Sunday, 2 August 2015

[BLOGGING 101] 8 Tahap Artikel Menuju "Published"

Assalamualaikum, ladies!
(dan mungkin gentlemen yang juga baca blog ini)

Sebagai blogger yang masih pemula, aku berusaha mencari sebanyak mungkin informasi dan belajar dari para blogger senior dan teman-teman blogger lainnya. Ternyata dunia blogging nggak se-simple yang terlihat. Bagi kalian yang membaca postingan ini, mungkin kalian berpikir kalau tulisan ini ditulis dengan santai sambil ngopi (atau ngeteh), diiringi alunan lagu slow dari Sam Smith, sembari multi tasking melakukan aktivitas lainnya. Lima belas menit kemudian, voila! Tulisannya sudah di-publish!  

Oh, no no no. Kenyataannya tidak seperti itu lho. Butuh usaha yang tidak sedikit hingga suatu tulisan bisa ditayangkan di blog. Aku pribadi butuh waktu yang banyak untuk menyusun apa yang akan aku tulis, materi apa yang menarik atau sedang ngetrend, dan gambar atau foto apa yang cocok. Tidak jarang aku membuat mind map dan menuliskan to-do list. Semua ini belum termasuk mencari waktu senggang untuk menuliskan semua ide dan juga melakukan proof reading terhadap postingan yang akan tayang.

Bagi kamu yang penasaran apa saja sih yang aku lakukan hingga tulisan ini bisa di-publish? Yuk kepoin bareng-bareng.


8-tahap-suatu-artikel-ditulis-hingga-dipublish


1. Cari ide menarik!
Ide bisa bermunculan kapan saja, makanya aku kemana-mana selalu bawa bolpen dan notes kecil. Beberapa blogger mungkin mengandalkan smartphone mereka, tetapi entah kenapa aku kurang sreg. Kalau ditulis di kertas itu rasanya lebih nempel di otak. Ide ini tergantung genre blog-nya. Berhubung blogku ini kebanyakan tentang makeup, kecantikan dan kesehatan, pastinya idenya seputaran itu saja.Nggak jarang ide lagi banyak, sehingga aku harus menyusun kira-kira ide mana yang harus dieksekusi duluan.

ide-bisa-muncul-kapan-saja-di-mana-saja

2. Gali informasi sebanyak-banyaknya tentang ide tersebut. 
Setelah memutuskan satu ide yang mau digarap, aku biasanya mencoba mencari tambahan informasi. Bisa lewat mbah Google, tante Wikipedia, atau majalah-majalah. Tentu saja informasi yang didapatkan langsung dicatat supaya tidak lupa. 

3. Mulai membuat kerangka tulisan/mind map
Aku termasuk orang yang harus selalu membuat kerangka tulisan sebelum menulis. Mau tulisan ilmiah, tugas kuliah, sampai puisi pun aku tulis kerangkanya. Kerangka tulisan ini aku tulis dalam bentuk mind map atau kadang list biasa saja. Aku merasa dengan membuat kerangka/mind map ini, tulisan menjadi lebih terarah. Kalau diibaratkan Writing Task-nya IELTS, ini masuk dalam kriteria Coherent and Cohesion. Tapi kembali lagi ke individu masing-masing ya, senyamannya kalian aja gimana cara menuliskannya.

mind-map-dan-kerangka-tulisan-sangat-membantu-dalam-menuliskan-artikel-yang-menarik
Menuliskan kerangka tulisan dan to-do list bisa membantu!

4. Membuat to-do list
Saat menyusun kerangka tulisan, biasanya akan muncul hal-hal yang harus dilakukan untuk melengkapi kerangka tulisan itu. Sebagai contoh, saat aku menulis review produk, hal yang harus dilakukan adalah memfoto produk. Tidak jarang aku tambahkan juga pose atau ide layout dari foto tersebut. Atau kadang salah satu hal yang masuk dalam to-do list aku adalah mengecek harga produk tersebut dan bisa dibeli dimana.

5. Mengedit foto
Hampir di semua artikel yang aku tulis terselip satu atau dua foto. Bahkan bisa lebih kalau aku membuat review produk. Adanya foto di setiap postingan ini bukannya tanpa alasan. Foto bisa menjadi pemanis dan menambah daya tarik artikel/review. Nggak mau dong baca review lipstik tapi nggak ada foto lipstik dan swatch-nya? Tentunya foto-foto ini tidak main jepret dan di-unggah begitu saja. Untuk satu produk, contohnya, aku bisa mengambil puluhan foto demi mendapatkan foto yang pas dan sempurna. Dari puluhan itu, aku akan sortir lagi dan melakukan sedikit editing (menambahkan watermark, mengedit brightness dan contrast, cropping, dll) lumayan menyita waktu. Kamu bisa baca di sini tentang apa saja perlengkapan tempur aku untuk mendapatkan foto yang berkualitas.



6. Mulai menulis! 
Kerangka tulisan sudah, to-do list juga sudah, semua foto sudah siap, saatnya menulis! Aku ingat salah satu sahabatku yang seorang penulis ternama memberikan nasihat, "Penulis yang baik tidak terpengaruh oleh suasana hati." Jujur ini susah luar biasa. Aku menyadari mood kadang sangat mempengaruhi kerajinan/kemalasan aku dalam menulis. Contohnya ya ini, saat posting ini di-publish, aku masih punya banyak draft tulisan yang menunggu ditulis. Hiks. Tetapi aku berusaha semaksimal mungkin agar tetap produktif menulis, misalnya saja menulis lewat smartphone, menyempatkan diri mengetik di sela-sela jeda mengajar, atau begadang menyelesaikan tulisan.

menulis-blog-bisa-dilakukan-dimana-saja-lewat-smartphone-atau-laptop
Menulis blog bisa dilakukan kapan saja dimana saja

7. Proof reading
Setelah perjuangan yang tidak mudah, tulisan selesai juga. Namun sebelum benar-benar di-publish, aku harus melakukan proof read agar tidak ada kesalahan penulisan, salah eja, atau kalimat-kalimat yang rancu dan menyesatkan. Aku akui kemampuan bahasa Indonesia-ku sangat minim dan aku yakin banget tulisanku ini banyak salahnya terutama dalam hal tanda baca. Meski begitu, aku tetap berusaha semaksimal mungkin.

8. Akhirnya tayang! 
Tahap akhir adalah meng-klik tombol Publish pada blog. Meskipun satu tulisan sudah sukses di-publish, bukan berarti aku langsung tinggalkan begitu saja. Aku tetap harus memantau tulisan tersebut. Apakah ada yang menuliskan komentar? Kalau iya, aku harus cepat-cepat membalasnya. Apakah ada salah ejaan yang terlewat dan harus segera diperbarui? Apakah ada informasi yang kurang tepat atau informasi tambahan yang penting? Dan masih banyak lagi perintilan lainnya.

pastikan-semua-sudah-siap-sebelum-klik-publish
Saatnya klik publish!

Jadi kebayang dong gimana rempongnya blogger untuk bisa mempublish tulisannya? Semua skill digunakan untuk bisa menulis suatu artikel yang menarik pembaca. Apalagi kalau tulisan tersebut bertujuan untuk menyebarkan informasi. Aku sebenarnya sangat sedih ketika beberapa waktu lalu ada statement bahwa beauty blogger hanya bisa selfie, datang ke event-event, dan cuma bisa dandan untuk diri sendiri. Aku merasa beauty blogger adalah perantara antara produk dengan pengguna. Jadi label beauty blogger ini bukan main-main (meskipun aku sendiri merasa belum pantas menyandang label tersebut).

Aku berharap melalui tulisan ini para blogger-blogger newbie bisa menjadi penyemangat untuk terus menulis. Selain itu aku berharap kalian, para readers, tahu bahwa perjalanan suatu ide tulisan hingga bisa di-publish itu sangat panjang dan penuh rintangan dan cobaan *halah*. Dan yang lebih penting lagi untuk para blogger atau masyarakat umum yang kerjaannya main comot foto atau copas semena-mena, semoga cepat sadar bahwa yang kalian lakukan itu melanggar hak cipta dan bisa dituntut lhoo.....

Udah ah gitu aja. Sekali lagi, semoga postingan ini bermanfaat bagi semuanya. Thanks for reading!



Share this Post Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This Share on Google Plus Share on Tumblr

No comments:

Post a Comment

Hai! Terima kasih banyak sudah membaca postingan ini. Jangan sungkan menuliskan komentar di bawah ini ya. Komentar, masukan, dan kritik kalian sangat berarti untuk aku. Oya, please jangan masukkan link hidup di komen ya. Semua komentar dengan link hidup akan langsung di-delete.

Have a nice day!


© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.