Sunday, 17 July 2016

Sajak Terakhir yang Kutulis Untukmu

Happy Sunday, semuanya!

Postingan kali ini aku mau sedikit melenceng dari niche blog ini. Aku akan memposting salah satu puisi karanganku yang memiliki kesan mendalam karena banyak sekali kenangan dan emosi yang terkumpul di dalamnya. Seperti apa puisinya? Langsung saja baca ya.



: kepada yang hendak pergi, Adit


/1/

takkan kau jumpai seorang pun perempuan, selain aku, yang tak henti menebar benih gelora cinta, yang tulus menggantang gebu rindu padamu laksana setia jentayu membilang titis gerimis, yang terus memindai buluh perindu setiap kau beringsut ke peraduan yang digenangi cahaya bulan, dan menuntunmu ke buai mimpi


/2/

takkan kau temukan seorang pun perempuan, selain aku, yang begitu rajin menanting cemas paling buas di setiap pergimu, yang selalu santun memuntahkan retak airmata gelisah kehilangan kabar darimu, dan rela sibuk menimbun tanya di sedak harap: apa sebenarnya maksudmu memasung nasibku dengan entah


/3/

setelah kau pergi, ini sajak terakhir yang kutulis untukmu: aku tak mau lagi mengeja c-i-n-t-a



***

Sesuai dengan judulnya, puisi ini adalah puisi terakhir yang aku tulis dengan inspirasi mas suami. Puisi ini ditulis karena saat itu mas suami, yang waktu itu belum resmi menjadi suami, akan pergi merantau selama 1 tahun dan aku tidak tahu status hubungan kami. Yap, waktu itu kami tidak berpacaran. Hingga detik terakhir kepergian mas suami, aku tidak berani mengungkapkan perasaanku. Karena aku senang menulis puisi, jadilah puisi sebagai media aku untuk memperjelas perasaanku. Aduh, maaf ya kalau tulisan ini mendadak menjadi lebay. Tetapi memang begitulah situasinya saat itu. 

Saat mengantarkan kepergian mas suami di bandara, aku menyerahkan amplop berisi puisi ini untuk dia baca di pesawat nanti. Entah apa yang ada di benak mas suami saat membacanya. Yang pasti, rencana mas suami untuk merantau selama setahun ternyata diperpendek menjadi 2 bulan saja. Dan begitu mas suami kembali ke Jakarta, dia langsung melamar aku secara resmi. Beberapa bulan kemudian kami menikah. 

Dari postingan puisi ini, aku ingin menyampaikan kepada siapapun yang membaca puisi ini bahwa kita harus berani mengambil resiko. Kalau saja aku tidak berani mengungkapkan perasaan aku, mungkin saat ini aku dan mas suami memiliki kehidupan masing-masing yang berbeda. Bagaimana dengan kalian semua? Apakah ada yang memiliki kisah yang sama seperti aku? Atau mungkin tentang berani mengambik resiko? Jangan sungkan untuk berbagi dan meninggalkan jejak komentar ya. 

Mereka yang tidak punya keberanian untuk mengambil resiko tidak akan mencapai apapun dalam hidupnya. – Muhammad Ali
Thanks for reading!

Share this Post Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This Share on Google Plus Share on Tumblr

9 comments:

  1. Haduuuu klepek2 deh bacanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, makasih ya sudah mampir mbak....

      Delete
  2. so sweet...mba Tya romantis euy :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, romantis ke mas suami aja ya mbak Ipeh....

      Delete
  3. Aku jadi inget masa lalu.. Sedih deh..
    Seribu bulan penantianku..
    Sajak cinta yang kurangkulkan padamu..
    Harus pergi bersama pilu..

    Hiks T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. pukpuk Gadis, jangan sedih yaaaa.....

      Delete
  4. Aku suka sekali puisinya, Kak! :)
    aku pun sering bimbang, dan sempat kuungkapkan melalui sebuah puisi di blogku http://emaputeri.blogspot.co.id/2016/05/bimbang.html

    dan aku baca tulisan ini kyk kesindir, bener juga ya selama aku nggak berani mengambil resiko aku pasti nggak akan maju.

    this post really made my day, thanks Kak Tya!
    Much Love, xoxo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Ema! Beberapa puisiku yang lain bisa dibaca di Facebook dan juga di beberapa buku antologi puisi..

      Aku nanti mampir yaaa....

      Delete
  5. Terima kasih Ema! Beberapa puisiku yang lain bisa dibaca di Facebook dan juga di beberapa buku antologi puisi..

    Aku nanti mampir yaaa....

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih banyak sudah membaca postingan ini. Jangan sungkan menuliskan komentar di bawah ini ya. Komentar, masukan, dan kritik kalian sangat berarti untuk aku. Oya, please jangan masukkan link hidup di komen ya. Semua komentar dengan link hidup akan langsung di-delete.

Have a nice day!


© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.