Thursday, 15 June 2017

Beauty Items yang (terpaksa) dibuang + Mini Review

Happy Thursday!

Menjadi seorang beauty enthusiast dan juga blogger yang fokus menulis seputar kecantikan dan makeup membuat aku memiliki banyak produk kecantikan, baik yang aku beli sendiri, hadiah, atau dari endorsement. Ini merupakan anugerah tersendiri untuk aku yang belakangan ini memang tidak punya budget khusus untuk belanja produk kecantikan. Karena wajah aku cuma satu, terkadang aku tidak bisa menghabiskan semua produk yang aku miliki. Entah itu karena sudah kadaluarsa atau karena masa PAO-nya sudah habis. Akhirnya dengan terpaksa mereka harus aku buang. Sedih. So, pada postingan kali ini aku akan menuliskan beauty items yang dengan berat hati harus aku buang. Yuk lanjut bacanya.


1. The Body Shop Mango Hand Cream



Lotion tangan ini aku dapatkan ketika aku ikut dalam acara Clean Up Jakarta 2015. Pada event itu, aku ikut dalam tim The Body Shop membersihkan wilayah seputaran Gelora Bung Karno. What a great campaign! Aku sendiri nggak nyangka kalau bakal dikasih goodie bag, yang salah satu isinya adalah lotion tangan ini sama TBS setelah selesai bebersih. Bodohnya, karena aku sayang mau pake hand cream ini (maklum harganya termasuk kategori mahal untuk aku), produk ini aku simpan di dalam box dan terlupakan.

Terus nih, aku baru sadar kalau aku punya hand cream ini sebulan sebelum masa kadaluarsanya! Buru-buru deh dipakai setiap hari meskipun aku termasuk orang yang malas pakai lotion dan sebangsanya. Sedihnya, meskipun dipakai setiap hari setiap saat (sampai aku kantongin di saku baju), hand cream ini masih tersisa. Hiks.

What I can say about this hand cream, the smell is awesome and tantalizing! Aroma mangga-nya itu segar, nggak eneg, dan awet. Aromanya pun cukup strong karena setiap kali aku pakai hand cream ini ketika ngajar, murid aku pasti selalu komentar, “Miss, you smell like mango,” dan memang baunya santer satu ruangan kelas. Ketika dipakai, hand cream ini nggak lengket dan cepat meresap ke dalam kulit. Tangan pun jadi terjaga kelembabannya dan tetap lembut.

2. Cetaphil Moisturizing Cream



Pelembab yang dikhususkan untuk mengatasi masalah kulit kering dan sensitif ini memiliki banyak kelebihan, diantaranya adalah  bebas bahan pewangi, paraben, lanolin, dan non-komedogenik. Kalau tidak salah waktu itu aku menggunakannya hanya selama 2 minggu saja untuk mengetes apakah aku cocok menggunakan produk ini atau tidak. Setelah itu, pelembab ini nongkrong di meja rias tanpa disentuh lagi. Aku menggunakan produk ini lagi ketika wajah aku mendadak menjadi kering setelah mencoba salah satu sabun pembersih wajah. Sayangnya, pelembab ini masih tersisa cukup banyak saat masa pakainya habis.

Cetaphil Moisturizing Cream ini aku akui bagus banget untuk mengatasi kulit kering, termasuk kulit kering kronis. Meskipun dikhususkan untuk kulit kering, wajah aku yang sebetulnya berminyak ini cocok aja. Wajah tidak tambah berminyak. Pokoknya lembab deh. Oya, temanku bilang daripada dibuang, Cetaphil ini mending dipakai untuk tumit dan kaki yang kering aja. What do you think, ladies? 


3. Vitacreme B12 Day Cream Sun Protection SPF 30+++



This is one of my favourite moisturizer! Aku suka dengan pelembab Vitacreme B12 ini dan sempat aku ulas dengan lengkap di blog (klik tulisan Vitacreme B12 di atas ya). Terus kalau suka kenapa nggak habis? Soalnya ya itu dia, aku mendadak dikirimi produk skincare lain yang harus aku coba. Jadi mau nggak mau pelembab Vitacreme B12 ini aku stop dulu. Pas mau pakai lagi eeeh udah habis masa pakainya. Huhuhu.


4. Himalaya Herbals Purifying Mud Mask



Produk yang paling aku suka dari Himalaya Herbals adalah maskernya. Aku juga sempat mengulas masker Himalaya Herbals varian Neem Mask di blog ini. Berkat racun teman-teman beauty enthusiast, aku pun tergoda mencoba varian lainnya yaitu Mud Mask. Sayangnya, masker ini keburu habis masa PAO-nya sebelum aku sempat mengulas secara lengkap.

Himalaya Herbals Purifying Mud Mask ini ditujukan untuk mereka yang memiliki jenis kulit kombinasi cenderung berminyak. Kandungan mineral yang ada pada masker ini bisa membantu mengurangi minyak yang berlebih, mengecilkan pori-pori wajah, mengencangkan kulit, memperbaiki tekstur kulit, sampai mengurangi tampilan kerutan. Kece banget kan klaim-nya. Selama menggunakan masker ini aku tidak mengalami masalah apa-apa. Kalau soal klaim-nya sendiri ya aku tidak bisa bilang banyak karena aku pun pakainya nggak sering karena gonta ganti dengan masker lainnya.

Yang menarik dari masker ini adalah 3-5 menit pertama saat dipakai, wajah terasa berkedut karena ditarik oleh si masker. Sensasinya mirip banget kaya Aztec Clay Mask. Setelah  masker dibasuh, wajah terlihat lebih cerah dan fresh. Harganya pun nggak terlalu mahal dan mudah didapatkan di supermarket atau toko kosmetik. Rencananya aku mau beli lagi untuk review lebih lengkap.


5. The Face Shop Chia Seed Sebum Control Moisture Cream



Bagi pembaca setia blog ini, pasti kalian tahu kalau aku jarang sekali mengulas produk dari Negeri Gingseng. Entah kenapa rata-rata produk dari Korea Selatan kurang cocok di wajah aku, terutama untuk skincare-nya yaa. Nah ceritanya pelembab ini aku dapatkan karena berhasil menjawab pertanyaan saat peluncuran produk cc cushion terbaru The Face Shop waktu itu. Karena waktu itu skincare aku masih numpuk dan aku masih maju mundur mau mencoba, akhirnya produk ini sukses ngumpet di box dan terlupakan.

Kalau dilihat dari kemasan dan klaim-nya, The Face Shop Chia Seed Sebum Control Moisture Cream ini ditujukan untuk mereka yang memiliki kulit berminyak. Formulanya sendiri oil-free dengan bahan utama menggunakan 100% organic chia seed. Selain itu pelembab ini dibuat dengan teknik low-carbon, environmental-friendly dan GMO Free. GMO (Genetically Modified Organisms) adalah organisme yang dimodifikasi secara genetik dengan tujuan untuk mendapatkan hasil maksimal. Contohnya seperti semangka tanpa biji atau beras tahan hama. Biasanya nih GMO ada pada makanan, tetapi ternyata GMO juga bisa ditemukan pada produk kecantikan lho, terutama produk kecantikan yang menggunakan bahan dari tumbuhan.

Menurut American Academy of Environmental Medicine (AAEM), GMO bisa menyebabkan penyakit serius seperti masalah imunitas, infertilitas, asma, dan alergi. Duh ngeri banget ya. Makanya The Face Shop pada produk ini menjamin kalau produknya GMO Free alias bebas dari bahan yang dimodifikasi secara genetik. Sayangnya aku hanya sempat colek-colek sedikit dan mencoba selama beberapa hari. Seperti dugaanku, wajahku nggak cocok menggunakan pelembab ini karena kulit justru terasa panas. Padahal aku suka banget sama tekstur pelembabnya yang berupa gel. Adem gitu pas dipake dan cepat meresap.



Foundation Coverderm dengan harga fantastis ini (kalau nggak salah sekitar 300 ribuan) aku dapatkan ketika aku mengikuti kompetisi Halloween di tahun 2015. Semua peserta kompetisi dikirimkan produk ini untuk dipakai saat membuat kreasi makeup Halloween. Setelah kompetisi berakhir, jujur aku nggak tahu mesti pakai produk ini gimana. Dipakai untuk alas bedak nggak mungkin karena shade-nya gelap. Dipakai untuk contouring pun nggak karena waktu itu aku belum bisa contouring. Lagi-lagi produk ini tertimbun tumpukan produk lainnya.

Aku baru sadar kalau punya foundation Coverderm ini ketika aku beberes meja rias beberapa hari yang lalu. Pas dicek tanggal kadaluarsa-nya, huhuhu ternyata sudah lewat (02/2017). Padahal aku kepingin banget nyobain contouring dengan produk ini (soalnya ilmu contouring-nya sudah lebih baik dibandingkan 2 tahun yang lalu). So, dengan berat hati foundation ini aku buang. Bhay!

7. Rainforest Herbal Vinegar Rinse



Di awal tahun 2017 ini, aku sempat mengganti semua skincare aku dengan skincare organik, yaitu oil. Dari sekian banyak merek skincare organik, pilihanku jatuh pada Rainforest yang diproduksi oleh Green Mommy Shop. Salah satu produk organik Rainforest yang aku gunakan adalah Herbal Vinegar Rinse. Produk ini bisa dibilang semacam toner yang dipakai setelah wajah dibersihkan dengan sabun. Meskipun dikemas dalam bentuk spray, aku lebih senang menggunakan produk ini dengan menggunakan kapas dan ditepuk-tepuk ke wajah. Aroma toner ini unik dengan bau apple vinegar yang cukup kuat.

Karena organik, tentu saja produk ini tidak mengandung bahan kimia apapun termasuk pengawet. Itu dia sebabnya masa kadaluarsanya sangat cepat. Tanpa sadar masa pakainya sudah lewat deh, jadi mau nggak mau harus dibuang.

8. Nivea Men After Shave Balm



Produk terakhir yang amat sayang aku buang adalah Nivea Men After Shave Balm. Di saat orang-orang udah pada lupa pada kehebohan produk Nivea ini untuk makeup primer, aku justru baru pakai. Kebetulan salah satu besties-ku pergi umroh dan membeli Nivea ini jadi aku bisa nyobain sekece apa sih Nivea Men After Shave Balm sebagai makeup primer. Namun entah kenapa justru ketika aku punya produk ini, aku lagi males-malesnya pake makeup. Dan seperti produk-produk sebelumnya, Nivea Men After Shave Balm ini pun dicuekin.

Produk ini sebetulnya memang untuk cowok, makanya pas dipake baunya ya bau-bau macho ala cowok gitu deh. Aku pernah coba produk ini beberapa kali sebagai primer dan memang enak sih. Makeup jadi lebih halus. Hanya saja aku belum sempat menguji daya tahannya. Will I  buy this product again? Nope. 

***


Itu dia beauty items yang sebetulnya sayang banget untuk dibuang tetapi apa daya, karena memang sudah habis masa kadaluarsa dan PAO-nya ya mau tidak mau. Jujur aku merasa ini termasuk pemborosan (meskipun beberapa diantaranya aku dapatkan secara cuma-cuma). Huhuhu. Namun semua ada hikmahnya, sekarang aku jadi lebih teliti mengecek masa kadaluarsa dan PAO, tidak menunda review, dan kalau memang aku tidak akan pakai lagi ya aku hibahkan. Bagaimana dengan kalian, ladies? Kalian juga mengalami hal yang sama nggak? Kalau iya, apa yang kalian lakukan? Share your ideas ya!

Thanks for reading!

Share this Post Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This Share on Google Plus Share on Tumblr

8 comments:

  1. Huhuhuhu banyak juga ya Mba Tya, tapi kalau gak dibuang malah jadi bahaya juga. Btw, kemarin saya aja make lipen yang udah kadaluarsa dan ga sadar, eh ujung2nya bibir saya kerasa panas :( Duheee, dari situ saya kapok pake yang udah kadaluarsa lagi.

    Dari mini reviewnya, saya malah penasaran sama produk Himalayan.

    ReplyDelete
  2. Kalo saya kebanyakan buang kosmetik bukan skincare. Seperti lipstik, bedak, eyeshadow dan blush. Jarang make up sih. PAO itu apa sih mbak?

    ReplyDelete
  3. Wayah... itu coverderm aku juga dpt dikasi pas kompetisi halloween itu. Aku juga ga ngecek kadaluwarsa nya hahaha. Duh sayang bgt soalnya mahal.

    esybabsy.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. sayang banget kalo sampe kadaluarsa gitu ya kak :(
    aku punya banyak stock lipstick sih ini, takut juga bakalan akdaluarsa sebelum habis :(

    ReplyDelete
  5. Huhuhu byk dan bagus2 yah.. aku klo dapet kadang aku kasih ke saudara mba. Tapi dlihat juga sih masa kadaluarsanya..

    ReplyDelete
  6. aq juga baru beres2 meja rias dan mendapati banyak item uda mendekati kadaluarsa bahkan uda kadaluarsa krna lama teronggok dimeja.eman banget ya mbak hikz.btw mau nyoba yg nivea men ah. tengkyu infonya ya mbk

    ReplyDelete
  7. Kdg krn sayang mau dipake malah kelupaan hingga exp. 😢😢😢 sayang banget ya Mbak..

    ReplyDelete
  8. Pas banget itu foundation Coverderm aku juga masih ada 😂 Barely touched 😅 Udah expired ya mbak? Punyaku juga kalo gt haha

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih banyak sudah membaca postingan ini. Jangan sungkan menuliskan komentar di bawah ini ya. Komentar, masukan, dan kritik kalian sangat berarti untuk aku. Oya, please jangan masukkan link hidup di komen ya. Semua komentar dengan link hidup akan langsung di-delete.

Have a nice day!


© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.