Top Social

Showing posts with label Blog Challenge. Show all posts
Showing posts with label Blog Challenge. Show all posts

My Earliest Childhood Memory - 31 Day Blog Challenge

Thursday, 9 August 2018
Di salah satu coursebook yang aku pakai untuk mengajar, ada satu artikel yang membahas tentang memori. Ternyata, ada lho orang yang bisa mengingat masa kecil mereka dari sejak mereka masih bayi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa apa yang kita ingat ketika masih kecil biasanya berhubungan dengan emosi. Entah itu emosi senang, sedih, atau marah. Bagaimana dengan kenangan masa kecil aku? Jujur aku hanya bisa mengingat sedikit saja. Tetapi dengan bantuan dari kedua orangtuaku dan foto-foto masa kecil, aku bisa menuliskan tentang masa kecilku. 


Masa kecil merupakan masa yang indah bagi aku. Setiap hari selalu diisi dengan bermain sambil belajar. Kata ibuku, aku memang dari dulu sudah aktif dan tidak mau kalah dengan anak cowok. Kenangan masa kecil aku yang masih aku ingat sampai sekarang adalah ketika aku tinggal di Perth, Australia bersama kedua orangtuaku. Ayahku waktu itu mendapatkan beasiswa untuk belajar di Murdoch University. Aku masih berumur sekitar 2 tahun (lagi lucu-lucunya kalau kata orang).

Ini boneka teddy bear-nya masih ada sampai sekarang lho.

Tinggal di negeri orang membuat aku lebih mahir berbahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Apalagi umurku masih kecil, jadi lebih cepat juga menyerap kosakata bahasa Inggris. Lucunya, meskipun aku berbicara dalam bahasa Inggris, aku memanggil kedua orangtuaku dengan panggilan ‘Ibu’ dan ‘Bapak’. Aku tahu tentang ini ketika aku menonton rekaman video VHS (sumpah ini jadul banget!) ketika kami tinggal di sana. Ada satu scene ketika aku sedang bermain lempar bola dengan ayahku di taman dan aku teriak, “Bapaak, catch this!” Kalau ingat itu pasti aku langsung otomatis ketawa. 


Soal panggilan nama ke orangtua ini juga unik (kalau tidak mau dibilang aneh) karena ketika kami berempat (ketika kami tinggal di sana ibuku hamil dan adikku lahir di sana) kembali ke tanah air, aku justru memanggil mereka dengan ‘Mommy’ dan ‘Daddy’. Nama panggilan ini yang terus aku dan kedua adikku pakai hingga sekarang. Mas Deniz dan adik Zinan pun juga memanggil aku dan mas suami dengan panggilan ‘mommy’ dan ‘daddy’.


Sekembalinya kami ke Indonesia, ibuku bilang kalau aku hampir tidak bisa bahasa Indonesia sama sekali. Jadi semua percakapan menggunakan bahasa Inggris. Perbedaan bahasa ini membuat aku kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Ada satu cerita yang lucu tentang bahasa ini. Jadi waktu itu ibuku sedang pergi dan aku di rumah bersama nenekku (alm). Nenekku ini tidak bisa bahasa Inggris sama sekali. Entah awalnya bagaimana, aku melihat kelinci dan aku cerita ke nenekku dalam bahasa Inggris (yang tentu saja beliau tidak paham). Karena aku kesal nenekku tidak mengerti apa yang aku ucapkan, aku gigit tangan nenekku. Ketika ibuku pulang, nenekku mengadu soal kejadian itu. Setelah dijelaskan bahwa yang aku maksud itu adalah kelinci, nenekku cuma bisa geleng-geleng kepala dan bilang, “oalaah, rabbit itu kelinci ya?” Duh maaf banget ya Mbah. 

Kenangan lainnya yang aku ingat ketika aku masih kecil adalah saat kepalaku, tepatnya dahi, bocor karena aku masuk ke dalam selokan. Waktu kecil, aku sangat takut dengan ondel-ondel. Di suatu sore hari, aku bersama adik-adikku dan sepupuku bermain di depan rumah. Tiba-tiba terdengar suara alunan musik ondel-ondel. Aku mulai panik. Dan benar saja, tidak lama kemudian ada ondel-ondel muncul dan berjalan ke arah kami. Aku tambah panik dong. Saking paniknya aku berjalan mundur dan tidak sadar kalau di belakang aku ada selokan. Aku pun terjatuh dan dahiku membentur pinggiran selokan. Darah langsung mengucur deras dan aku pun tambah panik dan menangis. Untung saja ibuku ada di rumah dan aku langsung dibawa ke klinik dan mendapatkan jahitan. 

Main microphone yang super berisik.

Ketika kecil, aku juga ingat masa-masa ketika aku dan adik-adikku main hujan dan main tanah. Ibuku tidak pernah melarang kami untuk main hujan. Justru beliau yang menyuruh kami main hujan agar kuat. Namanya juga anak kecil, pasti happy luar biasa boleh main hujan. Apalagi teman-teman kami di kompleks tidak ada yang boleh main hujan dan cuma bisa melihat kami dengan tatapan iri. Aku sempat menanyakan ke ibuku kenapa dulu kami boleh main hujan dan beliau menjawab, “Biar kamu nggak penasaran hujan-hujanan tuh rasanya kaya apa.” Yang paling menyenangkan dari bermain hujan adalah ketika kami kembali ke rumah, ibuku sudah menyiapkan air hangat untuk mandi dan segelas susu coklat plus camilan. 

Di tahun 90an, ada beberapa area di kompleks tempat kami tinggal yang masih berupa tanah merah. Kalau orangtua lain melarang anak-anaknya untuk main di tanah merah tersebut, ibu kami justru mengajak kami main di sana. Kami main perosotan tanah sampai baju kami berubah warna. Kami juga mendaki gundukan tanah merah tersebut sampai puas. 


Ada satu kenangan masa kecil yang juga tidak pernah terlupakan hingga sekarang yaitu ulang tahun! My mom is a food genius! Beliau selalu membuat kue ulang tahun untuk kami bertiga (aku dan kedua adikku). Kue ulang tahun yang beliau buat juga bukan sembarang kue karena selalu ada temanya. Ada banyak sekali tema kue ulang tahun yang ibuku buat, mulai dari angka, binatang, mobil, sampai rumah. Namun kebiasaan membuat kue ulang tahun ini berhenti ketika kami bertiga sudah besar. 

Sebetulnya masih banyak lagi kenangan masa kecil lainnya, tetapi rasanya cukup sampai sini dulu. Insha Allah nanti aku akan menuliskan lagi kenangan ketika aku remaja dan beranjak dewasa (aiih). Bagaimana dengan teman-teman? Apa kenangan masa kecil yang tidak terlupakan sampai sekarang? Share di kolom komentar yuk. 

Thanks for reading!

Arti nama blog Talkativetya - 31 Day Blog Challenge

Wednesday, 8 August 2018
Mungkin sudah tidak bukan hal baru dalam dunia hiburan ketika ada artis yang mengganti nama asli mereka dengan nama panggung di Kantor Catatan Sipil dengan alasan mereka lebih dikenal dengan nama panggung mereka. Beberapa alasan lain kenapa seseorang mengganti namanya adalah karena nama tersebut artinya kurang baik dan karena nama tersebut dia jadi di-bully


Memilih nama memang bukan perkara mudah karena salah memilih nama bisa berimbas pada banyak hal. Di Islam sendiri nama adalah doa dan sebaiknya kita memilih nama yang memiliki arti yang baik. Kalau teman-teman mampir ke toko buku, kalian bisa melihat ada banyak sekali buku kumpulan nama-nama. Mulai dari buku kumpulan nama-nama islami, nama anak perempuan/laki-laki populer, dan masih banyak lagi. Selain itu, umat Muslim pun dianjurkan untuk memanggil orang lain dengan nama panggilan yang baik. Itulah kenapa setiap kali aku bertemu dengan orang baru, aku selalu menanyakan mau dipanggil dengan nama apa. 

Ketika aku membuat blog ini di tahun 2009, salah satu hal yang menahan aku untuk tidak langsung mempublikasikan blog adalah nama blog. Ya, memilih nama blog itu sama sulitnya seperti memilih nama untuk anak. Apalagi waktu itu aku sama sekali buta tentang blogging dan tidak punya ilmu apapun tentang branding. Setelah satu bulan memikirkan nama blog, akhirnya pilihanku jatuh pada nama Talkativetya

Kenapa Talkativetya?

Dari sejak aku SD sampai kuliah, semua orang memanggil aku dengan nama “Ati” yang diambil dari nama depan aku: Atisatya. Sebetulnya nama ini punya arti yang bagus (ibuku bilang nama Atisatya itu artinya ‘hati yang setia’), sayangnya teman-teman waktu di SD dulu suka meledek nama aku. Aku sering diledek dengan nama ‘ati ayam’, ‘ati sapi’, sampai nama aku diputar-putar jadi ‘t*i’. Kalau sekarang ini sudah termasuk bullying ya. 

Aku sudah sering meminta pada teman-teman sekolah dan guru untuk memanggil aku dengan nama ‘Tya’ (karena di rumah aku dipanggil dengan nama ini), tetapi permintaan aku dianggap seperti angin lalu saja. So, I had to survive with this name until I graduated from college. Aku mulai dipanggil dengan nama ‘Tya’ ketika aku kerja. Jadi, itulah salah satu alasan kenapa nama Tya itu penting untuk dicantumkan dalam nama blog aku. 

Bagaimana dengan kata Talkative? Ketika aku masih SMA, aku ikut kursus bahasa Inggris di salah satu lembaga bahasa (years later, this English course became my office) dan waktu itu kami mempelajari tentang personality traits (kepribadian). Kami diminta untuk menganalisa personality traits teman sekelas dengan cara mengerjakan kuesioner. Ternyata, salah satu personality trait yang aku miliki adalah talkative alias suka ngomong. Aku bisa ngomongin apa saja tanpa jeda, apalagi kalau topiknya seru. Selain itu aku kalau ngomong juga selalu bersemangat. Teacher kami waktu itu juga meminta kami untuk mencari 3 personality traits dengan huruf awal sama dengan nama kami. Aku pun memilih: Talkative, Tenacious, Terrific.



Dari ketiga personality traits tersebut, aku paling suka dengan kata Talkative karena berima dengan nama aku Tya. Selain itu kalau dilihat dari artinya, kata Talkative ini sesuai untuk blog aku karena aku akan ‘ngomong’ banyak hal di dalam blog. Jadi, terbentuklah nama blog Talkativetya. 

Ada keinginan untuk ganti nama blog? 

Hmm, kalau ditanya apakah aku akan mengganti nama blog aku sepertinya aku akan jawab tidak. Pertama, menurut aku nama blog ini sudah sesuai dengan isi blog aku. Kedua, blog Talkativetya sudah cukup dikenal orang sehingga akan sulit dan butuh waktu lagi untuk branding ketika ganti nama. Aku ingat waktu mengikuti Workshop Fun Blogging 12 di tahun 2016, salah satu pemateri mengatakan kalau sebaiknya nama blog itu sesuai dengan nama akun social media lainnya agar lebih mudah. Aku pun langsung menyeragamkan nama akun social media aku (Twitter, Facebook, Instagram). Tetapi memang untuk blog sengaja tidak aku utak atik lagi. 

*** 

Itu dia arti dari nama blog Talkativetya dan sejarah dibalik pemilihan nama blog ini. Bagaimana menurut teman-teman? Apakah nama blog ini sudah sesuai dengan konten blognya? Atau mungkin aku memang harus ganti nama blog? Kira-kira apa saja plus minus dari mengganti nama blog? Oya, teman-teman juga bisa share di kolom komentar tentang arti nama blog/nama pribadi kalian ya. 

Thanks for reading!

20 facts about Tya - 31 Day Blog Challenge

Tuesday, 7 August 2018
Siapapun yang membaca blog Talkativetya pasti sedikit banyak tahu beberapa hal tentang aku. Di postingan kali ini, aku mau buka-bukaan nih tentang 20 fakta seorang Tya. Apa aja sih? Langsung terusin aja bacanya  ya!


1. Anak pertama dari 3 bersaudara.

Tya itu adalah anak sulung dan kedua adikku itu cowok. Jadi bisa ngebayangin dong kalau dulu tuh aku super bossy sama adik-adiku. Apalagi aku suka kesel karena tidak diajak main bareng (yaiyalah, siapa juga yang mau ajak  kakak cewek main bareng?) Orangtuaku pernah cerita kalau dulu aku pernah minta mereka berdua dibuang aja karena bikin rumah berisik dan berantakan (whaat?) Segitunya yaa. Meskipun begitu aku tetap sayang kok sama mereka.

2. Pakai jilbab 2 bulan sebelum lulus SMA.

Keputusan memakai jilbab memang muncul mendadak. Entah gimana ceritanya, pokoknya tahu-tahu ada dorongan kuat untuk pakai jilbab. Akhirnya dengan pede aku pakai jilbab dua bulan sebelum kelulusan (tahun 2002). Banyak yang kaget dengan keputusan ini karena memang sebelumnya aku tomboi banget. Karena serba mendadak, aku tuh inget banget tidak punya baju seragam panjang dan jilbab. Mau beli juga tanggung kan karena sudah mau lulus. Alhamdulillah teman-teman Rohis di sekolah aku gercep menghibahkan beberapa seragam yang tidak terpakai dan juga jilbab. Terharu banget deh, ini salah satu kenangan yang tidak terlupakan.

3. Kalau ketawa selalu ngakak.

Nah ini nih yang dari dulu sampai sekarang tidak bisa diubah. Aku kalau ketawa ngakak bisa lupa diri aliastidak jaim. Kadang suka malu sendiri, terutama pas teman-teman lain ketawanya manis (ketawa feminin) sedangkan akunya ketawa sudah kaya orang gila. Tapi ya mau gimana, kalau ditahan nanti malah sakit perut. Iya tidak?

4.Tidak pernah punya kuku panjang.

SD aku waktu itu termasuk SD favorit dan punya peraturan ketat, salah satunya adalah kebersihan kuku. Kalau kami ketahuan punya kuku panjang sedikit aja, pasti penggaris sudah mendarat mesra di tangan (you know what I mean). Dari situ aku selalu memotong kuku aku sampai pendek dan jadi kebiasaan. Kebiasaan memotong kuku sampai pendek ini juga aku terapkan ke mas suami dan anak-anak.

5. Pakai baju harus matching.

Drama yang selalu terjadi setiap kali aku mau pergi, entah itu pergi kerja atau cuma sekadar hangout, adalah memilih baju. Kenapa jadi drama? Soalnya aku kalau pakai baju harus matching. Saking terobsesi-nya matching-in warna, aku sampai mengumpulkan pins di Pinterest tentang Fashion Color Scheme dan What to wear with color. So, you won't see me wearing mismatched outfit.

6. Kalau jalan kaki selalu ngebut.

Mungkin karena sejak kecil aku sudah diajarkan disiplin, ditambah lagi aku ikut Paskibraka, aku jadi terbiasa bergerak cepat. Jujur aku paling sebel kalau ada orang jalan santai gitu karena menurut aku mereka bikin aku jadi melambat. Alhamdulillah mas suami yang juga Paskibraka punya kebiasaan yang sama. Jadi kalau kamu jalan bareng aku dan aku jalannya lambat, berarti aku menahan diri untuk tidak melesat secepat kilat.

7. Ketemu suami lewat kontak jodoh online.

Banyak yang tidak percaya kalau aku bilang aku ketemu mas suami lewat kontak jodoh online. Tapi nyatanya kami memang kenalan via kontak jodoh online dan ternyata klop. Apalagi kami berdua sama-sama pernah jadi Paskibraka (mas suami dulu Paskibraka Nasional wakil Jakarta tahun 1998). Ini kalau mau diceritain panjang, jadi kalau kalian mau tahu ceritanya just give me a shout in the comment box ya.


8. Paling benci sama orang merokok dan asap rokok.

Fact yang satu ini kayanya tidak perlu dijelasin panjang lebar deh. Pasti sudah pada tahu kan kalau rokok dan asapnya itu sangat berbahaya bagi kesehatan? Sedihnya, orangtuaku itu merokok dan sampai sekarang aku masih belum bisa menghentikan kebiasaan merokok ini. Mentok-mentoknya ya hanya bisa mendoakan saja. Aku bersyukur mas suami tidak merokok jadi rumah kami bebas asap rokok. Kalau ada tamu yang datang mau merokok, kami persilahkan merokok di luar pagar rumah.

9. Bisa mengendarai motor tapi tidak punya SIM C.

Aku sudah bisa mengendarai motor sejak masih SMA tetapi hingga sekarang aku tidak punya dan tidak kepingin membuat SIM. Alasannya? Aku kalau malam tidak bisa melihat jalanan dengan jelas sehingga aku kuatir akan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Biasanya aku naik motor hanya sebatas ke mini market depan rumah aja.

10. Suka gadoin sambal.

Kalian pasti sudah tahu kalau aku memang pencinta makanan pedas. Tapi selain menyukai makanan pedas, aku juga suka gadoin sambal. Entah itu sambal terasi, sambal goreng, sampai cabe bubuk pun aku gadoin. Banyak yang kasih nasehat jangan terlalu sering makan makanan pedas karena kuatir nanti usus buntu, tapi bagaimana ya? Namanya juga suka. Hehehe.


11. Selalu sedia cabe bubuk di dalam tas.

Ini masih nyambung dengan fakta sebelumnya. Karena kesukaanku akan makanan pedas, aku selalu membaca cabe bubuk di dalam tas. Alasannya? Beberapa kali aku pergi ke restoran dan memesan menu makanan super pedas (kata mbak/mas-nya itu udah yang paling pedas) tetapi kenyataannya makanan tersebut tidak pedas (menurut versi aku). Disitulah cabe bubuk berperan penting. Aku bisa langsung tambahkan cabe bubuk sesuai selera dan tidak merepotkan mbak/mas pramusaji di restoran.

Baca juga:
What's in my bag?
What's in my makeup bag 2018

12. Es krim vanilla favoritku.

Kalau diminta untuk memilih rasa es krim favorit, aku pasti langsung menjawab vanila. Menurut aku es krim rasa vanila itu manis dan gurih. Nikmat deh! Apalagi kalau ditambahkan dengan berbagai macam topping.


13. Mulai belajar makeup tahun 2012.

Aku ingat pertama kali aku mulai belajar pakai makeup dengan serius adalah di tahun 2012. Waktu itu aku mengajar bahasa Inggris untuk staff di Mahkamah Konstitusi dan aku merasa kok aku ini dekil (kurang menarik dari segi penampilan). Apalagi pekerjaan aku waktu itu kan mengajar di lembaga negara yang formal. Jadi aku memutuskan untuk mulai belajar menggunakan makeup sedikit demi sedikit bermodalkan beauty blog dan tutorial di Youtube.

14. Kalau foto tidak pernah kelihatan gigi.

Saat sedang bermain sepatu roda, aku terjatuh cukup parah sehingga salah satu gigi depan aku gompal (patah sebagian). Hingga saat ini aku masih belum berani memperbaiki gigi aku ini (karena katanya gigi tersebut harus dicabut lalu dipasang jaket/crown, ngebayanginnya aja sudah ngeri). Jadi solusi paling mudahnya adalah kalau foto ya selalu mingkem.

15. Tidak mau beli baju dengan harga diatas 100 ribu.

Aku bukan orang yang brand-oriented dalam hal fashion. Kebanyakan pakaian yang aku miliki aku beli di toko pakaian biasa di pasar atau di pusat perbelanjaan seperti ITC dengan harga yang murah. Menurut aku, pakaian yang bagus itu tidak harus mahal dan bermerek. Yang penting untuk aku adalah pakaian tersebut nyaman digunakan dan modelnya cocok. Kalaupun aku membeli baju bermerek, aku biasanya menunggu diskon besar-besaran sampai harga bajunya dibawah 100 ribu. Alasan lainnya? Penghematan!

16. Kalau makan ayam goreng kulitnya dimakan belakangan.

Siapa yang doyan kulit ayam goreng? Kulit ayam goreng rasanya memang luar biasa sampai bisa menjadi sumber konflik kalau makan di restoran. Aku sendiri termasuk yang kalau makan ayam goreng, kulit ayamnya disisihkan dan baru dinikmati belakangan. Ini nikmat banget sih, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi kalau kulit ayamnya pedas dan dicocol dengan sambal.


17. Selalu datang tepat waktu (insyaAllah).

Kedisplinan yang diajarkan di rumah, sekolah, dan dari Paskibraka membuat aku terbiasa untuk datang tepat waktu (bahkan lebih awal). Aku ingat masa SMP dan SMA dulu, aku selalu jadi murid pertama yang datang ke sekolah (wong pas aku datang itu pagar sekolah masih digembok). Di kantor aku sekarang pun seringkali menjadi guru pertama yang datang. Enaknya datang awal/tepat waktu itu aku bisa santai sejenak dan kerja pun tidak terburu-buru.

18. Pernah punya ular peliharaan.

Di tahun 2008 dulu, ada cowok yang dekat dengan aku (mau PDKT) dan dia ini punya bisnis memasok binatang eksotik ke toko hewan di area Jabodetabek. Beberapa hewan eksotik yang dia pasok ini adalah tarantula, kalajengking, kura-kura, tokek, sampai ular. Nah entah awalnya gimana, aku dikasih satu ular sama dia untuk dipelihara. Ularnya jenis mono pohon Papua yang berukuran kecil, ular ini sering disebut juga ular gelang karena memang si ular senang melingkar di atas pagar (maksudnya di pergelangan tangan). Tapi peliharaan ular ini tidak bertahan lama karena aku didemo satu rumah. Anggota keluarga lainnya takut sama ular dan hampir setiap hari aku diomelin soal ular itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengembalikan si ular ke pemiliknya.

19. Makan sambil baca buku.

Aku memang punya hobi membaca. Membaca bagi aku adalah cara paling mudah untuk relaksasi. Entah awalnya bagaimana, aku punya kebiasaan makan sambil baca buku (atau baca buku sambil makan). Kebiasaan ini sudah aku lakukan sejak SD dulu. Banyak yang bilang kalau ini adalah kebiasaan buruk, tetapi sulit sekali menghentikannya. Aku mulai berusaha mengurangi kebiasaan ini, terutama kalau aku sedang makan bersama keluarga dan teman. Tetapi rasanya kurang nikmat, seperti ada yang kurang.

20. Tidak suka pakai aksesoris perhiasan.

Fakta terakhir tentang seorang Tya adalah aku tidak suka pakai perhiasan seperti cincin, anting, gelang, dan kalung terutama yang dari logam mulia seperti emas. Bahkan aku pun tidak menggunakan cincin nikah aku (mas suami juga tidak pakai sih). Alasannya aku suka ribet sendiri dengan perhiasan ini dan sayang juga kalau dipakai takut nanti lecet. Jadi perhiasan ini hanya aku simpan saja.

***

Ternyata banyak juga ya! Setelah membaca 20 fakta ini apakah kalian jadi lebih mengenal seorang Tya? Adalah fakta yang membuat kalian terkejut? Bagaimana dengan kalian? Adakah fakta tentang diri kalian yang orang lain tidak tahu? Share di kolom komentar ya!

Thanks for reading!

Pentingnya Organic Post untuk Blogger - Introduction to 31-Day Blog Challenge

Monday, 6 August 2018
Beberapa waktu yang lalu aku membaca tulisan salah seorang teman blogger tentang organic post. Jujur aku sedikit tertampar dengan isi postingan tersebut karena memang belakangan ini rasio organic post dan sponsored post di blog talkativetya.com kurang seimbang alias lebih banyak sponsored post.


Menulis sponsored post bukan berarti tidak baik. Untuk semua tulisan aku di blog  ini (baik sponsored atau tidak), selalu ditulis apa adanya. Kalau bagus ya aku bilang bagus dan ditambahkan dengan alasannya. Kalau ternyata kurang bagus, aku sebisa mungkin menulis kekurangannya dengan bahasa yang baik. Tetapi tetap ditulis lho ya. Namun seperti kata salah satu blogger senior panutanku, teh Ani Berta, menulis organic post akan membuat kredibilitas blog jadi lebih baik. Readers' level of trust juga pasti meningkat karena mereka tahu kita tidak selalu menulis dengan pamrih. 

Aku masih ingat di salah satu workshop,  teh Ani Berta mengatakan untuk satu sponsored post perlu diimbangi dengan 9 organic post. Wadaaw, sampai saat ini aku masih belum berhasil mencapai rasio tersebut. Paling banter 1:1, itu juga sudah bagus banget mengingat aku bukan full time blogger. Beberapa kali aku juga mengikuti ODOP (One Day One Post) untuk menambah jumlah organic post di blog. Sejauh ini sepertinya baru sekali aja aku sukses menyelesaikan ODOP. Selebihnya aku terpaksa harus berhenti di tengah jalan karena beberapa faktor seperti kesibukan, tema yang kurang sesuai sehingga bikin ide mampet, dan masih banyak faktor lain yang tidak bisa dijelaskan (iih kamu banyak alasan deh Tya).


Balik lagi ke masalah rasio sponsored post dan organic post, aku melihat rasio di blog aku terutama di tahun ini mulai tidak sehat sehingga perlu ada langkah nyata agar blog ini bisa lebih hidup (lagi-lagi mengutip kata teh Ani Berta). Di tengah kegalauan HQQ ini, aku tidak sengaja menemukan satu foto di Pinterest dengan judul 31 Day Blog Challenge. Foto ini menantang blogger untuk menulis setiap hari dengan tema yang sudah ditentukan. TBH, aku tidak tahu siapa yang membuat challenge ini jadi aku cantumkan saja langsung dari Pinterest.




Sebetulnya 31 Day Blog Challenge ini sama seperti ODOP (setiap hari harus posting satu tulisan di blog). Tetapi yang membuat aku tertantang untuk melakukan challenge ini adalah pemilihan temanya yang sederhana dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. In other words, temanya mudah diikuti. Kalau kalian browsing di Pinterest, banyak blog challenge lainnya yang bisa dicoba dengan berbagai macam tema. But I will stick to this one first. 

Aku berharap dengan tema yang mudah diikuti ini, aku tidak terlalu merasa terbebani. Back to the essence of blogging, it is fun and relaxing for me. Jadi kalau ngeblog terasa seperti kewajiban atau beban kan nggak enak juga ya. So, with this post I officially start 31 Day Blog Challenge.

Kalian juga bisa ikutan challenge itu dan siapa tahu kita bisa saling mendukung dan mengingatkan biar sama-sama sukses menyelesaikan challenge ini. Bagaimana? Tertarik?

Thanks for reading! 

Auto Post Signature