Sunday, 30 July 2017

Keuangan Keluarga Sehat? Yuk Cek Kondisi Keuangan agar Sejahtera bersama Ibu Berbagi Bijak dan VISA

Happy Sunday!

Suka mengeluh uang sama seperti air yang mengalir? Merasa selalu gagal menabung? Yup, kalian nggak sendirian kok! Aku pun suka merasa seperti itu. Rasanya uang gajian Cuma numpang lewat aja di rekening bank dan ketika di pertengahan bulan dompet semakin tebal, bukan karena uangnya bertambah tetapi karena struk belanja yang menumpuk. Tabungan pun sepertinya mandek tidak pernah bertambah.


Beberapa kondisi yang aku sebutkan di atas itu menjadi pertanda bahwa keuangan keluarga berada dalam kondisi buruk dan tidak sehat. Duh, ternyata nggak hanya badan aja yang bisa sakit, keuangan pun bisa sakit juga. Jadi, ketika aku mendapatkan undangan untuk menghadiri workshop Visa Financial Literacy Series yang bekerja sama dengan Ibu Berbagi Bijak dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pada hari Selasa, 25 Juli 2017 lalu, tanpa pikir panjang aku pun menghadiri acara ini.


Acara yang diselenggarakan di Attarine, Jakarta Selatan ini menghadirkan mbak Prita Ghozie, seorang Financial Educator yang sudah terkenal kiprahnya dalam hal pengelolaan keuangan keluarga. Pada workshop ini, mbak Prita memberikan edukasi kepada emak-emak kece dari Komunitas Emak Blogger (KEB) dan The Urban Mama (TUM) bagaimana mengecek kondisi keuangan keluarga. Mbak Prita menegaskan bahwa Financial Check up itu sangat penting dilakukan oleh setiap keluarga. Alasannya? Dengan melakukan financial check-up secara menyeluruh, kita bisa benar-benar mengetahui kondisi keuangan.

Kondisi keuangan sendiri terbagi dalam empat peringkat, yaitu:

1. Tidak sehat

Besar pasak daripada tiang, peribahasa tersebut sangat tepat untuk kondisi keuangan yang satu ini dimana pengeluaran jauh lebih besar daripada pemasukan. Dalam kata lain, defisit. Kondisi ini bisa lebih akut lagi kalau kita punya hutang kartu kredit yang tak kunjung lunas dan tidak memiliki aset apapun. Duuh, kalau kalian merasa kondisi kalian ada di posisi ini, wajib segera melakukan financial check-up.

2. Sehat

Kebalikan dari kondisi sebelumnya, keuangan keluarga dinyatakan sehat kalau pengeluaran berbanding lurus dengan pemasukan. Meskipun begitu, mereka yang berada pada peringkat ini masih sering terlambat membayar lunas tagihan kartu kredit. Selain itu, investasi yang dimiliki keluarga pun masih minim.

3. Mandiri

Kondisi keuangan mandiri adalah kondisi dimana penghasilan lebih besar dari pengeluaran, tidak memiliki hutang kartu kredit, dan investasi yang dimiliki sudah maksimal.

4. Sejahtera

Pada posisi ini, tidak hanya penghasilan lebih besar dari pengeluaran dan tidak memiliki hutang, tetapi juga keluarga memiliki penghasilan pasif dari aset dan bisa berderma.

***

Tentu saja kita semua menginginkan kondisi keuangan sejahtera ya. Iyalah siapa juga yang nggak mau? Rasanya hidup tuh nggak dikejar-kejar hutang atau tidak perlu deg-degan tiap tengah bulan. Menurut mbak Prita Ghozie, kondisi keuangan Sejahtera ini sangat mungkin dicapai oleh setiap orang dengan Syarat dan Ketentuan #eeeaaaa

Sebetulnya financial check-up ini bisa lho dilakukan sendiri dan caranya cukup mudah. Ada beberapa perangkat yang diperlukan untuk membantu dalam melakukan pengecekan kondisi keuangan, yaitu: Tabel Kekayaan Bersih, Tabel Arus Kas, dan Hitungan rasio-rasio keuangan dasar. 


Untuk mengetahui kekayaan bersih yang kita miliki, kita bisa membuat tabel yang berisi informasi aset dan kewajiban yang kita miliki. Aset sendiri ada macam-macam, mulai dari aset kas (tabungan, deposito, dan reksadana), aset investasi (ORI, logam mulia, dan saham), sampai aset konsumsi (rumah dan kendaraan). Sedangkan kewajiban adalah pengeluaran yang wajib dilunasi seperti pinjaman jangka pendek (utang kartu kredit, utang pinjaman dana tunai) dan pinjaman jangka panjang (kredit perumahan, kredit kendaraan, dan kredit lainnya). Setelah semua data ini dikalkulasi, yaitu dengan cara Total Aset dikurang Total Kewajiban, maka akan didapatkan nett kekayaan bersih.



Perangkat kedua adalah Tabel Arus Kas yang terdiri dari arus kas masuk dan arus kas keluar. Masing-masing arus kas ini terbagi lagi menjadi arus kas rutin dan tidak rutin. Arus kas masuk rutin contohnya seperti gaji dan pemasukan lain yang sifatnya tetap, sedangkan arus kas tidak rutin contohnya seperti THR, bonus, dan hadiah. Arus kas keluar rutin adalah biaya rumah tangga dan cicilan pinjaman. Untuk arus kas keluar tidak rutin contohnya seperti biaya liburan, kurban, dan Pajak Bumi dan Bangunan. Selain itu semua pos pengeluaran perlu dicatat seperti pengeluaran wajib dan tetap, wajib dan fluktuatif, tidak wajib dan tetap, dan tidak wajib dan fluktuatif. 


Perangkat terakhir adalah rasio-rasio keuangan yang terbagi menjadi rasio dana darurat, rasio menabung, dan rasio berutang. Di kesempatan ini mbak Prita juga menekankan pentingnya memiliki dana darurat keluarga dimana dana darurat bisa dimanfaatkan ketika keluarga mengalami musibah, sakit dan membutuhkan dana untuk berobat, mendadak di-PHK, sampai untuk memperbaiki kerusakan peralatan rumah tangga. Idealnya, dana darurat itu besarnya minimal 3x pengeluaran rutin bulanan. Jadi kalau pengeluaran rutin keluarga sekitar 3 juta, dana darurat yang ideal adalah sekitar 9 juta. Selain itu, dana darurat sebaiknya dibuat terpisah dan jika perlu ditambahkan untuk kondisi yang spesial.

Kekepin dompet! Kalau perlu gembok sekalian
biar nggak tergoda sama diskon!

Suer workshop ini sukses bikin aku kebat-kebit memikirkan kondisi keuangan keluarga dan pingin segera pulang untuk langsung berhitung. Apalagi keluarga kami saat ini sedang menghadapi cobaan dimana mas suami sedang tidak bekerja dan aku mengajar, jadi kami harus ekstra hati-hati dalam setiap pengeluaran. Bisa dibilang kami sedang benar-benar mengencangkan ikat pinggang.

Oya, mbak Prita juga memberikan beberapa tips dahsyat agar keuangan keluarga selalu sehat:

  • Jangan malas mencatat keuangan yaitu penghasilan dan pengeluaran. Struk dan bon itu dikumpulin jangan hanya biar dompet jadi tebal, tetapi jadikan sebagai data untuk membantu menjaga cashflow tetap seimbang. 
  • Buat yang malas mencatat, gunakan kartu debit setiap transaksi. Dengan begini, kita bisa mengetahui dana keluar/masuk secara digital dan juga mendukung cashless society. 
  • Selalu sisihkan sebagian penghasilan untuk menabung. Idealnya, besarnya dana untuk tabungan adalah 10% dari penghasilan. 
  • Buat yang susah menabung, fitur autodebet pada bank bisa dimanfaatkan sehingga uang kita terpotong otomatis untuk ditabung. Nggak ada alasan nggak bisa nabung ya, cyin. 
  • Kurangi dan kalau perlu hilangkan pengeluaran yang tidak penting seperti ngopi syantik bareng teman dan belanja makeup yang tidak urgent *tunjuk diri sendiri*. Alihkan dana pengeluaran tersebut untuk menabung. 
  • Buat budget bulanan dan coba untuk selalu mentaati budget tersebut. 

Selalu catat semua pengeluaran agar tidak besar pasak daripada tiang. 

Sebetulnya masih banyak lagi yang ingin aku tulis tentang keuangan keluarga ini, tapi kayanya nggak cukup deh hanya satu postingan saja. InsyaAllah aku akan tulis lanjutannya secara lengkap di post berikutnya ya. Yuk kita sama-sama belajar menjadi Ibu bijak dalam mengelola keuangan keluarga agar masa depan keluarga sejahtera. Aamiin. Terima kasih banyak untuk KEB, Visa, mbak Prita Ghozie, dan Ibu Berbagi Bijak atas workshop-nya yang mencerahkan!


Gimana dengan kamu? Apakah punya tips seputar pengelolaan keuangan keluarga? Atau mungkin punya saran dan masukan agar kondisi keuangan keluarga sehat? Jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar di bawah ini ya!

Thanks for reading! 

Share this Post Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This Share on Google Plus Share on Tumblr

4 comments:

  1. Mnurutku kunci utama pengelolaan keluarga juga harus perbaikki komunikasi antara suami dan istri. Karena kalau sudah duduk bareng suami istri bisa membuat perencanaan keluarga menjadi lebih baik :)

    ReplyDelete
  2. Nah bener banget tuh mbak tipsnya dari Mbak Prita yang mencatat setiap pengeluaran dan mengurangi nongkrong syantiknya. Iya deh soalnya ga berasa justru nongki begitu yang bikin dompet tebel dengan struk kan hehe, aduhh akupun makjleb deh sama acara ini

    ReplyDelete
  3. beneran seneng banget bisa ikutan acara ini kemaren ya Ty, pas banget nih gw lagi pengen ngatur keuangan dari nol lagi, secara anak2 pada masuk sekolah baru dengan dana yang bikin kantong bolong, hihihi..

    ReplyDelete
  4. namanya ibu harus semua muanya urusan keuangan juga harus cerdas

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih banyak sudah membaca postingan ini. Jangan sungkan menuliskan komentar di bawah ini ya. Komentar, masukan, dan kritik kalian sangat berarti untuk aku. Oya, please jangan masukkan link hidup di komen ya. Semua komentar dengan link hidup akan langsung di-delete.

Have a nice day!


© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.