Wednesday, 30 August 2017

Ingin Merdeka Finansial? Yuk coba 4 Langkah Mudah Menyusun anggaran keuangan keluarga ini!

Happy Monday!

Sejak menikah hampir 8 tahun yang lalu, aku mau tak mau belajar bagaimana menyusun anggaran keuangan keluarga kecil kami. Dulu sebelum menika, aku nggak pernah ambil pusing kalau mau beli sesuatu. Mau beli eyeshadow, foundation, lipstik, ya segala macam perintilan makeup ya tinggal beli aja tanpa pikir panjang. Sekarang? Setiap rupiah yang keluar dari dompet harus di-acc dulu sama aku apakah sesuai dengan anggaran atau nggak (iya dong, kan aku menteri keuangannya di rumah). Tapi ya namanya manusia, meskipun sudah membuat perencanaan dan anggaran sedetil mungkin, kadang ada aja yang kebablasan. Ujung-ujungnya nelangsa di akhir bulan menunggu gajian (hayoo siapa yang suka kaya gini?)


Semenjak mas suami memutuskan untuk berhenti kerja dan mulai berwirausaha, aku dipaksa untuk lebih jeli lagi mengatur keuangan di rumah. Ada beberapa hal yang dengan berat hati harus kami keluarkan dari anggaran, ada juga yang terpaksa dianggarkan. Mumet luar biasa deh. Di saat lagi galau paripurna memikirkan anggaran belanja keluarga untuk bulan depan, KEB kembali mengundang aku untuk ikut Visa Financial Literacy Workshop #IbuBerbagiBijak pada hari Kamis, 24 Agustus 2017 yang tema-nya Planning and Budgeting. Wah, pas banget nih momennya!


Workshop ini merupakan lanjutan dari workshop sebelumnya dengan tema Financial Check Up (silahkan mampir dengan klik link di bawah ini ya)


Bertempat di The Hook, sebuah resto di bilangan Jakarta Selatan, workshop ini dihadiri oleh teman-teman dari Komunitas Kumpulan Emak Blogger yang super antusias dengan tema workshop kali ini. Mrs Adhe Hapsari, Director of Coorporate Communication Visa for Indonesia, Vietnam, Cambodia, and Laos membuka workshop dengan menjelaskan bahwa pengetahuan keuangan wanita Indonesia terbilang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Padahal, pengetahuan dasar tentang keuangan ini sangat penting lho karena wanita umumnya adalah orang yang mengatur keuangan keluarga.


Mbak Prita Ghozie kembali mengisi materi dalam workshop kedua ini (duh semoga mbak Prita nggak bosan lihat wajah aku yang suntuk mikirin uang). Sesuai dengan tema workshop ‘ Planning and Budgeting’, kali ini kami belajar bagaimana membuat anggaran keuangan keluarga. Anggaran sendiri adalah rencana keuangan yang merujuk pada berapa banyak pendapatan dan perkiraan pengeluaran pada periode waktu tertentu.


Ribet nggak sih mesti bikin anggaran keuangan keluarga?


Dalam menyusun anggaran keuangan, mbak Prita Ghozie punya 4 langkah praktis nih yang insyaAllah bisa diikuti dan diterapkan dalam keluarga.

1. Tentukan Prioritas


“Wah, merek smartphone A ngeluarin seri terbaru tuh. Beli nggak ya?”
“Merek kosmetik B udah masuk Indonesia nih, borong ah.”

Suka terlintas hal-hal seperti ini di pikiran kamu? Menginginkan sesuatu itu wajar kok, tetapi mbak Prita menegaskan bahwa kita harus bisa menelaah apakah yang kita inginkan tersebut hanya sebatas keinginan saja atau memang butuh? Misalnya seperti ilustrasi merek kosmetik B, apakah hanya karena merek tersebut akhirnya buka toko di Indonesia lantas kamu harus borong produknya? Sedangkan di rumah banyak foundation dan perintilan makeup lain yang berdebu di meja rias karena jarang dipakai (ini kayanya ngomongin diri sendiri deh. Hehehe).


Masih suka bingung membedakan kebutuhan dan keinginan? Coba tanyakan pada diri sendiri:
  • Mengapa aku menginginkannya?
  • Bagaimana hal akan berbeda jika aku punya itu?
  • Apa hal yang penting untuk aku?


Setelah daftar selesai, coba evaluasi kembali apa saja yang memenuhi syarat sebagai kebutuhan. Financial planner yang juga dosen di salah satu universitas terkemuka ini menjelaskan bahwa ada dua macam kebutuhan: kebutuhan jangka pendek dan kebutuhan masa depan. Kebutuhan jangka pendek adalah kebutuhan yang yang timbul dalam jangka waktu 12 bulan seperti tagihan listrik, uang SPP anak, dan belanja bulanan. Sedangkan kebutuhan masa depan adalah kebutuhan yang timbul diatas 12 bulan seperti dana pensiun, pendidikan anak, dan naik haji.

Mbak Prita juga berpesan bahwa masa depan itu kita sendiri yang membiayai. Jadi, selagi masih sehat dan produktif kita harus bisa mengelola keuangan agar masa depan kita terjamin. Jangan sampai nanti ketika kita pensiun tetapi kita tidak memiliki dana apapun untuk kelangsungan hidup. Di workshop ini, para peserta juga diajarkan bagaimana membuat prioritas alokasi penghasilan seperti yang terlihat di foto berikut.


Dari daftar prioritas alokasi di atas, bisa dilihat kalau prioritas utama adalah untuk zakat/sedekah, tabungan, dan membayar kewajiban (cicilan/pinjaman). Sedangkan gaya hidup seperti makan di luar, nonton film di bioskop, nongkrong di kafe berada di urutan paling akhir. Lalu kalau uangnya sudah habis di alokasi sebelumnya terus nggak bisa hangout di luar? Gaya hidup boleh aja kok asal porsinya tepat.

2. Mengalokasikan dana secara tepat


Setelah mengetahui prioritas alokasi penghasilan, saatnya praktek langsung nih bagaimana mengalokasikan dana secara tepat. Di sini para peserta workshop ditantang untuk menyusun anggaran keuangan keluarga dengan total penghasilan 20 juta (kapan ya penghasilan aku segitu? Aamiin!). Kami diminta untuk menghitung berapa alokasi untuk tiap pos pengeluaran yang sudah tertulis di cheat sheet dalam waktu kurang lebih 5 menit. Ternyata saudara-saudara sekalian, teori itu memang lebih mudah daripada praktek! Padahal nih, mbak Prita sudah menyampaikan tentang alokasi ideal tiap pos pada workshop sebelumnya tetapi tetap saja aku kelimpungan menghitung berapa nominal untuk tiap pos (ternyata kalkulator baru nggak bikin aku langsung pintar berhitung. Hehehe).

Setelah 5 menit memeras otak, mbak Prita akhirnya memberikan bocoran alokasi dana ideal sesuai dengan ilustrasi.  Berikut adalah presentase alokasi penghasilan yang ideal:

  • 5% untuk zakat / Infak / Sedekah
  • 10% dana darurat dan asuransi
  • 30% biaya hidup
  • 30% cicilan
  • 15% investasi
  • 10% gaya hidup
Dari aktivitas ini, pos pengeluaran gaya hidup tetap dimasukkan (kita kan perlu refresing dan kongkow-kongkow yaa) Cuma itu dia, persentasenya jangan terlalu besar. Selain itu bagi mereka yang memiliki cicilan, pastikan total cicilan tidak melebihi 30% dari total penghasilan. Jadi, kalau mau nambah cicilan jangan lupa dihitung dulu. Kalau lebih? Sebaiknya tunggu sampai cicilan lainnya selesai baru mengambil cicilan baru.


3. Raih mimpimu!


Setiap keluarga pasti punya impiannya masing-masing. Ada yang ingin jalan-jalan ke luar negeri, ada yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, dan ada juga yang ingin menunaikan ibadah Haji seperti keluarga aku. Dengan perencanaan keuangan yang tepat dan konsisten, insyaAllah kita semua bisa meraih mimpi lho.


Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk meraih mimpi. Pertama adalah tentukan tujuan misalnya naik haji, lalu buat perencanaan matang dan actionnya apa seperti harus berapa banyak menabung tiap bulannya atau ikut investasi tertentu. Ketika sudah membuat rencana, kita harus tetap fokus pada tujuan ya. Jangan mudah tergoda. InsyaAllah mimpi kita bisa terwujud. Aamiin!

4. Buat anggaran bulanan dan musiman


Langkah terakhir adalah membuat anggaran bulanan dan musiman. Anggaran bulanan adalah rencana keuangan berdasarkan penghasilan dan pengeluaran per bulan. Misalnya nih, gaji bulanan digunakan untuk membayar pengeluaran yang sifatnya bulanan juga seperti tagihan listrik, air, uang sekolah, dan lainnya. Sedangkan anggaran musiman adalah rencana keuangan yang dibuat berdasarkan penghasilan musiman seperti bonus dan THR untuk pengeluaran yang juga musiman seperti bayar pajak, jalan-jalan, dan juga berkurban.


Dari penjabaran ini aku mendapatkan tamparan keras. Selama ini aku dan mas suami selalu merasa bahwa kami tidak memiliki budget untuk berkurban meskipun satu kambing. Padahal nggak ada alasan untuk tidak bisa berkurban. Wong dananya ada kok, bisa ambil dari THR. Tapi ke mana uang THR itu pergi? Biasanya malah lenyap tak berbekas. Huhuhu. Mbak Prita bilang nggak apa-apa kok, insya Allah tahun depan anggaran musiman ini bisa dipraktekkan sehingga kami bisa berkurban. Aamiin.


Selain itu, sebagai jurus pamungkas membuat anggaran keuangan keluarga, mbak Prita menyampaikan bahwa ketika ada dana/uang yang kita terima langsung dibagi ke 3 rekening berbeda, yaitu:
  1. Biaya bulanan
  2. Dana darurat
  3. Tabungan dan investasi yang dibagi lagi menjadi 5% dana rumah, 10% dana pendidikan, dan 10% dana pensiun.

***

Itu dia 4 langkah mudah menyusun anggaran keuangan keluarga yang disampaikan mbak Prita Ghozie. Di akhir acara ada satu kutipan dari mbak Prita yang nyess banget di hati dan harus terus diingat, yaitu


So, nggak peduli berapa besar gaji kamu tapi kalau perencanaan keuangannya berantakan ya pasti habis dan bahkan merasa kurang terus. Terima kasih kepada Visa dan #IbuBerbagiBijak atas Financial Literacy Workshop yang sangat bermanfaat ini. Semoga lewat tulisan ini aku dan para ibu di Indonesia bisa terus belajar menyusun anggaran keuangan keluarga lebih bijak agar bisa mencapai kemerdekaan finansial.


Thanks for reading!

Share this Post Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This Share on Google Plus Share on Tumblr

6 comments:

  1. Want this, want that. Hihihi... Banyak godaan ya. Dengan membuat anggaran and stick to it, insyaAllah pengeluaran lebih terkendali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul mbak, kadang yang bikin keuangan berantakan itu ya kita sendiri karena nggak bisa nahan godaan..

      Delete
  2. makasih sharingnya lengkap sekali

    ReplyDelete
  3. So, nggak peduli berapa besar gaji kamu tapi kalau perencanaan keuangannya berantakan ya pasti habis dan bahkan merasa kurang terus. >> bener bgt nih, kudu banyak bebenah masalah manage keuangan keluarga

    ReplyDelete
  4. Prioritas, nah ini skala prioritas saya masih acak adul. Apalagi kalau denger ada buku-buku baru yang keren dan baru terbit. Bikin gelap mata :( . Emang harusnya saya udah mulai belajar bedain mana kebutuhan dan keinginan :(

    ReplyDelete
  5. Skala prioritas nih ya mba yang teringkali terabaikan begitu saja. KAdang bilang prioritas eh teryata hanya skala berdasarkan keinginan saja. Terima kasih sudah berbagi mba

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih banyak sudah membaca postingan ini. Jangan sungkan menuliskan komentar di bawah ini ya. Komentar, masukan, dan kritik kalian sangat berarti untuk aku. Oya, please jangan masukkan link hidup di komen ya. Semua komentar dengan link hidup akan langsung di-delete.

Have a nice day!


© Talkative Tya | Designed by . All rights reserved.