku membludak di lemari. Kalau mau diterjemahkan secara bebas, kalimat itu sebenarnya masih ada lanjutannya....

Aku nggak punya bajuuuuu (yang pas untuk dipakai)!!!!

Yap, baju banyak, melimpah bahkan, tapi nggak ada satupun yang sreg di hati. Kadang, meski sudah dipikirkan matang-matang semalaman akan pakai baju apa besok, tetap saja kalimat itu selalu terucap (lagi). Bukannya aku tidak bersyukur dengan banyaknya baju yang terlipat rapi di lemari, tapiii (ah lagi-lagi pakai kata tapi) memang nggak ada baju yang pas, yang nyaman, yang modis, yang oke untuk dipakai....

Sebenarnya, bukan salah bajunya juga sih kenapa mereka nggak pas, nggak nyaman, nggak modis dan nggak oke dipakai, semuanya kembali ke diriku lagi. Huff, yah, dengan berat hati aku mengakui sejujur-jujurnya, ini karena masalah berat badan. Lagi-lagi berat badan. Semenjak hamil dan melahirkan, berat badanku naik mengikuti persamaan eksponensial matematika. Melejit naik hingga ke puncak dalam waktu singkat. Dari berat semasa single 52kg, berat badanku naik jadi 72kg hingga detik ini. Dua puluh kilo yang entah dari mana mereka bisa bercokol di tubuhku.

Setiap kali ngomongin berat badan, ujungnya selalu berakhir pada afirmasi "Aku harus diet!". Nyatanya, merealisasikannya nggak semudah mengucapkan. Beberapa kali mau diet, bentrok pada kenyataan aku harus menyusui. Dan memang nafsu makanku menggila sejak menyusui. Ah, aku tidak mau egois, demi bentuk tubuh lalu aku mengorbankan ASI untuk deniz. Beberapa kali juga aku sampai pada titik putus asa, dimana aku siap lahir batin menenggak pil yang mengklaim bisa merampingkan tubuh. Ah, lagi-lagi, aku tidak mau egois, kali ini untuk tubuhku sendiri.Bagaimana dengan membeli baju baru? Ah, kalau mau menuruti nafsu membeli baju, yang ada aku, Adit dan Deniz nggak makan karena uangnya habis buat beli baju.

Namun, kalau kondisi ini diteruskan tanpa ada penyelesaian, lama-lama semua bisa gila. Aku gila karena selalu dilanda kebingungan setiap berpakaian dan Adit (suamiku) juga ikut-ikutan gila karena selalu aku paksa untuk memilihkan baju. Kacau. Chaos. 

Jadi, untuk yang kesekian kalinya, entah sudah ratusan kali atau bahkan ribuan kali aku ucapkan kalimat ini.... bahwa (lagi-lagi) aku harus DIET! 

Doakan aku yaaa.....


SAT , Hijab, dan Insomnia

Satu kata untuk menjelaskan kelakuanku malam ini: GILA!

Yap, gila adalah kata yang tepat, kenapa? karena jam sudah menunjukkan pukul 3.30 pagi dan aku masih aja mantengin layar komputer tanpa rasa ngantuk. Suamiku dan Deniz sudah entah berada di alam mimpi yang mana. Mungkin juga mereka udah berganti-ganti adegan mimpi. Hihihihi...

"Begadang jangan begadang, kalau tiada artinyaaaa..."
Itu kata Bang Haji Rhoma Irama (yang kebetulan banget tuh, tetanggaan sama mbah Ibu di mampang *emang penting??). Syukur alhamdulillah, begadangku ini ada tujuannya kok. Tujuan paling utama malam ini adalah memburu ebook tentang SAT. Kalau ada yang belum tahu apa itu SAT, SAT adalah Scholastic Aptitude Test, sebuah tes ujian masuk perguruan tinggi di Amerika dan juga di negara lainnya. Dari tes ini, pihak universitas bisa mengetahui tidak hanya IQ dari calon mahasiswa tapi juga kepribadiannya. Kalau di Indonesia mungkin lebih dikenal dengan nama TPA, atau Tes Potensi Akademik.

Lalu? kenapa harus diburu? Yaiyalaaaah, soalnya ini rekues mahapenting dari klien-ku (hayaaaaaah... klieeeeeeen...). Siapa sih kliennya? sampe segitunya amat begadang demi hunting ebook gretongan? Hm, dia itu anak mahasiswa UI yang minta privat bahasa Inggris intensif untuk persiapan menghadapi tes tertulis dan tes interview di perusahaan Thiess. Kalau dia sukses, dia bakalan dapat beasiswa dari perusahaan itu dan langsung teken kontrak. Asyik ya... Jujur, kalau bukan karena klien-ku ini (anaknya gokil dan kita sering cekikikan bareng kalo lagi les), mungkin aku nggak akan pernah menjamah SAT itu.

Tyaaaa, kenapa nggak beli aja tuh buku????

Nah, pasti banyak orang bakalan ngomong kaya gitu. Beli? duuuh, baru aja kemarin nyasar ke Gramedia Depok dan ngelirik tuh buku SAT. Bujubuneeeeng! Tebelnya nih, kaya buku ke-7 Harry Potter tapi dikali tiga! Udah gitu harganya selangiiiiiit! Kalo dompetku bisa ngomong, pasti dia udah jerit-jerit ketakutan di depan kasir. Dan yang paling penting, aku ini paling males bawa buku segambreng. It doesn't mean that I don't like books. No! I love books! cuma untuk buku yang satu itu aja aku emoh. 

Berawal dari situ, rasanya mengunduh buku-buku itu di internet akan jauh lebih efektif dan lebih manusiawi untuk dompetku. Jadilah aku insomnia malam ini (eh, udah pagi deng). Berkat kecerdasanku di dunia internet (apa iya?), aku sukses mengunduh sekitar 5 buku SAT dalam format PDF. Format yang sangat fleksibel, bisa dibaca langsung di kompi atau di print sesuai kebutuhan (kalau di print semua bisa bangkrut, karena tebalnya sampai 800 halaman lebih).

Oke Tya, kita sudah menemukan hubungan antara SAT dengan insomnia, terus apa hubungannya mereka berdua dengan hijab??? Nah lhoooo.....

Hehehehe, simpel aja jawabannya... karena mengunduh buku-buku itu makan waktu lumayan (bukan karena internetku jelek lho, tapi emang bukunya beraaaat!), sembari menunggu unduhannya kelar, aku iseng masuk ke YouTube dan cari-cari tutorial jilbab. Hihihihi....Walhasil, unduhanku semakin lambat karena ditambah dengan video tutorial jilbab yang ikut-ikutan aku unduh.....

Jadi, udah ketemu kan kenapa SAT, Hijab, dan Insomnia nguplek jadi satu malam (eh, pagi) ini?

© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.