Top Social

Showing posts with label Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Komunikasi. Show all posts

Beauty Blogger, Yuk Asah 5 Skill berikut ini!

Sunday, 15 April 2018
Belakangan ini dunia digital influencer semakin berkembang. Banyak blogger-blogger dan influencer baru di media social bermunculan dengan ciri khasnya masing-masing. Aku sendiri sebagai seorang blogger (semoga sudah cukup pantas disebut sebagai blogger) tentu senang karena ini berarti ngeblog dianggap sebagai kegiatan yang berfaedah, bukan lagi sekadar tempat curhat tidak jelas. Ditambah lagi banyak perusahaan yang semakin menyadari kekuatan blogger dalam membentuk opini, sehingga ini membuka peluang bagi para blogger untuk bekerja sama. 

Namun semakin banyaknya blogger (dan juga influencer) membuat persaingan lebih ketat. Bisa jadi saat ini kita terkenal, tapi dalam waktu singkat sudah dilupakan dan digantikan oleh orang lain. Bagi mereka (blogger dan influencer) yang mungkin hanya mengandalkan luxurious lifestyle tanpa ada keunikan atau ciri khas, siap-siap saja dihempas manja sama Syahrini. Maksudnya mereka akan dengan cepat ditinggalkan oleh followers-nya ketika mereka sudah bosan. Hal ini juga disampaikan oleh mas Tuhu Nugraha pada workshop Digital Influencer Fenomena & Strategi Kreatif  yang diadakan pada acara BCC BloggerDay 2018. 

Baca juga:

Mas Tuhu Nugraha mengatakan bahwa untuk bisa bertahan dan bersaing, seorang blogger dan influencer perlu memiliki nilai tambah. Nilai tambah yang dimaksud di sini adalah skill atau keahlian khusus. Dengan memiliki keahlian khusus, seorang blogger bisa menciptakan lahan pekerjaan baru dan tidak melulu mengandalkan endorsement, paid review, atau content placement

Di workshop yang diselenggarakan di Ashley Hotel Jakarta ini, mas Tuhu juga sedikit menyinggung tentang 9 ide model bisnis yang bisa dilakukan oleh seorang blogger. Beliau juga sudah menuliskan tentang ini di blog beliau. Jujur, materi workshop dan tulisan mas Tuhu mengenai model bisnis ini sangat membuka mata aku. Banyak pertanyaan yang muncul di kepala: “mau sampai kapan ngerjain paid review?” “emangnya bakalan terus kuat mondar-mandir menghadiri event?”. Belum lagi ada ketakutan akan umur yang semakin bertambah. Sebagai seorang blogger yang fokus pada niche beauty, aku sangat sadar kalau brand tentu lebih memilih influencer dan blogger yang masih kinyis-kinyis seperti daun lalapan segar.



Lalu bagaimana kita menghadapi persoalan ini? Ya tentu saja dengan menambah keahlian khusus (skills) seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Bicara tentang upgrade skill ini, sebetulnya banyak sekali keahlian yang bisa kita gali dan kembangkan. Sky is the limit, alias tidak ada batasan. Namun menambah skill yang sesuai dengan passion dan niche blog kita pastinya akan lebih mudah dan menyenangkan. Setuju? Untuk para beauty blogger, ada beberapa keahlian yang bisa kalian coba dan kembangkan. 

1. Menulis di luar blog

Yang namanya blogger tentu sudah tidak asing dengan menulis. Namun menulis yang dimaksud di sini adalah menulis di luar blog. Sebagai seorang blogger yang menulis untuk blog kita pribadi, kita bebas berekspresi dengan gaya bahasa apapun dan bebas membahas apapun yang kita suka. Well, dunia menulis tidak selebar daun kelor. Ada banyak sekali jenis tulisan yang mungkin belum pernah kita coba seperti copywriting, storytelling, atau penulisan reportase. 


Pengalaman aku saat menjadi salah satu kontributor The Journal IFEX tahun 2018 ini, aku ‘dipaksa’ untuk keluar dari zona nyaman. Seorang Tya yang selama ini selalu menulis tentang kecantikan dengan gaya santai, mendadak menulis dengan gaya reportase 5W+1H. Beban pun bertambah karena menulisnya harus dalam Bahasa Inggris dan dengan tema yang khusus berkaitan dengan furniture (kebayang dong dari yang biasanya nulis tentang lipstick mendadak nulis tentang produk rotan). Aku belajar banyak dari pengalaman ini, mulai dari teknik wawancara, gaya bahasa, sampai proses editing sebuah tulisan. 

A post shared by Atisatya Arifin | Blogger (@atisatyaarifin) on

Lalu bagaimana kita bisa mengasah skill menulis ini? Banyak caranya kok. Mengikuti workshop menulis adalah salah satu cara yang bisa kalian coba. Selain itu, banyak membaca juga penting untuk melihat perbedaan gaya penulisan. But the most important thing is PRACTICE. Berlatih menulis dengan gaya penulisan yang out of comfort zone tentu akan terasa berat di awal, tetapi dari banyak berlatih ini kita akan terbiasa dan kualitas tulisan pun meningkat. Nah kalau tulisan sudah bagus, tentu kita bisa menjual skill ini dan membuka peluang kerja yang lebih luas. 

2. Makeup Artist 

Skill yang kedua ini sangat erat dengan dunia kecantikan. Profesi Makeup Artist (MUA) adalah profesi yang menjanjikan dan sustainable. Gimana nggak menjanjikan? Bayaran seorang MUA yang sudah terkenal seperti Anpasuha, Bubah, dan Petty Kaligis bisa jutaan lho dalam sekali merias. Belum lagi kesempatan merias orang-orang penting atau selebriti. Sedangkan sustainable atau berkelanjutan ya sudah jelas karena selama masih ada jomblowan dan jomblowati, pasti ada pasangan yang menikah. Coba deh hitung dalam satu bulan pasti ada dong undangan nikahan. Apalagi kalau udah musim nikahan, dalam sebulan kamu bisa dapat lebih dari 3 undangan. 


Di hari spesial, si pengantin pasti mau tampil secantik-cantiknya dan disinilah MUA mendapatkan penghasilannya. Tidak perlu takut rebutan sama MUA lainnya karena kebudayaan di Indonesia itu sangat beragam, jadi tema pernikahannya pun juga macam-macam. Ada yang menikah dengan menggunakan adat Jawa (seperti aku dulu waktu menikah), adat Sunda, dan adat daerah lainnya. Ada juga yang menikah dengan tema internasional.  Apakah seorang MUA hanya merias pengantin saja? Tentu tidak dong, klien seorang MUA juga beragam mulai dari anak SMA yang mau prom night, mereka yang mau lamaran atau tunangan, sampai mereka yang mau datang ke nikahannya mantan. MUA pun juga sering bekerja sama dengan brand kosmetik baik untuk memberikan workshop atau menjadi brand ambassador. Seru kan? 


Untuk menjadi seorang MUA profesional memang perlu waktu, modal, dan kerja keras. Beberapa teman beauty blogger aku pun ada yang menjadi MUA dan sedang belajar menjadi MUA (seperti bu dokter Amanda Anandita. Semangaaat!). Tapi percayalah, semua akan terbayar ketika sudah menjadi MUA yang kompeten dan profesional. 

3. Belajar Fotografi 

Sebuah tulisan akan lebih menarik apabila didukung dengan foto yang sesuai. Bagi seorang beauty blogger, foto memiliki peran yang penting. Bayangkan apabila kamu membaca suatu ulasan produk kecantikan seperti lipstick tetapi fotonya kurang menarik atau bahkan gelap dan berbayang? Tentu kamu akan langsung klik close tab di browser kamu. 


Kualitas foto yang baik tidak hanya bisa membantu meningkatkan traffic blog kamu lho. Dengan mengasah skill fotografi, kamu bisa membuka banyak peluang baru di luar blogging. Sebagai contoh, ada beauty blogger Jennifer Tan (@jennitanuwijaya) yang punya jasa foto produk dan sewa studio di Jakarta bernama Cloud Studio (@cloudstudio_id). Asyik kan dari hobi foto untuk ngeblog terus bisa dipakai untuk mendapatkan penghasilan.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk belajar fotografi seperti bergabung dengan komunitas fotografi, mengikuti workshop dan kursus fotografi. Selain itu tentu saja kita perlu banyak berlatih untuk mendapatkan foto yang berkualitas. 

4. Interpersonal Skill

Tulisan adalah cara seorang blogger mengomunikasikan ide dan pendapatnya. Tapi blogger juga manusia (mendadak nyanyi ala Seurieus Band) yang tentu juga perlu interpersonal skill alias kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Apa sih susahnya berkomunikasi dengan orang lain? Kan tinggal cuap-cuap aja. Ternyata, berkomunikasi itu tidak semudah yang kita kira. Contoh Interpersonal skill sendiri ada berbagai macam seperti Listening (mendengarkan), Communication (komunikasi), Leadership (kepemimpinan), Motivation (motivasi), Respect (menghormati orang lain), Conflict Management (manajemen konflik), dan masih banyak lagi.


Apa sih pentingnya meningkatkan interpersonal skill? Dengan interpersonal skill yang baik, kita bisa memiliki hubungan yang baik dengan individu lainnya dan dengan kelompok. Selain itu, interpersonal skill bisa membantu menunjang karir yang kita miliki misalnya dengan memiliki good leadership kita bisa mendapatkan promosi naik jabatan. Bagi seorang blogger, interpersonal skill membantu dalam menjalin hubungan baik dengan blogger lainnya, agency, dan juga brand. Dengan interpersonal skill yang baik, kita akan diingat sebagai sosok yang ramah dan baik. 

5. Web skills 

Terakhir nih, keahlian yang menurut aku perlu untuk dipelajari seorang beauty blogger dan blogger pada umumnya adalah web skill. Beberapa keahlian yang masuk dalam web skill versi Tya adalah belajar SEO (Search Engine Optimization), coding, web dan blog designing, dan infographic.


Dengan mempelajari skill yang berkaitan dengan blog/web, kita bisa meningkatkan kualitas blog kita. Misalnya dengan SEO kita bisa membuat traffic blog meningkat. Sedangkan blog dan web designing dan infographic bisa membantu agar blog terlihat lebih menarik sehingga pembaca pun betah berlama-lama di blog kita. Kalau skill sudah oke, tidak menutup kemungkinan kita bisa menjadi trainer workshop atau mendapatkan kerjaan/project yang berkaitan dengan skill tersebut. 

Web skill ini bisa diasah dengan cara mengikuti berbagai workshop (baik yang gratisan maupun berbayar). Kita juga bisa belajar secara otodidak karena banyak sekali situs dan video yang membagikan ilmu secara cuma-cuma. 

*** 

Itu dia lima skill yang menurut aku bisa dikembangkan oleh seorang beauty blogger. Dengan skill tersebut, kita bisa bersaing dengan para blogger lainnya dan juga membuka peluang seluas-luasnya di luar dunia blogging. Dari kelima skill yang aku sebutkan, saat ini aku sedang mendalami interpersonal skill dan menulis di luar blog. Bagaimana dengan kalian? Adakah skill yang sedang kalian dalami juga? Atau mungkin kalian punya rekomendasi skill yang perlu dipelajari seorang beauty blogger? Share di kolom komentar ya! Siapa tahu rekomendasi kalian bisa menginspirasi aku dan blogger lainnya. Last but not least, never stop learning! 

Thanks for reading! 

Refleksi Akhir Tahun 2015 Blog Talkativetya.com

Thursday, 31 December 2015

Happy Holiday, everyone! 


Nggak terasa hari ini adalah hari terakhir di tahun 2015 dan dalam hitungan jam akan berganti menjadi 2016. Postingan kali ini Tya akan menulis sesuatu yang sedikit berbeda, yaitu tentang refleksi dari blog aku ini, apa saja yang telah aku capai dan apa yang menjadi impianku di tahun depan terkait blog ini.  Semoga tulisan ini tidak membuat kalian bosan ya.

Red My Lips Campaign 2015 - Be the Warrior to raise awareness about sexual violance

Wednesday, 1 April 2015
Welcome April!

The first day in April, which is widely known as April Mop, is usually celebrated by doing some pranks to others. Well, in Indonesia we actually don't have that kind of culture though young people here start following and doing it. I personally loathe doing pranks since most of the pranks will lead to a problem. 

Since I am sometimes an anti mainstream person, this April I'm joining a campaign on raising awareness about sexual violence. This campaign is called 'RED MY LIPS'. If you haven't known yet, April is a Sexual Assault Awareness Month, this is why the campaign is held in this month.  My former teacher buddy, Sherly, invited me to join this campaign on Facebook a couple months ago. After reading its mission, I was looking forward to April to come. Finally, now it is officially April!


For you who are curious about this campaign, I will copy the campaign details taken from their website at www.redmylips.org.

Imagine a world where we could stand together in strength...instead of silence?

Cita Cinta Magazine Year End Quiz Gift finally arrived!

Tuesday, 20 January 2015
Last Saturday I got a very special surprise from Cita Cinta Magazine. It was a gift from Cita Cinta Year End Quiz that I won. Yippieeeee! Talking about the quiz, I remember the question was "What is my End of Year Resolution?" The quiz was in December 2014, before the New Year 2015. I was just pushing my luck on that day, typing the answer furiously on my Samsung Tab. I wasn't expecting something because I rarely got lucky with those kinds of quizzes. So, I left it behind and tried to forget it.

The next day, I got a strong urge to check Cita Cinta's FaceBook page and it was a shocking moment! I just couldn't believe my eyes! I WON! CC picked my name for the winner of that day. 


Finally, after waiting for almost 2 months, the gift was finally arrived in my house safe and sound!. Let's take a look of it...

Are you curious about the gift? Here we go!

Liebster Award

Thursday, 22 August 2013
I've been writing blog since I was in college but it wasn't serious. I guess it was because I haven't found my passion yet. Now, I'm trying to write on my blog regularly in between my tight schedule (yes, imagine being a house wife, a mother, and also a teacher. It's quite tiring). Lately, I've been writing about beauty and stuffs ^.^

Suprisingly, I've just been nominated for Liebster Award! It was Lova Cloverina who nominated me. Thanks sis! Honestly, I have no idea what this award about until I googled it and found out that this award rocks! It's a great way to know your fellow bloggers who share same interest and support each other. 
The Liebster Award is given to up and coming bloggers who have less than 200 followers. So, what is a Liebster?  The meaning: Liebster is German and means sweetest, kindest, nicest, dearest, beloved, lovely, kind, pleasant, valued, cute, endearing, and welcome. Isn't that sweet? Blogging is about building a community and it's a great way to connect with other bloggers and help spread the word about newer bloggers/blogs.

Here are the rules for receiving this award:
  1. Link back to the blogger who nominated you
  2. Answer the 10 questions asked by the blogger who nominated you
  3. Choose 10 bloggers who have under 200 followers and nominate them
  4. Come up with 10 questions to ask the chosen bloggers  
  5. Go to your nominees' blogs and notify them
I'm very flattered to get this award from sis Lova Cloverina. I hope we can be close friends by blogging our mind! ^.^ Again, thanks a bunch!
 ***
Here are my answers to sis Lova's questions! 


1. Describe yourself in 3 words!
Talkative, Tender, and Tough (they all start with letter T! which represent my name 'Tya')


2. Favorite activities to do in your spare time?
Reading, reading, and reading! It's my getaway whenever I have spare time. I read mostly everything, from novels to comics. 

3. Beach or mountain? Why?
Definitely BEACH! Beaches are obviously more breath-taking than mountains. I love how the wind blows my face with fresh air, dive and snorkel at the sea, and I don't mind having sunburn. ^.^  I guess I found out that I prefer beach than mountain when I was in college. Since i'm majoring in Biology, we did have lots of activities outdoor at beaches and mountains and I felt more thrilled when we went to the beach!. Besides, I always get bad experience in mountains T.T 

4. Describe your fashion style!
Colour-matched and chic. I need to dress practically because as a teacher, I not only teach adults but also children. So I try to dress comfortably (when teaching children) yet still fashionable (to teach adults).And it must be colour-matched!  


5. Favorite fashion designer(s) and brand(s)?
I have no favourite designers neither brands. I have a philosophy that it doesn't have to be expensive to be pretty. Most of my clothes are bought either in ITC or street vendors. I have a favourite shop in ITC where all the clothes are only 38.000 IDR! and they look great! Nobody believes that my clothes are less than 50.000 IDR. They always think I buy those at boutiques or department stores. I never buy clothes in department stores unless they give more than 50% discount!

6. Skincare and/or makeup products that you can not live without?
Liquid eyeliner, e.l.f Eyebrow Kit, My Konjac Sponge,  

7. If you can only bring 3 items with you on a deserted island, what’d you bring?
 My Victorinox Swiss Army knife (I learnt a hard lesson when I was in college to bring this wherever I go. It's one of the basic survival kit), sarong, and mosquito repellent. 

http://my-lovely-sister.blogspot.com/

9. Thing(s) you learned recently? (like new recipes or new makeup looks ^^)
Lately, I've been learning how to apply eye shadow using different shades. That's why I invest in eye palletes and eye brushes. 
 

10. Lifetime wish(es)?
I hope someday I can go to Makkah with my husband and children and publish my own poetry book (I've been writing poems but it's kinda difficult to publish this genre in Indonesia).

BLOGS I NOMINATED FOR LIEBSTER AWARD:
  1. Dine Aisyah http://sistersdyne.blogspot.com
  2. Thika http://le-flame.blogspot.com
  3. Lova Cloverina http://cloverina.blogspot.com
  4. Wulan Putri http://wulanbelajar.blogspot.com/
  5. AnisFRD http://beautynothebeast.blogspot.com
  6.  
  7.  
  8.  
  9.  
  10.  
AND HERE ARE MY QUESTIONS TO YOU! 
  1. Tell 11 Fun Facts about yourself!    
  2. How much time do you spend per week on your blog?   
  3. What’s something you regret, and how would you change it if you could?    
  4. Who/what's the biggest influence in your life?    
  5. Flat shoes, High heels, or wedges? Why?   
  6. Which one do you prefer? local brand cosmetics or non local? why?  
  7. If you could have any super power, what would it be, and why? (yep. I totally just went for a classic.)    
  8. Are you a morning person or night person?   
  9. If you could live anywhere in the world, where would it be? why?    
  10. What's something you find annoying? 


    Please lemme know if you have answered my questions. I'd love to read it and get to know well about fellow bloggers. Thanks! 

    Memasyarakatkan Sastra (dan Mensastrakan Masyarakat?)

    Wednesday, 26 August 2009

    Oleh: Atisatya Arifin

    COBA TAFAKUR SEJENAK, apa yang membayang di benak kita, jika kita mengeja atau membaca kata sastra? Bagi sebagian orang, sastra adalah sesuatu yang aneh. Sesuatu yang menjemukan dan membosankan. Uniknya, tidak banyak di antara kata yang hobi membaca karya sastra, apalagi menulis sastra. Misalnya saja, lembar budaya di media suratkabar yang sering berisi puisi, cerita pendek, esai, dan opini. Paling yang dilirik orang adalah puisinya. Itupun karena sepintas terlihat ringan, singkat, dan padat. Membaca novel sastra, apalagi. Wow, tidak semua orang mampu melakukannya.

    Saya sendiri sempat terperangah ketika ditodong sebuah pertanyaan oleh seorang teman ngobrol di dunia maya. Pertanyaannya, sebenarnya, sederhana saja. “Apa yang kamu ketahui tentang sastra?” Sewaktu SMA, saya mengambil jurusan Biologi. Otomatis, bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia bukanlah pelajaran favorit saya. Maka, tidak heran jika saya tergagap ketika ditodong dengan pertanyaan sepelik itu.

    Bagaimana dengan kamu?

    Rasa ingin tahu itu terus berkecamuk di benak saya. Akhirnya, saya tidak kuasa keinginan mencari tahu apa dan seperti apa wujud sastra yang sebenarnya. Ketika membuka halaman Wikipedia Indonesia, saya menemukan pengetahuan baru. Ternyata, sastra itu kata serapan, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”. Hanya saja, sastra dalam bahasa Indonesia lebih merujuk pada pada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

    Rasa dahaga itu tidak terpuaskan begitu saja. Perpustakaan pribadi pun segera menjadi korban, diacak-acak demi menuruti kata hati. Akhirnya, bersua jua pencarian itu. Sastra, dalam kacamata HB. Jassin, adalah karya tulis yang, jika dibandingkan dengan karya tulis yang lain, memiliki beberapa ciri seperti keorisinalan, kerartistikan, serta keindahan dalam isi dan ungkapannya. Sastra yang baik adalah sastra yang senantiasa mengandung nilai. Nilai itu dikemas dalam wujud struktur karya sastra. Sastra yang baik harus mengandung tiga aspek dalam setiap karyanya, yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Kalau ada karya sastra yang mengorbankan salah satu dari aspek ini, maka sastra itu dikatakan kurang baik.

    Lalu, bagaimanakah kondisi sastra Indonesia sekarang?

    Di mata para pelajar, baik sekolah menengah pertama maupun atas, sastra adalah suatu hal yang menjadi momok. Pelajaran yang sebisa mungkin dihindari. Lucunya, banyak sekali siswa yang tiba-tiba bisa menulis puisi karena sedang jatuh cinta, bahkan bisa menulis surat cinta yang nyastra banget dan romantis habis. Namun, terlepas dari hal itu, sastra tetap sebuah fenomena yang menarik untuk diselusuri.

    Pertanyaan mendasar yang perlu kita kemukakan adalah mengapa pembelajaran sastra tidak bisa membumi? Mengapa sastra tidak bisa populer di mata pelajar? Inilah yang perlu kita telaah bersama. Bagaimanapun, bahasa menunjukkan bangsa. Dan, bahasa yang bijak, sejatinya berasal dari tuturan kalimat yang runut, rentet, dan enak dibaca. Anehnya, semua kriteria itu bisa kita temukan pada sastra. Masalahnya, selama ini, pengajaran sastra di dalam kelas hanyalah sekadar formalitas kurikulum. Bukan sebuah perilaku sadar yang bisa mendorong siswa untuk lebih mencintai sastra, dengan belajar bagaimana mengapresiasi sastra, khususnya sastra Indonesia.

    Siapa yang tidak kenal Naruto, ninja remaja dengan wujud setengah rubah yang ingin menjadi ninja terkuat di desanya, yang komiknya dibaca hampir semua lapisan masyarakat, mulai dari siswa sekolah dasar hingga dosen perguruan tinggi ternama. Mirisnya, siapa yang kenal dengan Mariamin, tokoh dalam novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar? Atau puisi Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail? Kalaupun iya, mungkin hanya segelintir saja yang mengenalnya. Ini menunjukkan rendahnya apresiasi sastra bangsa Indonesia. Padahal, apabila seseorang telah mampu mengapresiasi sastra, ia akan ikut larut dalam kehidupan yang dialami pengarangnya, yang tertuang dalam karya ciptanya. Si pembaca akan berempati terhadap isi karya sastra tersebut, terbawa dalam suasana dan gerak hati dalam karya itu hingga pada akhirnya akan timbul rasa nikmat pada si pembaca.

    Sebagian besar pelajar menganggap sastra adalah pelajaran yang membosankan, yang tidak harus dipelajari secara khusus di sekolah. Bandingkan dengan negara-negara lain, jika siswa SMU di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku selama tiga tahun, di Jepang dan Swiss 15 buku, siswa SMU di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra, siswa SMU di Indonesia-setelah era AMS Hindia Belanda-adalah nol buku. Padahal, pada era Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda, selama belajar di sana siswa diwajibkan membaca 15-25 judul buku sastra.

    Lalu, apa yang menyebabkan apresiasi sastra di Indonesia kian merosot?

    Kurikulum pendidikan saat ini (KTSP) sudah lebih bersahabat dengan sastra dibandingkan kurikulum terdahulu. Sebagai contoh, dalam pembelajaran sastra di SMP, kini sudah ada keterampilan (1) mendengarkan sastra, (2) berbicara sastra, (3) membaca sastra, dan (4) menulis sastra.

    Namun, tetap saja siswa buta terhadap sastra. Ada apa gerangan? Meski kurikulum telah mendukung dan tidak lagi menganaktirikan sastra dalam pendidikan di Indonesia, ternyata para pendidik belum mampu mengimplementasikan sastra sebagaimana mestinya. Sejatinya, pengajaran sastra tentu berbeda jauh dengan pengajaran bahasa . Lantas, langkah apa yang harus diambil agar kondisi sastra Indonesia tidak makin terpuruk?

    Pertama, guru sastra harus bisa memberikan wawasan yang luas mengenai sastra, khususnya sastra Indonesia. Guru diharap bisa menjadi teladan bagi siswanya untuk lebih mencintai
    sasta. Bagaimana mungkin siswa bisa mengapresiasi dan mencintai sastra apabila gurunya sendiri tidak menyukai sastra?

    Kedua, memperbanyak kegiatan sastra seperti lomba penulisan puisi dan cerpen, pentas pembacaan puisi dan drama, juga menyediakan media publikasi khusus sastra. Hal ini dilakukan agar pembelajaran sastra tidak hanya sebatas teori-teori di atas kertas, melainkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan.

    Bagaimanapun, jika seorang guru bahasa yang pun merangkap guru sastra, bisa memahami dan mengapresiasi sastra dengan baik, akan menumbuhkan cinta dalam dirinya, yang diharapkan bisa memancar ketika sedang mengantar pembelajaran sastra. Semoga.

    Di luar institusi pendidikan, banyak lembaga swadaya masyarakat yang peduli dengan kemajuan dan pertumbuhan sastra. Sebut misalnya tumbuhnya banyak komunitas sastra, termasuk Kelompok Jakarta (KEJAR) Sastra. Komunitas dari beragam latar belakang usia, pendidikan, agama, dan status sosial ini memegang prinsip: menulis, membaca, dan mengapresiasi. Semua anggota komunitas memiliki kewajiban tidak tertulis untuk menghasilkan karya sastra, entah berbentuk puisi, cerpen, esai, bahkan novel. Karya sastra itu kemudian diposting di sebuah website Kemudian.com, lalu dibaca dan diapresiasi oleh anggota komunitas lainnya.

    Sederhana memang, namun upaya ini adalah terobosan alternatif yang bi sa menjadi solusi di tengah semakin marjinalnya sastra bagi kalangan generasi muda. Lihat saja, 24 orang atau 36,92% dari 65 anggota komunitas KEJAR SASTRA adalah siswa SMP/SMA, sementara 21 orang atau 32,30% adalah mahasiswa. Sisanya, 20 orang atau 30,76% adalah pekerja/penganggur produktif dari berbagai latar profesi.

    Memang, apa yang dilakukan oleh KEJAR SASTRA untuk memasyarakatkan sastra, belumlah ideal sesuai harapan bersama. Setidaknya, geliat baru untuk mencapai perubahan baru bisa mengemuka. Dan, seperti tutur orang bijak, langkah satu mil selalu dimulai dari langkah pertama.

    Opini ini dimuat pada Harian Media Indonesia, 14 September 2008. Versi elektronik opini ini bisa dilihat pada Opini: Pelajar Jepang baca 15 buku, Indonesia nihil!

    Hape = Hati resah

    Thursday, 16 July 2009
    Siapa bilang punya hape itu identik dengan keren dan gaul?

    nyatanya tidak juga...


    justru dengan punya alat komunikasi seperti hape malah membuat hati jadi resah. Lho? kok bisa? jelas aja bisa. Contoh konkretnya begini...

    Malam ini aku lagi sendirian, di kamar, nggak ada temannya, lagi sakit pula, kepinginnya sih ngobrol sama siapa gitu kek. Ngobrol sama mom dan dad nggak mungkin (ya eyalaah, jam segini kan jam-nya orang tidur, bukan ngobrol). Jadi, secara otomatis tangan segera menekan nomor teleponnya (siapa lagi yang bisa kuandalkan selain dia??). Nada telepon masuk terdengar berulang kali, tapi belum ada tanda telepon akan diangkat. Kucoba sekali lagi, masih sama saja. Terus saja kucoba hingga nyaris lebih dari 4 kali (harusnya sudah dapat hadiah piring tuh!). Lama-lama nada telepon masuk itu seperti menerorku. Walhasil, hati jadi resah dan gelisah.

    so, salah siapa? salahkah dia yang tidak mengangkat teleponnya? tidak juga. mungkin saja dia lagi sibuk atau di kamar mandi. Lalu, salah siapa dong? jelas salah si alat komunikasinya.

    Yakin, pasti banyak orang yang baca tulisan ini tidak akan setuju dengan pendapatku. Aku sendiri berada dalam posisi dilematis. entah mau memihak yang mana. Makanya aku menulis ini, sekadar ingin brainstorming aja tentang si alat komunikasi yang bernama hape.

    seingatku, jaman dulu banget nih, tidak ada hape orang baik-baik aja. Komunikasi bisa dijalankan lewat telepon rumah, atau telepon koin (paling repotnya cuma nyari recehan sama ngantrinya), dan bagi yang mau kelihatan rada keren dan gaya bisa menggunakan pager. Everything was okay. Nah, sejak muncul hape, dan booming sejak milenium baru, hape bukan lagi sebagai alat komunikasi yang elite dan high class. Hape di jaman sekarang udah seperti kacang goreng! Tak heran semua kalangan, baik dari bawah sampai yang tertinggi pasti punya hape. Bagi yang tidak punya, siap-siap saja di-cap nggak gaul dan nggak up-to-date. Kalau sudah begitu, dia (yang tidak punya hape) dijamin nggak bakalan punya teman (habisnya, gimana mau bergaul kalau nggak punya hape??). Kacau kan?

    udah ah, capek.... ntar disambung lagi yaa....

    Auto Post Signature