Top Social

Showing posts with label one day one post. Show all posts
Showing posts with label one day one post. Show all posts

5 Rekomendasi Buku Favorit Tya - BPN 30 Day Blog Challenge (Day 10)

Wednesday, 5 December 2018
5 Rekomendasi Buku Favorit Tya. Salah satu hobi aku dari kecil adalah membaca. Buat teman-teman yang membaca tulisan Alasan Kenapa Aku Nge-blog dan 5 Fakta Tentang Tya pasti sudah tahu tentang hobi ini. Dari sejak kecil, aku memang sudah dibiasakan untuk membaca dan menyukai buku. Kalau disuruh memilih: mainan atau buku, Tya kecil lebih pilih buku (ini kata ibuku lho). Kalau sekarang? Tya lebih pilih makeup dan buku juga sih. Hehehe.


Hobi membaca aku bisa dibilang cukup akut. Kenapa kok sampai dibilang akut? Soalnya aku punya kebiasaan makan sambil membaca buku dan membaca buku sebelum tidur. Makanya jangan heran kalau kalian main ke rumahku, pasti akan melihat ada banyak buku di atas meja makan. Kadang lebih banyak bukunya daripada makanannya. Hehehe. Banyak yang bilang ini adalah kebiasaan jelek, tetapi gimana ya? Sulit sekali mengubahnya. Alhamdulillah mas suami paham akan kebiasaan istrinya ini. 

Genre buku yang aku baca sangat beragam. Mulai dari cerita anak-anak, chick lit (Chick Literature), Romance, Thriller/Mystery, sampai Fantasy pun aku baca. Untuk genre buku yang terakhir aku sebutkan ini, aku memang sangat picky. Kalau dalam ceritanya ada werewolf, vampir, dan paranormal gitu, aku tidak tertarik membacanya. Selain itu, selama jalan ceritanya menarik aku pasti akan terus membaca buku tersebut sampai selesai. 

Bicara soal buku favorit Tya, jujur ini pertanyaan yang maha sulit. Ada banyak sekali buku yang sudah aku baca dan jadi favorit aku. By the way, indikator suatu buku jadi favorit adalah ketika aku bisa membaca buku itu berkali-kali tanpa bosan (meskipun aku sudah tahu persis jalan cerita dan endingnya). Kadang bukunya sampai udah keriting saking seringnya dibaca. Oya, sejak 3 tahun terakhir ini aku lebih sering membaca e-book (electronic book) dibandingkan buku biasa. Alasannya? Murah! Soalnya aku bisa mendapatkan ebook secara gratis dengan cara mengunduh di beberapa website penyedia ebook. 

Okay, without further ado, ini dia 5 buku favorit Tya (tidak berdasarkan urutan ya): 

Malory Towers series - Enid Blyton

Enid Blyton is my first love. Hampir semua buku Enid Blyton sudah aku baca dan tidak ada satupun yang aku tidak suka. Menurut aku, Enid menuliskan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu saja, beliau juga memasukkan pesan moral ke dalam setiap ceritanya. Dari sekian banyak buku yang Enid Blyton tulis, favorit aku tentu saja Malory Towers series yang bercerita tentang kehidupan anak-anak yang tinggal di asrama. Kisah Darrel, Sally, Alicia, Irene, dan Gwendoline hingga detik ini melekat di dalam kepala aku. Mulai dari keseruan mereka belajar di asrama, konflik yang mereka hadapi, sampai keisengan mereka terhadap Mam'zelle Dupont, guru Bahasa Perancis yang kikuk tadi disayangi seluruh murid asrama. Kalau kalian belum pernah membaca buku ini, buruan deh baca. Buat teman-teman yang punya anak perempuan, buku Malory Towers ini juga cocok jadi hadiah lho.

Sumber: https://worldofblyton.wordpress.com

Congo - Michael Crichton

Belakangan ini aku senang dengan buku bergenre thriller dan fact fiction. Entah kenapa, seru aja kalau membaca buku dan kita tahu bahwa ceritanya berdasarkan fakta. Salah satu penulis genre thriller favorit aku adalah Michael Crichton. Beliau ini adalah penulis novel Jurassic Park (1990) yang kemudian dibawah arahan sutradara Steven Spielberg menjadi film hit di tahun 1993. Ada beberapa novel karangan Michael Crichton yang sudah aku baca: Congo (1980), Jurassic Park (1990), Prey (2000), dan The State of Fear (2004). Namun dari semuanya, aku paling suka dengan novel Congo.


Novel ini bercerita tentang tim ekspedisi yang akan mengembalikan seekor gorila ke habitatnya. Nah, ternyata tim ekspedisi ini didomplengi oleh kepentingan lain yaitu mencari tambang berlian biru di hutan tropis Kongo, Afrika. Jalan ceritanya seru karena didukung dengan fakta-fakta dan juga menegangkan karena Kongo memiliki hutan yang dihuni oleh suku pedalaman kanibal. Dalam kondisi politik yang panas, tim ekspedisi tidak hanya harus berhadapan dengan suku kanibal tetapi juga melawan sekelompok gorila yang pintar. Saat membaca buku Congo ini, aku tidak bisa berhenti sampai halaman terakhir. Iya, segitu serunya. 

Da Vinci Code - Dan Brown

Sejak Dan Brown mengeluarkan buku Da Vinci Code, aku langsung jatuh cinta dengan semua buku yang beliau tulis. Kayanya sih semua buku karangan Dan Brown sudah pernah aku baca, tetapi memang yang paling fenomenal adalah Da Vinci Code. Aku yakin hampir semua orang tahu jalan cerita Da Vinci Code ini, apalagi novel ini juga sudah diangkat menjadi film. Although I think the film doesn’t do its justice. The book is way much better (ini kasusnya sama sih kaya film Harry Potter). Hal yang membuat novel Da Vinci Code ini jadi salah satu buku favorit aku adalah alur ceritanya yang mengupas rahasia-rahasia di balik karya Leonardo Da Vinci seperti lukisan Mona Lisa. Ditambah lagi dengan aksi kejar-kejaran Robert Langdon dan Sophie Neveu ketika berupaya memecahkan kode rahasia untuk mencari The Holy Grail. Seru deh kalau baca fiksi konspirasi seperti ini. Sayangnya, mas suami justru nggak suka buku genre begini. Bikin pusing kata dia.


The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel - Michael Scott

The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel  ini adalah novel fantasi karangan Michael Scott. Totalnya ada 6 buku dalam seri ini. Buku pertamanya berjudul The Alchemyst dan banyak orang yang salah sangka kalau ini adalah karangan Paulo Coelho. Pertama kali kenal seri buku ini ketika aku iseng mengunduh buku-buku yang aku rasa menarik di salah satu website penyedia ebook. Then, I was hooked after finishing the first book. 

The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel ini bercerita tentang saudara kembar cewek cowok Josh dan Sophie Newman yang sedang berlibur di San Fransisco di rumah Bibi Agnes. Petualangan dimulai ketika Nick Fleming, pemilik toko buku tempat Josh magang selama liburan memberi tahu bahwa mereka (Josh dan Sophie) memiliki kekuatan sihir dan tertulis di dalam ramalan bahwa mereka adalah anak kembar emas dan perak. Awalnya Josh dan Sophie nggak percaya, tetapi ketika Nick menunjukkan kekuatan sihirnya mereka percaya deh. Seriusan ini kalau mau diceritain panjang banget karena ada 6 buku.


Yang membuat aku suka dengan seri buku karangan Michael Scott ini adalah penulis memasukkan banyak sekali mitologi kuno dan legenda ke dalam tulisannya. Selain itu, selama petualangan Josh dan Sophie bertemu dengan banyak tokoh lain yang ternyata adalah orang-orang terkenal di masa lalu seperti William Shakespeare, Joan of Arch, dan masih banyak lagi. 

Shopaholic Series - Sophie Kinsella

Buku (lebih tepatnya seri buku) terakhir yang jadi favorit aku adalah Shopaholic Series karangan Sophie Kinsella. Buku ini termasuk dalam genre chick lit ya, jadi pasti udah ketebak lah jalan ceritanya nggak jauh-jauh dari kisah cinta dan konfliknya. Meskipun bagi sebagian orang genre chick lit ini dianggap genre receh, aku tetap suka kok karena ceritanya ringan dan nggak perlu banyak mikir. Hehehe.


Total ada 8 buku dalam seri Shopaholic ini dan setiap bukunya punya kisah tersendiri. Jadi nggak perlu baca dari buku pertama untuk mengikuti jalan ceritanya. The Confession of a Shopaholic adalah buku pertama dalam seri ini yang mengisahkan Rebecca Bloomwood yang punya kebiasan belanja akut dan konflik yang dia hadapi karena kebiasaan berbelanjanya itu. Seru aja sih ceritanya karena beberapa kejadian yang dialami Rebecca itu mirip-mirip lah sama yang aku alami (terutama soal belanja). 

***

Wah nggak nyangka tulisan ini jadi super panjang! Oya, semua buku yang aku sebutkan di atas itu aku bacanya dalam versi aslinya ya, alias berbahasa Inggris. Sebetulnya semua buku tersebut sudah ada versi terjemahan dalam Bahasa Indonesia, cuma beberapa kali aku menemukan kok kaya ada sesuatu yang nggak pas dan maknanya jadi sedikit berbeda. Nah kalau baca dalam versi aslinya, aku bisa benar-benar paham maksudnya si tokoh itu apa ketika mengucapkan sesuatu. 

Gimana dengan teman-teman nih? Apakah kalian sudah pernah membaca buku-buku di atas? Bagaimana menurut kalian? Atau bagi teman-teman yang belum pernah membaca, tertarik nggak untuk membacanya? Share di kolom komentar ya! 

Thanks for reading!

5 Barang yang selalu ada di tas Tya - BPN 30 Day Blog Challenge (Day 8)

Tuesday, 27 November 2018
5 Barang yang selalu ada di tas Tya. Ngomongin soal tas, aku itu paling senang pakai tas ransel untuk sehari-hari. Alasannya? Tentu saja karena kapasitasnya besar jadi aku bisa masukin segala macam hal. Pokoknya segala macam barang nyemplung deh! Dari sekian banyak barang aku cemplungin ke dalam tas ransel aku, ada 5 barang yang selalu ada di dalam tas Tya. Hayo, bisa tebak nggak? 


1. Tas makeup

Pasti pada tahu kan kenapa tas makeup aku taruh di urutan pertama? Yup, I cannot leave the house without my makeup pouch. Kemana pun aku pergi tas makeup ini selalu siap sedia. Untuk urusan makeup, aku memegang prinsip ‘Sedia payung sebelum hujan’. Maksudnya di sini adalah lebih baik aku bawa tas makeup (meskipun tidak digunakan) daripada tahu-tahu aku ada acara mendadak dan perlu touch up. Nggak lucu kan kalau tiba-tiba diajakin nge-date sama mas suami terus wajah aku kucel karena habis mengajar seharian? Selain itu, tas makeup ini juga berguna ketika ada keadaan darurat  misalnya seperti bulu mata yang lepas. Kebayang kan kalau aku nggak siapin lem bulu mata di dalam tas makeup? Masa iya itu bulu mata mau dibiarkan terbang? Hehehe. 

FYI, tas makeup aku ini isinya komplit. Biasanya aku selalu bawa minimal 3 lipstik (warna nude, pink, sama merah), maskara berikut jepit bulu mata, bulu mata palsu berikut lem-nya, pensil alis, eyeliner, blush on, bedak tabur, highlighter, dan rautan pensil alis. 

2. Binder dan pulpen

Aku merasa ada yang kurang lengkap kalau tidak membawa binder dan pulpen. Binder ini tidak hanya aku gunakan untuk membuat lesson plan dan mencatat hasil rapat, tetapi juga aku gunakan untuk menuliskan ide-ide untuk tulisan blog. Tidak jarang juga binder ini dipakai untuk mencatat pengeluaran dan menuliskan wishlist produk makeup dan skincare.

Baca juga: 
What's in my bag?

3. Dompet

Dompet memang tidak aku taruh di urutan pertama karena aku sering kelupaan bawa dompet. Maklumlah, dompet aku tebal tetapi isinya kebanyakan struk belanjaan. Selain itu, aku nyaris tidak pernah membawa uang tunai karena hampir setiap hari aku menggunakan layanan ojek online. 

4. Parfum 

Meskipun tempat kerja aku ber-AC, kalau sudah mengajar kelas anak-anak ya tetap saja berkeringat. Belum lagi tangga di tempat kerja aku itu super killer alias terjal. Nggak heran deh kalau betis aku super seksi seperti talas Bogor. Demi rasa percaya diri tinggi saat mengajar dan beraktivitas, aku selalu bawa parfum di dalam tas. 


5. Stainless steel straws

Belakangan ini gerakan mengurangi sampah plastik semakin gencar. Salah satu kontributor sampah plastik yang cukup signifikan adalah penggunaan sedotan plastik. Nggak usah pakai contoh macam-macam, anak-anak di rumah paling senang minum pakai sedotan dan ketika sudah selesai minum langsung dibuang. Parah kan? 

Untuk mengurangi sampah sedotan plastik, kami mulai beralih ke sedotan yang bisa dipakai berulang kali. Sedotan stainless steel ini aku beli bulan kemarin dan sejak saat itu sedotan ini selalu aku bawa kemana-mana di dalam tas. Mungkin ini baru langkah kecil untuk mengurangi sampah, but at least I do something about it.  

***

Itu dia 5 barang yang selalu ada di tas Tya. Buat yang penasaran kenapa smartphone tidak aku masukkan ke dalam daftar di atas, itu karena smartphone lebih sering aku pegang atau aku cemplungin ke dalam lunch bag. Alasan lainnya adalah karena tas ransel yang aku gunakan ukurannya cukup besar dan kadang aku suka kerepotan sendiri mencari barang-barang di dalam tas. Teman-teman yang pernah ketemu langsung sama Tya pasti pernah lah menyaksikan kerempongan aku kalau bawa barang. Hehehe. 

Bagaimana dengan teman-teman? Apa sih barang yang selalu ada di dalam tas kalian? Share di kolom komentar yaa. 

Thanks for reading! 

5 Warung Makan dan Restoran Favorit Talkativetya - BPN 30 Day Blog Challenge (Day 7)

Monday, 26 November 2018
5 Warung Makan dan Restoran Favorit Talkativetya. Ini dia tema yang paling ditunggu-tunggu, yaitu membahas warung makan dan restoran favorit aku dan keluarga. Kebetulan aku dan keluarga punya selera makanan yang sama, jadi kami tidak pernah kerepotan mencari tempat makan. Warung makan dan restoran yang jadi favorit Tya dan keluarga ini adalah tempat makan yang enak dan murah untuk keluarga. Pokoknya makan kenyang dengan harga terjangkau. Biar nggak tambah penasaran, langsung aja ya. 


1. Bakso Gerobak, Depok

Kalau kalian baca tulisan di hari ke-6, pasti tahu dong kalau makanan favorit aku adalah bakso. Alhamdulillah banget satu keluarga doyan bakso dan ini jadi menu andalan kami kalau aku lagi capek dan tidak sempat masak. Bakso Gerobak ini memang nggak punya nama. Pas aku tanya sama penjualnya (pasangan suami istri), mereka bilang, “Bakso gerobak aja deh.” 


Bakso Gerobak ini berlokasi di Jalan Kemakmuran, Kelurahan Mekar Jaya, Depok. Aku tidak bisa memberikan lokasi detil karena memang Bakso Gerobak mangkal di depan toko dan posisinya persis di sebelah JNE Depok 2. Bakso Gerobak buka dari jam 6 sore - 10 malam/habis. Apa yang membuat Bakso Gerobak ini istimewa? Tentu saja rasa dan harganya. Untuk satu porsi bakso, kita cukup membayar Rp12,000 saja. Rasanya? Jangan ditanya. Uenak tenan! Oya, biasanya aku pesan bungkus Bakso Gerobak ini dan makannya di rumah. 


Ada beberapa hal yang membuat aku menaruh Bakso Gerobak ini di urutan pertama. Pertama, penjualnya ramah dan selalu mengutamakan kebersihan. Si ibu penjual (istrinya) bertugas menyiapkan racikan bumbu (garam, seledri, dan mie) dan selau menggunakan sarung tangan. Kedua, si ibu ini nggak pernah lupa antrian. Jadi pertama kali aku mencoba bakso ini, aku tuh sempat manyun karena banyak orang yang antri tapi tidak tertib. Aku kuatir pesanan aku akan terlupakan dan orang lain yang didahulukan. Ternyata, si ibu ini hafal banget siapa yang pesan duluan dan orang setelahnya. Pernah suatu hari aku membeli Bakso Gerobak ini dan ada satu pembeli yang tidak sabar dan bolak balik menanyakan kapan pesanannya dibuat, terus si ibu penjual dengan sabarnya menjawab, “Sabar ya, giliran ibu (pembeli) setelah mbak A, mas B, ibu C, dan adek D itu. Silahkan tunggu ya.” MANTAP! 

2. Restoran Bebek Kaleyo
Pertama kali aku mencoba Bebek Kaleyo itu ketika aku masih bekerja sebagai guru bahasa Inggris di daerah Rawamangun sekitar tahun 2009-2012. Dan kebayang dong betapa bahagianya aku ketika Bebek Kaleyo buka cabang di Depok beberapa tahun yang lalu. Ketika aku mengajak keluarga makan di restoran ini, mereka semua langsung menganugerahkan Bebek Kaleyo sebagai restoran favorit. 


Ini dia menu paling mantul, bebek goreng kremes Bebek Kaleyo. Sumber: www.kaleyo.com

Bebek Kaleyo memang terkenal dengan menu bebek goreng kremes-nya yang super empuk. Selain itu, sambalnya tuh pedas nendang. Harganya juga terjangkau karena banyak menu dengan harga murah meriah. Harga satu potong bebek goreng kremes sekitar Rp26.000 (belum termasuk nasi dan minuman). Kalau ditotal, satu porsi bebek lengkap dengan nasi dan minuman sekitar Rp40.000. Menu favorit aku di Restoran Bebek Kaleyo adalah Paket Hemat Bertiga (Rp75.000) yang terdiri dari 3 porsi nasi putih, 3 es teh tawar, dan 1 bebek goreng kremes utuh. Hemat banget kan? Oya, satu lagi nih alasan kenapa aku suka banget sama Restoran Bebek Kaleyo: mereka nggak pelit sama sambal! 

Menu Bebek Kaleyo yang terjangkau dan enak. Sumber: www.kaleyo.com


3. Burger King
Restoran makanan cepat saji ini jadi favorit aku dan keluarga karena memang harganya terjangkau tetapi rasanya nikmat. Belakangan ini aku cukup sering makan di Burger King. Gimana nggak? Wong restorannya persis di seberang TBI Kota Wisata (bahkan koneksi Wifi-nya aja sampai kantor. Hehehehe). Menu favorit aku dan mas suami tentu saja Whopper Burger yang lengkap dengan sayuran dan acar. Burger King biasanya jadi andalan kami sekeluarga kalau lagi jalan-jalan di mall. Dan yang lebih penting lagi, Burger King sering banget kasih kupon promo jadi makan pun lebih hemat. 



4. Soto Mie Merdeka, Depok
Selain bakso, aku juga suka banget sama soto mie Bogor. Mas suami tidak sengaja menemukan warung soto mie Bogor ini ketika dia sedang lari pagi dan memutuskan untuk mencoba. Ternyata rasanya enak! Harga satu porsi Soto Mie Bogor ini hanya Rp10.000 saja dan dijamin kenyang. Gerobak soto mie Bogor ini buka dari jam 7-10 pagi. Malah beberapa kali kami ke sana untuk membeli soto mie dan sudah kehabisan, padahal belum jam 10. Iya, segitu larisnya lho. 

5. Imperial Kitchen
Restoran terakhir yang jadi favorit Tya dan keluarga adalah Imperial Kitchen. Teman-teman pasti sudah tidak asing dengan restoran ini ya. Imperial Kitchen menyajikan makanan oriental seperti dimsum, mie, nasi goreng, cah sayuran, dan masih banyak lagi. Aku suka makanan di Imperial Kitchen karena rasanya pas untuk lidah aku. Selain itu, ada banyak pilihan menu dan kadang suka ada promo mingguan untuk dimsum. Menu favorit aku di Imperial Kitchen adalah Nasi Ayam Hainan (Rp55.000) yang terdiri dari nasi hainan yang gurih, dada ayam rebus, sayuran, dan kuah kaldu. Untuk minumannya aku biasanya memesan Chinese Tea yang disajikan dalam teko kecil. 



*** 

Seru kan 5 warung makan dan restoran favorit aku sekeluarga? Gimana nih dengan teman-teman? Apa yang jadi pertimbangan ketika memilih warung makan/restoran? Harga, lokasi, rasa, atau hal lainnya? Share di kolom komentar yaa. 

Thanks for reading!

5 Fakta tentang Tya - BPN 30 Day Blog Challenge (Day 6)

Sunday, 25 November 2018
5 Fakta tentang Atisatya Arifin. Tidak terasa tantangan menulis blog setiap hari dari Blogger Perempuan Network sudah memasuki hari keenam lho! Gimana nih teman-teman blogger? Masih semangat semuanya kan? Tak kenal maka tak sayang. Pasti sudah pada tahu dong dengan peribahasa ini? Nah biar kita semakin akrab niih, aku mau kasih bocoran 5 fakta tentang seorang Atisatya Arifin (Tya) yang mungkin kalian belum tahu.


1. Bekerja sebagai guru bahasa Inggris 

Aku yakin hampir semua orang tahu kalau saat ini aku memiliki status sebagai guru bahasa Inggris di salah satu lembaga bahasa terkemuka yaitu TBI (The British Institute). Tetapi hal yang mungkin teman-teman belum tahu adalah dari sejak awal aku berkarir, aku selalu bekerja sebagai guru bahasa Inggris (padahal aku kuliah jurusan Biologi lho).  Kok bisa sih jadi guru bahasa Inggris? Jadi waktu itu aku mendapatkan tawaran bekerja sebagai English teacher dari guru les aku di tahun 2008. Setelah dijalani, ternyata seru banget jadi guru bahasa Inggris dan keterusan deh sampai sekarang.


Tidak terasa sudah 10 tahun aku menjadi guru bahasa Inggris. Kepikiran nggak untuk ganti profesi? Somehow, I couldn’t picture myself not working as a teacher. Ada banyak hal yang membuat aku cinta dengan profesi ini, panjang deh kalau mau dijabarkan. Tetapi ada satu yang selalu menjadi motivasi aku untuk tetap mengajar, yaitu ketika aku bertemu dengan murid-murid lama dan ternyata mereka sudah sukses dan berterima kasih atas apa yang sudah aku ajarkan. Misalnya ketika salah satu orangtua murid bilang, “Miss, makasih banyak yaa sekarang A nilai bahasa Inggrisnya bagus banget di sekolah,” atau ketika ex-murid IELTS dengan bangga memberikan kabar, “Miss, I’ve got 7.0 for my IELTS! Thank you so much!.” Those are priceless!

Baca juga: 
20 Facts about Me

2. Membaca 3-5 buku novel dalam 1 minggu

Aku suka sekali membaca buku. Dalam seminggu, aku bisa menyelesaikan antara 3-5 buku novel dengan panjang antara 500-1000 halaman). Ngomongin soal membaca, aku tidak bisa membaca suatu buku 2x kecuali memang terpaksa (misalnya karena sudah tidak ada stok buku lagi) karena aku ingat sebagian besar ceritanya. Nggak seru dong kalau baca buku baru dua halaman terus sudah tahu endingnya seperti apa? Karena buku yang bisa aku selesaikan terbilang lumayan banyak, aku sekarang membaca buku e-book karena bisa didapatkan dengan gratis di internet.


3. Tiap hari selalu bingung mau pakai baju apa

Kalau kalian membaca tulisan 20 Facts about Me yang aku tayang di bulan September kemarin, pasti tahu kalau aku itu selalu menggunakan baju yang matching. Terus kenapa masih bingung juga? Soalnya aku tuh kadang suka berubah pikiran. Misalnya nih, aku sudah memutuskan akan menggunakan baju A yang dipadankan dengan celana B dan jilbab C di malam sebelumnya. Keesokan harinya mood aku bisa berubah 180 derajat dan berimbas pada pilihan outfit. Ujung-ujungnya, aku sering nyaris telat hanya karena masalah pilih-pilih baju ini. Hehehe. 

4. Terakhir menulis puisi di tahun 2009 

Tahu kan alasan kenapa aku ngeblog? Kalau belum silahkan baca tulisan BPN 30 Day Blog Challenge Day 1 di sini ya. Sebelum aku menikah, aku masih aktif di komunitas sastra dan termasuk cukup produktif dalam menulis puisi. Ceritanya nih, aku tuh galau apakah mas suami waktu itu serius atau tidak dengan aku (ini panjang ceritanya, next time aku tulis yaa) dan karena kegalauan itu aku menulis satu puisi dengan judul: “Sajak terakhir yang kutulis untukmu.” Puisinya bisa kalian baca di sini ya.

Baca juga: 
Sajak Terakhir yang Kutulis Untukmu

Nah, ternyata setelah aku menulis puisi ini dan menikah entah kenapa aku beneran nggak pernah nulis puisi lagi lho! 

5. Tidak bisa menolak bakso!

Yups, makanan favorit aku adalah bakso! Aku bisa lho makan bakso setiap hari tanpa merasa bosan. Bakso dengan kuah panas dan super pedas, ditambah potongan tetelan dan mie sungguh merupakan godaan besar untuk aku. Hehehe. Salah satu indikator bakso yang enak menurut aku adalah kuah dan sambalnya. Eh kenapa bukan baksonya? Soalnya emang aku lebih doyan kuahnya, apalagi kalau pakai sambal yang banyak.


*** 

Itu dia 5 fakta tentang seorang Tya yang mungkin kalian belum tahu. Jangan lupa juga untuk mampir ke tulisan 20 Facts about me biar semakin kenal sama Tya.Dari 5 fakta di atas, mana yang paling mengejutkan buat kalian? Share di kolom komentar yaa. 

Thanks for reading!

Alasan Bergabung di Blogger Perempuan Network - BPN 30 Day Blog Challenge (Day 4)

Friday, 23 November 2018
Meskipun aku sudah ngeblog sejak tahun 2009, aku baru bergabung dengan komunitas blogging sekitaran tahun 2015. Waktu itu (2009 - 2015), kegiatan menulis blog hanyalah sekadar menulis tanpa ada tujuan. Kalau ada yang baca ya alhamdulillah, kalau nggak ada view-nya pun aku cuek aja. Memang saat itu aku menjadikan blog sebagai buku harian online (walaupun nulisnya nggak setiap hari). Tema tulisan random dan gaya menulis pun kaya cabe-cabean. 


Di tahun 2012 ada satu kejadian yang menjadi titik balik aku untuk menggeluti kegiatan menulis blog dengan serius. Yang udah baca tulisan aku untuk BPN 30 Day Blog Challenge Day 1 pasti tahu deh apa kejadiannya. Eh? Belum baca? Langsung lah cuss klik tulisannya biar nyambung ceritanya. 

Baca juga: 

Sebagai seorang blogger newbie, aku ini macam orang yang tidak punya peta dan tersesat di dunia blogging. Istilah SEO (Search Engine Optimization), DA (Domain Authority), PA (Page Authority), Google Analytics, page views, bounce rate, dan keywords layaknya bahasa asing yang sulit dipahami. Mana aku tahu kalau semua istilah itu sangat mempengaruhi kualitas sebuah blog? Jangankan itu, menulis yang baik dan benar aja aku belum khatam. 

Sadar kalau aku tuh tidak punya ilmu apapun tentang blogging, aku mulai mencari wadah yang bisa membantu mengembangkan diri aku dan juga blog Talkative Tya. Aku masih ingat saat itu ada seorang teman di dunia maya yang menyarankan aku untuk bergabung dengan BP (Blogger Perempuan). Kata dia, komunitas blogging ini ngemong  (baca: menjaga dan mendukung) member-nya. Selain itu, karena semua anggotanya adalah perempuan tentu saja urusan sharing atau curhat jadi lebih nyaman. Betah deh di sini. 


Ada beberapa alasan kenapa aku bergabung di Blogger Perempuan Network:

1. Mengasah ilmu blogging

Sejak gabung dengan BPN, aku jadi paham istilah-istilah bahasa Mars yang aku sebutkan sebelumnya. BPN tidak pernah pelit dalam membagikan ilmunya dan ini berlaku tidak hanya untuk para pejabat tinggi BPN tetapi juga member. Salah satu hal yang aku cinta dari komunitas ini adalah member-nya saling mendukung dan membantu baik lewat media sosial maupun ketika bertemu langsung. 

Bangga dong pernah jadi nara sumber untuk #BPTalk di tahun 2017

2. Menambah pengetahuan

Berapa banyak niche blog yang kalian tahu? Travel, beauty, lifestyle, food, parenting, dan masih banyak lagi. Di Blogger Perempuan Network, aku berkenalan dengan berbagai niche blog dengan beragam gaya penulisan. Pokoknya segala ada deh. Dari blogwalking dan membaca tulisan teman-teman anggota BP, pengetahuan aku pun bertambah. Misalnya saja ketika aku udah mati gaya menghadapi tantrum anak, ndilalah ketemu postingan salah satu anggota BP yang membahas masalah ini. Klop banget! Atau ketika aku lagi cari informasi tentang tempat makan yang asyik di salah satu area, aku bisa mampir ke blog teman-teman travel blogger dan food blogger dan mencari informasi di sana. 

3. Memperluas networking

Aku bersyukur bisa mengenal Blogger Perempuan. Dari komunitas ini aku bisa punya banyak teman dari seluruh Indonesia dan bahkan beberapa diantaranya sudah seperti kakak/adik perempuan sendiri. Dua tahun yang lalu (kalau nggak salah) BP punya program Arisan Link dan di situ aku dan beberapa blogger lainnya masuk ke dalam satu grup. Meskipun arisannya sudah bubar, grup yang dibentuk BP ini tidak bubar dong. Kami tetap komunikasi dan berbagi banyak hal. Segala topik dibahas di grup ini. BPN juga cukup sering mengadakan event offline dan dari event itulah aku kenal banyak teman-teman blogger lainnya. Oya, dari networking ini juga aku bisa kenal sama orang-orang yang membantu mempercantik blog Talkative Tya lho. Salah satunya adalah mbak Ria Kurniasih, pemilik blog Mom’s Odell yang bantu bikin template blog ini. 

Baca juga: 

4. Menambah penghasilan  

Aku tidak pernah menyangka kalau dari ngeblog aku bisa mendapatkan uang tambahan. Ini sih yang bikin terharu juga. Apalagi di saat kondisi keuangan keluarga sedang tidak stabil seperti sekarang, invoice yang cair itu bagaikan mata air di Gurun Sahara. Banyak perusahaan yang bekerja sama dengan Blogger Perempuan untuk memperkenalkan perusahaan dan produk/jasa mereka. Di sinilah letak simbiosis mutualisme-nya. BPN mengajak anggotanya untuk membantu. 

Apakah selalu dibayar dengan uang? Oh tentu tidak, Ferguso. Meskipun begitu, BPN selalu berusaha adil dan memberikan penawaran yang baik kepada anggotanya. Tinggal kitanya aja mau apa nggak. Beberapa kali aku mendapatkan komentar tentang kegiatan blogging yang aku jalani ini, “Enak ya jadi blogger dibayar.” Again, it’s not always about the money sister! Tujuan utama ngeblog bagi aku adalah untuk berbagi pengalaman. Kalaupun memang mendapatkan penghasilan dari berbagi pengalaman, itu adalah berkah yang harus disyukuri. 


I can proudly say that my decision to join BP was one of the best decision I’ve made in my life.  Tidak terasa sudah 3 tahun aku bergabung dengan Blogger Perempuan Network dan entah sudah berapa banyak BP membantu aku dalam berbagai hal. Buat kalian yang juga baru mulai ngeblog atau mungkin yang sudah ngeblog dan ingin mengembangkan blog kalian, Blogger Perempuan Network is the place. 

Jadi, sudah gabung di Blogger Perempuan Network belum? 

Kenapa nama blog ini Talkativetya? - BPN 30 Day Blog Challenge (Day 3)

Thursday, 22 November 2018
Perkara memilih nama memang bukan hal yang mudah. Coba deh teman-teman main ke toko buku, kalian pasti akan menemukan satu rak yang penuh dengan buku nama-nama pilihan. Ini jadi pertanda kalau memilih nama memang tidak bisa sembarang. Salah- salah pilih nama bisa berdampak besar pada kehidupan si pemilik nama. Apalagi nama adalah doa, iya kan? Aku dan mas suami ketika memilih nama untuk anak-anak (Deniz dan Zinan) juga pakai riset. Aku nggak mau mereka berdua nanti kena bully hanya karena nama mereka (this is what happened to me when I was in primary school).


Sama halnya dengan memilih nama untuk anak, menentukan nama blog yang pas dan sesuai dengan image yang ingin ditampilkan juga tidak kalah sulitnya. Waktu membuat blog ini, aku butuh waktu hampir satu bulan. Entah sudah berapa nama blog yang aku coba tapi masih belum dapat yang pas. Sampai akhirnya pilihanku jatuh pada nama Talkative Tya. 

Kenapa Talkative Tya?

Sebetulnya aku sudah pernah menceritakan kisah dibalik pemilihan nama ini, tapi nggak apa-apa ya diceritain lagi. Kalau kalian bertemu dengan teman-teman satu sekolah dan kampus aku, mereka mungkin tidak akan kenal dengan seorang Tya. Yup, ini karena sejak aku duduk di bangku sekolah dasar sampai aku kuliah semua orang mengenal aku dengan nama Ati. Nama panggilan ini diambil dari nama depan aku Atisatya.

Baca juga: 
Arti nama blog Talkativetya - 31 Day Blog Challenge

Nama Atisatya ini sendiri punya arti yang bagus, hati yang setia. Sayangnya, nama panggilan Ati sering dipelesetkan menjadi ‘Ita’, ‘Ait, dan ‘T*i’. Tidak hanya itu saja, kadang nama Ati ditambahkan dengan embel-embel lainnya seperti Ati ayam, Ati sapi, dan Ati ampela. Aku sendiri sudah sering minta kepada guru untuk dipanggil dengan nama ‘Tya’ yang merupakan nama panggilan aku di rumah. Tetapi hasilnya nihil. So I was stuck with this name until I graduated from college. 


Orang-orang selain keluarga dekat mulai memanggil aku dengan nama Tya ketika aku berkarir sebagai guru bahasa Inggris. Itulah sebabnya kenapa nama Tya menjadi salah satu komponen nama blog ini. Lalu bagaimana dengan kata Talkative? Menurut aku, kata yang dalam bahasa Inggris memiliki arti suka ngomong ini sangat tepat menggambarkan kepribadian aku yang emang ceriwis. Buat kalian yang pernah ketemu langsung sama aku pasti tahu banget aku kalau ngomong itu bisa nggak berhenti dan kalau ketawa ya lepas aja (no jaim, please). Ternyata nama Tya dan Talkative ini berima dan pas ketika disandingkan bersama. Voila! Jadi deh nama blog Talkative Tya. 

Sesuai dengan artinya, aku berharap aku bisa jadi diri aku sendiri sebagai seorang blogger dan berbagi pengalaman aku dalam bentuk tulisan. Selain itu, aku ingin siapapun yang membaca blog aku merasa nyaman dan seperti ngobrol langsung dengan aku. Bagaimana dengan kalian? Apa cerita di balik nama blog kalian? 

Thanks for reading!

Tema blog favorit Talkativetya - BPN 30 Day Blog Challenge (Day 2)

Wednesday, 21 November 2018
Seperti yang sudah aku ceritakan di postingan sebelumnya (kalau belum baca hayok cepat-cepatlah klik di sini biar nyambung ceritanya), aku membuat keputusan untuk fokus di niche beauty di akhir tahun 2012. Waktu itu topik atau tema blog yang aku tulis hanyalah seputar review produk makeup dan skincare yang aku coba. Sebelum diprotes banyak orang, aku mau bilang kalau tulisan-tulisan aku di awal ngeblog dengan niche beauty ini terbilang alay (aku tuh orangnya jujur lho). Jadi jangan kaget ya. 


Seiring dengan waktu dan juga hasil membaca tulisan teman-teman beauty blogger dalam dan luar negeri, ternyata banyak sekali topik yang bisa dibahas di blog. Dari semua topik tersebut, aku punya beberapa tema tulisan di blog yang aku suka, yaitu: 

1. Review produk

Kalau yang satu ini nggak perlu ditanya lah ya. Namanya juga blog dengan niche beauty, tentu postingan dengan tema review produk menjadi andalan. Hal yang paling aku suka dari menulis review produk, baik itu produk skincare atau makeup adalah aku bebas mengutarakan pendapat aku tentang suatu produk dengan jujur sesuai dengan pengalaman aku. FYI, semua review produk di blog ini aku coba langsung lho. 

Gimana dengan postingan kerjasama review produk (endorsement)? Tetap jujur nggak opininya? Tentu saja iya dong. Salah satu hal yang aku pelajari dari menulis review produk adalah bagaimana cara menyampaikan kekurangan suatu produk dengan cara yang elegan. Jadi nggak langsung bilang: “Ini produk jelek! Jangan dibeli.” Siapapun pasti nggak mau dong kalau dikatain jelek. Jadi teman-teman, koentji oetama-nja adalah tuliskan kekurangan (kalau memang ada) dengan bahasa yang baik dan sopan.  


Berhubung aku ini kan ibu rumah tangga dengan budget pas-pasan, aku selalu berusaha agar produk yang aku review di blog ini adalah produk dengan harga yang terjangkau baik dari brand lokal maupun luar negeri. Paling mahal Rp200.000 lah. Kalau nominalnya diatas itu, ada  kemungkinan produk itu aku dapatkan dari kerjasama. Soalnya kalau sampai ketahuan aku beli suatu produk dengan harga mahal, dijamin pak suami bakalan ngambek. Hehehe. 

2. Rekomendasi produk

Selain menulis review produk secara detil, aku juga suka menulis daftar rekomendasi produk. Tujuan utama dari tulisan rekomendasi produk ini tentu saja untuk memberikan informasi dan saran kepada teman-teman pembaca blog. Salah satu tulisan rekomendasi produk yang sampai saat ini masih menduduki posisi popular post di blog Talkativetya adalah 7 Eyeliner Pen merek lokal yang wajib kamu coba. Beberapa tulisan rekomendasi lainnya adalah 5 Face Scrub Lokal Murah Meriah yang Wajib Kamu Coba dan 5 Rekomendasi Foundation Lokal dengan Harga 10 Ribuan


3. DIY (Do It Yourself)

Budget belanja skincare dan makeup yang pas-pasan membuat aku harus pintar mencari akal agar wajah tetap kece tanpa keluar banyak uang. Cara yang paling mudah adalah dengan membuat DIY (Do It Yourself). Aku nggak munafik kok, sebagian besar ide aku dapatkan dari hasil browsing di Pinterest lalu aku coba terapkan dengan menambahkan kearifan lokal (baca: pakai bahan yang seadanya di rumah). 


Menurut aku, membuat tulisan DIY itu cukup merepotkan karena aku harus mengambil gambar setiap langkahnya. Meskipun begitu, aku sangat menikmati prosesnya. Alhamdulillah pak suami dan anak-anak suka membantu ketika membuat tulisan DIY. Anyway, beberapa tulisan DIY aku yang cukup ngehits adalah LED Ring Light Murah Meriah dan Gampang,  Makeup Brush Drying RackMake your own Setting Powder, dan [DIY] Coconut Coffee Scrub Bars for Cellulites and Stretchmark. Kalau kalian penasaran dengan tulisan DIY aku lainnya, langsung aja klik Blog Category DIY di sidebar ya. 

4. Tips 

Ini adalah tema blog terakhir yang paling suka aku tulis. Tips yang aku tulis juga beragam, mulai dari tips kecantikan sampai tips blogging. Sama seperti review produk, semua tips yang aku tulis di blog ini aku coba langsung. Jadi tips-nya nggak asal tulis ya. Aku paham kalau tiap orang memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Jadi belum tentu tips yang punya dampak besar untuk aku bisa berdampak sama besarnya di orang lain. Meskipun begitu, aku selalu percaya kalau tips yang aku tulis di blog ini bisa memberikan manfaat walau hanya untuk satu orang saja. 



***

Sebetulnya masih banyak lagi sih tema tulisan di blog ini, tetapi kalau ditanya tema blog yang paling disukai ya keempat itu. Alhamdulillah sampai saat ini aku belum pernah merasa bosan menuliskan tema-tema tersebut. Permasalahannya justru aku kadang tidak punya banyak waktu untuk menulis blog karena kesibukan aku. 

Anyway, dari empat tema blog yang bisa kalian baca di blog Talkativetya, tema apa yang jadi favorit kalian? Atau mungkin kalian punya ide tema lainnya yang bisa aku tulis di blog ini? Share di kolom komentar di bawah ya.

Thanks for reading!

Kenapa aku menulis blog? - BPN 30 Day Blog Challenge (Day 1)

Tuesday, 20 November 2018
Jadi ceritanya kemarin pagi aku dapat informasi dari salah satu grup blogger di WhatsApp kalau Blogger Perempuan sedang mengadakan blog challenge. Tujuannya sungguh mulia, kawan, yaitu biar traffic blog di menjelang akhir tahun ini bisa meningkat sehingga tercapailah target traffic sesuai harapan. Bagi aku, ini bagaikan tamparan di kedua pipi (plak plak) karena memang tahun ini semangat ngeblog bisa dibilang menurun drastis. Aku nggak akan tulis alasannya karena pasti alasannya udah basi. Hehehe. 


Anyway, tamparan yang cukup keras dan sakit ini membuat aku jadi semangat untuk ikut BPN 30 Day Blog Challenge. Apalagi pas lihat topiknya ternyata pas sama niche blog aku, yaitu beauty dan lifestyle. Jadi, dengan resmi aku akan memulai challenge ini dengan topik pertama: Kenapa menulis blog?


Kapan kecintaan menulis itu muncul?

Dari sejak kecil aku sudah dekat dengan kegiatan membaca dan menulis. Big thanks to my mom and dad. Mereka berdua adalah orang yang selalu mendorong aku dan kedua adikku untuk suka membaca dan menulis. Latar belakang daddy sebagai seorang dosen di UI (saat ini beliau sudah pensiun) sedikit banyak mempengaruhi kesukaan aku pada membaca dan menulis. Entah sudah berapa banyak uang saku yang aku dapatkan dari membantu beliau mengoreksi ujian mahasiswa. Dari kegiatan mengoreksi ujian ini, aku jadi ikut-ikutan belajar mata kuliah yang diuji. 

Kenangan lain yang tidak terlupakan adalah menghadiri pameran buku setiap tahun. Aku dan kedua adikku bebas memilih buku apa saja tanpa ada batas anggaran. Rumah kami penuh dengan buku. Bahkan di rumah kami ada satu ruangan yang isinya hanya buku dari lantai hingga ke plafon.

Sebelum menulis blog

Di tahun 2005, aku mulai bergabung dengan komunitas sastra. Komunitas menulis yang pertama kali aku ikuti adalah kemudian.com. Di komunitas inilah aku menulis banyak puisi dan akhirnya kenal dengan penulis-penulis lainnya. Dari komunitas menulis online ini, aku mulai rajin posting puisi aku di Facebook notes dan ikut dalam kegiatan seni. Salah satu tempat yang cukup sering aku kunjungi (dan pernah tampil baca puisi juga) adalah Wapres (Warung Apresiasi Sastra) Bulungan. Waktu itu, aku dan teman-teman penulis berkumpul dan berdiskusi banyak tentang sastra dan kepenulisan. 

Menikah dan blog

Aku masih aktif ikut dalam beberapa komunitas sastra sampai menjelang aku menikah di bulan Oktober 2009. Setelah menikah, aku merasa kurang nyaman lagi ikut kegiatan di komunitas karena biasanya kegiatan tersebut diadakan di Jakarta dan sampai larut malam. Rasanya tak pantas aja meninggalkan suami  sampai tengah malam hanya untuk diskusi. Tetapi gimana ya? Aku kan tetap butuh outlet untuk menyalurkan hobi menulis aku. Long story short, I decided to continue my writings on a blog. 

Blog Talkativetya.com pada awalnya hanya berisi curhatan tidak jelas dalam bahasa Inggris (sok banget nulis pakai bahasa Inggris, hehehe) dan puisi-puisi aku yang sebelumnya ada di Facebook notes. Saat itu aku belum punya visi akan dibawa ke mana blog ini. Pokoknya asal nulis dan nulis asal aja (makanya nggak ada yang baca). 

Talkativetya dan niche Beauty

Tidak pernah terbayang sebelumnya kalau seorang Tya yang tomboi akan punya beauty blog. Semua ini berawal ketika aku menjadi pengajar bahasa Inggris di salah satu lembaga hukum negara. Saat itu, aku mengajar corporate class dengan dandanan super cuek (namanya juga tomboi). Jangankan ber-makeup, pakai baju aja kadang ngasal. Tapi kok rasanya nggak profesional ya mengajar bapak-bapak pejabat tapi nggak rapi? Terus aku mulai deh coba-coba pakai makeup (ingat banget dulu pertama kali coba pakai eyeliner cair dan lipstik ya pas mengajar di MK)

Namanya juga baru belajar makeup, tidak kenal sosmed dan Youtube, tentu saja makeup aku jauh dari sempurna. Aku tidak akan pernah lupa hari itu ketika aku mencoba pakai eyeshadow untuk pertama kalinya (FYI, aku pakai eyeshadow dari Inez) dan dikomentari oleh salah satu pengajar, “Tya, kamu itu udah cantik jadi nggak usah pakai makeup deh soalnya makeup kamu jelek.” Jedeer! Berasa disambar petir di siang bolong pas dengar komentar itu (waktu itu emang siang hari sih). Tidak usah ditanya, tentu saja aku sedih dan malu. Tetapi justru kejadian itulah yang menjadi penyemangat aku untuk belajar makeup dan menuliskan pengalaman aku ber-makeup di blog. So I came to decision on niche beauty at the end of 2012.

***

Kenapa menulis blog? Sejauh ini hanya blog yang memberikan kebebasan bagi aku untuk menulis. Aku belajar mengenal diri aku sendiri dan menemukan gaya menulis yang Tya banget. Kalau ditanya apakah aku akan berhenti menulis di blog? I will definitely say no I won’t stop. Meskipun nanti aku sudah tidak fokus di niche beauty ini, rasanya aku akan tetap menulis di blog. Entah itu menulis tentang kegiatan sehari-hari, anak-anak, bahasa Inggris, atau topik lainnya yang saat ini mungkin tidak terpikirkan. 

Keep blogging!

#bloggerperempuan 
#BPN30dayChallenge2018

My Earliest Childhood Memory - 31 Day Blog Challenge

Thursday, 9 August 2018
Di salah satu coursebook yang aku pakai untuk mengajar, ada satu artikel yang membahas tentang memori. Ternyata, ada lho orang yang bisa mengingat masa kecil mereka dari sejak mereka masih bayi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa apa yang kita ingat ketika masih kecil biasanya berhubungan dengan emosi. Entah itu emosi senang, sedih, atau marah. Bagaimana dengan kenangan masa kecil aku? Jujur aku hanya bisa mengingat sedikit saja. Tetapi dengan bantuan dari kedua orangtuaku dan foto-foto masa kecil, aku bisa menuliskan tentang masa kecilku. 


Masa kecil merupakan masa yang indah bagi aku. Setiap hari selalu diisi dengan bermain sambil belajar. Kata ibuku, aku memang dari dulu sudah aktif dan tidak mau kalah dengan anak cowok. Kenangan masa kecil aku yang masih aku ingat sampai sekarang adalah ketika aku tinggal di Perth, Australia bersama kedua orangtuaku. Ayahku waktu itu mendapatkan beasiswa untuk belajar di Murdoch University. Aku masih berumur sekitar 2 tahun (lagi lucu-lucunya kalau kata orang).

Ini boneka teddy bear-nya masih ada sampai sekarang lho.

Tinggal di negeri orang membuat aku lebih mahir berbahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Apalagi umurku masih kecil, jadi lebih cepat juga menyerap kosakata bahasa Inggris. Lucunya, meskipun aku berbicara dalam bahasa Inggris, aku memanggil kedua orangtuaku dengan panggilan ‘Ibu’ dan ‘Bapak’. Aku tahu tentang ini ketika aku menonton rekaman video VHS (sumpah ini jadul banget!) ketika kami tinggal di sana. Ada satu scene ketika aku sedang bermain lempar bola dengan ayahku di taman dan aku teriak, “Bapaak, catch this!” Kalau ingat itu pasti aku langsung otomatis ketawa. 


Soal panggilan nama ke orangtua ini juga unik (kalau tidak mau dibilang aneh) karena ketika kami berempat (ketika kami tinggal di sana ibuku hamil dan adikku lahir di sana) kembali ke tanah air, aku justru memanggil mereka dengan ‘Mommy’ dan ‘Daddy’. Nama panggilan ini yang terus aku dan kedua adikku pakai hingga sekarang. Mas Deniz dan adik Zinan pun juga memanggil aku dan mas suami dengan panggilan ‘mommy’ dan ‘daddy’.


Sekembalinya kami ke Indonesia, ibuku bilang kalau aku hampir tidak bisa bahasa Indonesia sama sekali. Jadi semua percakapan menggunakan bahasa Inggris. Perbedaan bahasa ini membuat aku kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Ada satu cerita yang lucu tentang bahasa ini. Jadi waktu itu ibuku sedang pergi dan aku di rumah bersama nenekku (alm). Nenekku ini tidak bisa bahasa Inggris sama sekali. Entah awalnya bagaimana, aku melihat kelinci dan aku cerita ke nenekku dalam bahasa Inggris (yang tentu saja beliau tidak paham). Karena aku kesal nenekku tidak mengerti apa yang aku ucapkan, aku gigit tangan nenekku. Ketika ibuku pulang, nenekku mengadu soal kejadian itu. Setelah dijelaskan bahwa yang aku maksud itu adalah kelinci, nenekku cuma bisa geleng-geleng kepala dan bilang, “oalaah, rabbit itu kelinci ya?” Duh maaf banget ya Mbah. 

Kenangan lainnya yang aku ingat ketika aku masih kecil adalah saat kepalaku, tepatnya dahi, bocor karena aku masuk ke dalam selokan. Waktu kecil, aku sangat takut dengan ondel-ondel. Di suatu sore hari, aku bersama adik-adikku dan sepupuku bermain di depan rumah. Tiba-tiba terdengar suara alunan musik ondel-ondel. Aku mulai panik. Dan benar saja, tidak lama kemudian ada ondel-ondel muncul dan berjalan ke arah kami. Aku tambah panik dong. Saking paniknya aku berjalan mundur dan tidak sadar kalau di belakang aku ada selokan. Aku pun terjatuh dan dahiku membentur pinggiran selokan. Darah langsung mengucur deras dan aku pun tambah panik dan menangis. Untung saja ibuku ada di rumah dan aku langsung dibawa ke klinik dan mendapatkan jahitan. 

Main microphone yang super berisik.

Ketika kecil, aku juga ingat masa-masa ketika aku dan adik-adikku main hujan dan main tanah. Ibuku tidak pernah melarang kami untuk main hujan. Justru beliau yang menyuruh kami main hujan agar kuat. Namanya juga anak kecil, pasti happy luar biasa boleh main hujan. Apalagi teman-teman kami di kompleks tidak ada yang boleh main hujan dan cuma bisa melihat kami dengan tatapan iri. Aku sempat menanyakan ke ibuku kenapa dulu kami boleh main hujan dan beliau menjawab, “Biar kamu nggak penasaran hujan-hujanan tuh rasanya kaya apa.” Yang paling menyenangkan dari bermain hujan adalah ketika kami kembali ke rumah, ibuku sudah menyiapkan air hangat untuk mandi dan segelas susu coklat plus camilan. 

Di tahun 90an, ada beberapa area di kompleks tempat kami tinggal yang masih berupa tanah merah. Kalau orangtua lain melarang anak-anaknya untuk main di tanah merah tersebut, ibu kami justru mengajak kami main di sana. Kami main perosotan tanah sampai baju kami berubah warna. Kami juga mendaki gundukan tanah merah tersebut sampai puas. 


Ada satu kenangan masa kecil yang juga tidak pernah terlupakan hingga sekarang yaitu ulang tahun! My mom is a food genius! Beliau selalu membuat kue ulang tahun untuk kami bertiga (aku dan kedua adikku). Kue ulang tahun yang beliau buat juga bukan sembarang kue karena selalu ada temanya. Ada banyak sekali tema kue ulang tahun yang ibuku buat, mulai dari angka, binatang, mobil, sampai rumah. Namun kebiasaan membuat kue ulang tahun ini berhenti ketika kami bertiga sudah besar. 

Sebetulnya masih banyak lagi kenangan masa kecil lainnya, tetapi rasanya cukup sampai sini dulu. Insha Allah nanti aku akan menuliskan lagi kenangan ketika aku remaja dan beranjak dewasa (aiih). Bagaimana dengan teman-teman? Apa kenangan masa kecil yang tidak terlupakan sampai sekarang? Share di kolom komentar yuk. 

Thanks for reading!

Arti nama blog Talkativetya - 31 Day Blog Challenge

Wednesday, 8 August 2018
Mungkin sudah tidak bukan hal baru dalam dunia hiburan ketika ada artis yang mengganti nama asli mereka dengan nama panggung di Kantor Catatan Sipil dengan alasan mereka lebih dikenal dengan nama panggung mereka. Beberapa alasan lain kenapa seseorang mengganti namanya adalah karena nama tersebut artinya kurang baik dan karena nama tersebut dia jadi di-bully


Memilih nama memang bukan perkara mudah karena salah memilih nama bisa berimbas pada banyak hal. Di Islam sendiri nama adalah doa dan sebaiknya kita memilih nama yang memiliki arti yang baik. Kalau teman-teman mampir ke toko buku, kalian bisa melihat ada banyak sekali buku kumpulan nama-nama. Mulai dari buku kumpulan nama-nama islami, nama anak perempuan/laki-laki populer, dan masih banyak lagi. Selain itu, umat Muslim pun dianjurkan untuk memanggil orang lain dengan nama panggilan yang baik. Itulah kenapa setiap kali aku bertemu dengan orang baru, aku selalu menanyakan mau dipanggil dengan nama apa. 

Ketika aku membuat blog ini di tahun 2009, salah satu hal yang menahan aku untuk tidak langsung mempublikasikan blog adalah nama blog. Ya, memilih nama blog itu sama sulitnya seperti memilih nama untuk anak. Apalagi waktu itu aku sama sekali buta tentang blogging dan tidak punya ilmu apapun tentang branding. Setelah satu bulan memikirkan nama blog, akhirnya pilihanku jatuh pada nama Talkativetya

Kenapa Talkativetya?

Dari sejak aku SD sampai kuliah, semua orang memanggil aku dengan nama “Ati” yang diambil dari nama depan aku: Atisatya. Sebetulnya nama ini punya arti yang bagus (ibuku bilang nama Atisatya itu artinya ‘hati yang setia’), sayangnya teman-teman waktu di SD dulu suka meledek nama aku. Aku sering diledek dengan nama ‘ati ayam’, ‘ati sapi’, sampai nama aku diputar-putar jadi ‘t*i’. Kalau sekarang ini sudah termasuk bullying ya. 

Aku sudah sering meminta pada teman-teman sekolah dan guru untuk memanggil aku dengan nama ‘Tya’ (karena di rumah aku dipanggil dengan nama ini), tetapi permintaan aku dianggap seperti angin lalu saja. So, I had to survive with this name until I graduated from college. Aku mulai dipanggil dengan nama ‘Tya’ ketika aku kerja. Jadi, itulah salah satu alasan kenapa nama Tya itu penting untuk dicantumkan dalam nama blog aku. 

Bagaimana dengan kata Talkative? Ketika aku masih SMA, aku ikut kursus bahasa Inggris di salah satu lembaga bahasa (years later, this English course became my office) dan waktu itu kami mempelajari tentang personality traits (kepribadian). Kami diminta untuk menganalisa personality traits teman sekelas dengan cara mengerjakan kuesioner. Ternyata, salah satu personality trait yang aku miliki adalah talkative alias suka ngomong. Aku bisa ngomongin apa saja tanpa jeda, apalagi kalau topiknya seru. Selain itu aku kalau ngomong juga selalu bersemangat. Teacher kami waktu itu juga meminta kami untuk mencari 3 personality traits dengan huruf awal sama dengan nama kami. Aku pun memilih: Talkative, Tenacious, Terrific.



Dari ketiga personality traits tersebut, aku paling suka dengan kata Talkative karena berima dengan nama aku Tya. Selain itu kalau dilihat dari artinya, kata Talkative ini sesuai untuk blog aku karena aku akan ‘ngomong’ banyak hal di dalam blog. Jadi, terbentuklah nama blog Talkativetya. 

Ada keinginan untuk ganti nama blog? 

Hmm, kalau ditanya apakah aku akan mengganti nama blog aku sepertinya aku akan jawab tidak. Pertama, menurut aku nama blog ini sudah sesuai dengan isi blog aku. Kedua, blog Talkativetya sudah cukup dikenal orang sehingga akan sulit dan butuh waktu lagi untuk branding ketika ganti nama. Aku ingat waktu mengikuti Workshop Fun Blogging 12 di tahun 2016, salah satu pemateri mengatakan kalau sebaiknya nama blog itu sesuai dengan nama akun social media lainnya agar lebih mudah. Aku pun langsung menyeragamkan nama akun social media aku (Twitter, Facebook, Instagram). Tetapi memang untuk blog sengaja tidak aku utak atik lagi. 

*** 

Itu dia arti dari nama blog Talkativetya dan sejarah dibalik pemilihan nama blog ini. Bagaimana menurut teman-teman? Apakah nama blog ini sudah sesuai dengan konten blognya? Atau mungkin aku memang harus ganti nama blog? Kira-kira apa saja plus minus dari mengganti nama blog? Oya, teman-teman juga bisa share di kolom komentar tentang arti nama blog/nama pribadi kalian ya. 

Thanks for reading!

20 facts about Tya - 31 Day Blog Challenge

Tuesday, 7 August 2018
Siapapun yang membaca blog Talkativetya pasti sedikit banyak tahu beberapa hal tentang aku. Di postingan kali ini, aku mau buka-bukaan nih tentang 20 fakta seorang Tya. Apa aja sih? Langsung terusin aja bacanya  ya!


1. Anak pertama dari 3 bersaudara.

Tya itu adalah anak sulung dan kedua adikku itu cowok. Jadi bisa ngebayangin dong kalau dulu tuh aku super bossy sama adik-adiku. Apalagi aku suka kesel karena tidak diajak main bareng (yaiyalah, siapa juga yang mau ajak  kakak cewek main bareng?) Orangtuaku pernah cerita kalau dulu aku pernah minta mereka berdua dibuang aja karena bikin rumah berisik dan berantakan (whaat?) Segitunya yaa. Meskipun begitu aku tetap sayang kok sama mereka.

2. Pakai jilbab 2 bulan sebelum lulus SMA.

Keputusan memakai jilbab memang muncul mendadak. Entah gimana ceritanya, pokoknya tahu-tahu ada dorongan kuat untuk pakai jilbab. Akhirnya dengan pede aku pakai jilbab dua bulan sebelum kelulusan (tahun 2002). Banyak yang kaget dengan keputusan ini karena memang sebelumnya aku tomboi banget. Karena serba mendadak, aku tuh inget banget tidak punya baju seragam panjang dan jilbab. Mau beli juga tanggung kan karena sudah mau lulus. Alhamdulillah teman-teman Rohis di sekolah aku gercep menghibahkan beberapa seragam yang tidak terpakai dan juga jilbab. Terharu banget deh, ini salah satu kenangan yang tidak terlupakan.

3. Kalau ketawa selalu ngakak.

Nah ini nih yang dari dulu sampai sekarang tidak bisa diubah. Aku kalau ketawa ngakak bisa lupa diri aliastidak jaim. Kadang suka malu sendiri, terutama pas teman-teman lain ketawanya manis (ketawa feminin) sedangkan akunya ketawa sudah kaya orang gila. Tapi ya mau gimana, kalau ditahan nanti malah sakit perut. Iya tidak?

4.Tidak pernah punya kuku panjang.

SD aku waktu itu termasuk SD favorit dan punya peraturan ketat, salah satunya adalah kebersihan kuku. Kalau kami ketahuan punya kuku panjang sedikit aja, pasti penggaris sudah mendarat mesra di tangan (you know what I mean). Dari situ aku selalu memotong kuku aku sampai pendek dan jadi kebiasaan. Kebiasaan memotong kuku sampai pendek ini juga aku terapkan ke mas suami dan anak-anak.

5. Pakai baju harus matching.

Drama yang selalu terjadi setiap kali aku mau pergi, entah itu pergi kerja atau cuma sekadar hangout, adalah memilih baju. Kenapa jadi drama? Soalnya aku kalau pakai baju harus matching. Saking terobsesi-nya matching-in warna, aku sampai mengumpulkan pins di Pinterest tentang Fashion Color Scheme dan What to wear with color. So, you won't see me wearing mismatched outfit.

6. Kalau jalan kaki selalu ngebut.

Mungkin karena sejak kecil aku sudah diajarkan disiplin, ditambah lagi aku ikut Paskibraka, aku jadi terbiasa bergerak cepat. Jujur aku paling sebel kalau ada orang jalan santai gitu karena menurut aku mereka bikin aku jadi melambat. Alhamdulillah mas suami yang juga Paskibraka punya kebiasaan yang sama. Jadi kalau kamu jalan bareng aku dan aku jalannya lambat, berarti aku menahan diri untuk tidak melesat secepat kilat.

7. Ketemu suami lewat kontak jodoh online.

Banyak yang tidak percaya kalau aku bilang aku ketemu mas suami lewat kontak jodoh online. Tapi nyatanya kami memang kenalan via kontak jodoh online dan ternyata klop. Apalagi kami berdua sama-sama pernah jadi Paskibraka (mas suami dulu Paskibraka Nasional wakil Jakarta tahun 1998). Ini kalau mau diceritain panjang, jadi kalau kalian mau tahu ceritanya just give me a shout in the comment box ya.


8. Paling benci sama orang merokok dan asap rokok.

Fact yang satu ini kayanya tidak perlu dijelasin panjang lebar deh. Pasti sudah pada tahu kan kalau rokok dan asapnya itu sangat berbahaya bagi kesehatan? Sedihnya, orangtuaku itu merokok dan sampai sekarang aku masih belum bisa menghentikan kebiasaan merokok ini. Mentok-mentoknya ya hanya bisa mendoakan saja. Aku bersyukur mas suami tidak merokok jadi rumah kami bebas asap rokok. Kalau ada tamu yang datang mau merokok, kami persilahkan merokok di luar pagar rumah.

9. Bisa mengendarai motor tapi tidak punya SIM C.

Aku sudah bisa mengendarai motor sejak masih SMA tetapi hingga sekarang aku tidak punya dan tidak kepingin membuat SIM. Alasannya? Aku kalau malam tidak bisa melihat jalanan dengan jelas sehingga aku kuatir akan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Biasanya aku naik motor hanya sebatas ke mini market depan rumah aja.

10. Suka gadoin sambal.

Kalian pasti sudah tahu kalau aku memang pencinta makanan pedas. Tapi selain menyukai makanan pedas, aku juga suka gadoin sambal. Entah itu sambal terasi, sambal goreng, sampai cabe bubuk pun aku gadoin. Banyak yang kasih nasehat jangan terlalu sering makan makanan pedas karena kuatir nanti usus buntu, tapi bagaimana ya? Namanya juga suka. Hehehe.


11. Selalu sedia cabe bubuk di dalam tas.

Ini masih nyambung dengan fakta sebelumnya. Karena kesukaanku akan makanan pedas, aku selalu membaca cabe bubuk di dalam tas. Alasannya? Beberapa kali aku pergi ke restoran dan memesan menu makanan super pedas (kata mbak/mas-nya itu udah yang paling pedas) tetapi kenyataannya makanan tersebut tidak pedas (menurut versi aku). Disitulah cabe bubuk berperan penting. Aku bisa langsung tambahkan cabe bubuk sesuai selera dan tidak merepotkan mbak/mas pramusaji di restoran.

Baca juga:
What's in my bag?
What's in my makeup bag 2018

12. Es krim vanilla favoritku.

Kalau diminta untuk memilih rasa es krim favorit, aku pasti langsung menjawab vanila. Menurut aku es krim rasa vanila itu manis dan gurih. Nikmat deh! Apalagi kalau ditambahkan dengan berbagai macam topping.


13. Mulai belajar makeup tahun 2012.

Aku ingat pertama kali aku mulai belajar pakai makeup dengan serius adalah di tahun 2012. Waktu itu aku mengajar bahasa Inggris untuk staff di Mahkamah Konstitusi dan aku merasa kok aku ini dekil (kurang menarik dari segi penampilan). Apalagi pekerjaan aku waktu itu kan mengajar di lembaga negara yang formal. Jadi aku memutuskan untuk mulai belajar menggunakan makeup sedikit demi sedikit bermodalkan beauty blog dan tutorial di Youtube.

14. Kalau foto tidak pernah kelihatan gigi.

Saat sedang bermain sepatu roda, aku terjatuh cukup parah sehingga salah satu gigi depan aku gompal (patah sebagian). Hingga saat ini aku masih belum berani memperbaiki gigi aku ini (karena katanya gigi tersebut harus dicabut lalu dipasang jaket/crown, ngebayanginnya aja sudah ngeri). Jadi solusi paling mudahnya adalah kalau foto ya selalu mingkem.

15. Tidak mau beli baju dengan harga diatas 100 ribu.

Aku bukan orang yang brand-oriented dalam hal fashion. Kebanyakan pakaian yang aku miliki aku beli di toko pakaian biasa di pasar atau di pusat perbelanjaan seperti ITC dengan harga yang murah. Menurut aku, pakaian yang bagus itu tidak harus mahal dan bermerek. Yang penting untuk aku adalah pakaian tersebut nyaman digunakan dan modelnya cocok. Kalaupun aku membeli baju bermerek, aku biasanya menunggu diskon besar-besaran sampai harga bajunya dibawah 100 ribu. Alasan lainnya? Penghematan!

16. Kalau makan ayam goreng kulitnya dimakan belakangan.

Siapa yang doyan kulit ayam goreng? Kulit ayam goreng rasanya memang luar biasa sampai bisa menjadi sumber konflik kalau makan di restoran. Aku sendiri termasuk yang kalau makan ayam goreng, kulit ayamnya disisihkan dan baru dinikmati belakangan. Ini nikmat banget sih, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi kalau kulit ayamnya pedas dan dicocol dengan sambal.


17. Selalu datang tepat waktu (insyaAllah).

Kedisplinan yang diajarkan di rumah, sekolah, dan dari Paskibraka membuat aku terbiasa untuk datang tepat waktu (bahkan lebih awal). Aku ingat masa SMP dan SMA dulu, aku selalu jadi murid pertama yang datang ke sekolah (wong pas aku datang itu pagar sekolah masih digembok). Di kantor aku sekarang pun seringkali menjadi guru pertama yang datang. Enaknya datang awal/tepat waktu itu aku bisa santai sejenak dan kerja pun tidak terburu-buru.

18. Pernah punya ular peliharaan.

Di tahun 2008 dulu, ada cowok yang dekat dengan aku (mau PDKT) dan dia ini punya bisnis memasok binatang eksotik ke toko hewan di area Jabodetabek. Beberapa hewan eksotik yang dia pasok ini adalah tarantula, kalajengking, kura-kura, tokek, sampai ular. Nah entah awalnya gimana, aku dikasih satu ular sama dia untuk dipelihara. Ularnya jenis mono pohon Papua yang berukuran kecil, ular ini sering disebut juga ular gelang karena memang si ular senang melingkar di atas pagar (maksudnya di pergelangan tangan). Tapi peliharaan ular ini tidak bertahan lama karena aku didemo satu rumah. Anggota keluarga lainnya takut sama ular dan hampir setiap hari aku diomelin soal ular itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengembalikan si ular ke pemiliknya.

19. Makan sambil baca buku.

Aku memang punya hobi membaca. Membaca bagi aku adalah cara paling mudah untuk relaksasi. Entah awalnya bagaimana, aku punya kebiasaan makan sambil baca buku (atau baca buku sambil makan). Kebiasaan ini sudah aku lakukan sejak SD dulu. Banyak yang bilang kalau ini adalah kebiasaan buruk, tetapi sulit sekali menghentikannya. Aku mulai berusaha mengurangi kebiasaan ini, terutama kalau aku sedang makan bersama keluarga dan teman. Tetapi rasanya kurang nikmat, seperti ada yang kurang.

20. Tidak suka pakai aksesoris perhiasan.

Fakta terakhir tentang seorang Tya adalah aku tidak suka pakai perhiasan seperti cincin, anting, gelang, dan kalung terutama yang dari logam mulia seperti emas. Bahkan aku pun tidak menggunakan cincin nikah aku (mas suami juga tidak pakai sih). Alasannya aku suka ribet sendiri dengan perhiasan ini dan sayang juga kalau dipakai takut nanti lecet. Jadi perhiasan ini hanya aku simpan saja.

***

Ternyata banyak juga ya! Setelah membaca 20 fakta ini apakah kalian jadi lebih mengenal seorang Tya? Adalah fakta yang membuat kalian terkejut? Bagaimana dengan kalian? Adakah fakta tentang diri kalian yang orang lain tidak tahu? Share di kolom komentar ya!

Thanks for reading!

Auto Post Signature